| Kamis, 14 Oktober 2004 | SEMARANG |
"Jadi Penulis Ra Sah Ndakik-ndakik"''MENJADI penulis harus berani menabrak-nabrak. Nek ora, tidak bakal menghasilkan tulisan bernas,'' ungkap Kepala Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Mohamad Sobary di hadapan peserta Pelatihan Penulisan Ilmiah Populer yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK), Senin (11/10). Sekitar 30 dosen PTS se-Jateng yang memenuhi ruang pertemuan Growth Centre cuma manggut-manggut. Mereka belum ngeh betul dengan yang disampaikan kolumnis kondang itu. Akan tetapi, cara Sobary yang jenaka membuat mereka terlarut dalam materi yang disampaikan cendekiawan asal Bantul itu. Baru setelah Sobary memaparkan kiatnya menembus media-media besar di Indonesia, anggukan pertanda paham semakin jelas pada para peserta. Semakin jelas lagi, manakala lulusan Monash University Australia itu membacakan tiga kolomnya. Ya, jauh sebelum diangkat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi kepala kantor berita, Sobary lebih dulu dikenal lewat tulisannya yang bernas dan gampang dicerna. Menurut pendapat dia, untuk menjadi penulis bagus, tak perlu bergaya dengan istilah asing yang terlampau mengharu biru tulisan. Bisa-bisa, ujar Sobary, orang malah menjadi pusing jika membaca tulisan yang disesaki istilah-istilah yang tak familier di mata pembaca. ''Ra sah ndakik-ndakik. Banyak juga lo, dosen yang kalau menulis mbulet menggunakan istilah aneh-aneh. Seolah-olah kalau tidak menyukarkan orang, khawatir tak dianggap sebagai dosen yang pinter,'' sindirnya. Akan tetapi, bukan berarti tulisan yang ringan lantas kehilangan isinya. Justru sebaliknya, tulisan-tulisan ringan dan enak dibaca bisa menjadi sarana untuk menyampaikan ilmu pengetahuan secara lebih tepat. Dia mencontohkan novel Doktor Zhivago karya Boris Pasternak yang oleh banyak cendekiawan disebut karya sosiologis yang ilmiah. Begitu pun tulisan-tulisan Soedjatmoko atau Emha Ainun Nadjib. Ilmu dan Seni ''Bagi seorang ahli sosiologi antropologi misalnya, merupakan sebuah tantangan untuk memadukan ilmu dan seni. Bagaimana bisa membuat poetically crafted sciences? Bagaimana agar pengetahuan tersampaikan dalam bentuk yang ringan?'' tutur dia. Ya, Mohamad Sobary memang masih seorang kolumnis yang menghasilkan tulisan ''lezat''. Kendati secara kuantitatif sedikit mengalami penurunan, tulisan dia masih rajin wira-wiri di pelbagai media massa. Mau bukti? Tiga tulisan kolom yang dibacakannya sebagai ''pertanggungjawaban ilmiah'' atas kiat menulis yang dia sampaikan dapat memukau para peserta. Selain Sobary, STIK mengundang sejumlah praktisi dan akademisi untuk memberikan materi dalam pelatihan, yang digelar empat hari hingga Kamis (14/10) tersebut, antara lain Ketua STIK Drs Gunawan Witjaksana MSi, Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Provinsi Jateng Drs Srimoyo Tamtomo SH MM, kolumnis ''Gayeng Semarang'' Prof Dr Abu Suud, penulis asal Undip Drs Yudiono KS, serta pakar bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Rustono MHum. Dari kalangan praktisi dihadirkan Dra Hj Sri Humaini AS dan Drs Muhammad Ali (Suara Merdeka) dan beberapa pengelola media cetak lain di Semarang. (Achiar M Permana-73j) |