logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 SEMARANG
Line

Pasar Ayam Bangkok Jl Kepodang

Sedia Kuthukan sampai Alusan

TAK bisa dimungkiri, daya tarik utama Kota Lama Semarang adalah bangunan kunonya yang memiliki nilai arsitektur tinggi. Antara lain, Gereja Protestan Immanuel (Gereja Blenduk), bekas toko perhiasan NV Goud en Zilversmederij voorheen FM Ohlenroth & Co, Hotel Jansen, Kantor Oei Tiong Ham Concern, dan bekas kantor Stoomvaart Maatscappij Netherland.

Namun sesungguhnya masih ada hal lain yang juga menarik, selain gedung-gedung kokoh berumur ratusan tahun itu. Sesekali, susurilah gang demi gang sempit yang terdapat di dalamnya. Niscaya akan Anda temukan eksotisme lain pada bekas benteng ''de Fijfhoek'' itu. Beragam aktivitas para penghuni bisa Anda jumpai, satu di antaranya kegiatan jual beli ayam bangkok.

Puluhan pedagang ayam ras asal Negeri Siam itu berkumpul di sekitar Jalan Kepodang. Mereka menggelar dagangan ala kadarnya di tepi jalan yang dulu bernama Hoogendorp straat itu. Disebut ala kadarnya karena ayam-ayam yang mereka perdagangkan hanya ditempatkan dalam kurungan bambu atau kisau (anyaman pelepah kelapa atau rotan untuk menjinjing ayam-Red).

Meski sempit dan berkesan kumuh, kawasan itu tak pernah lengang. Setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 banyak peminat ayam bangkok yang menyambanginya. Ada yang benar-benar membeli atau sekadar iseng melihat arena adu jago yang acap digelar di sana.

Lantas bagaimana awalnya pasar ayam bangkok itu menempati Jl Kepodang? Sumarlan (53), salah seorang pedagang mengisahkan, pasar ayam itu merupakan ''terminal'' terakhir bagi para pedagang setelah beberapa kali berpindah tempat.

Dahulu, pada saat Aloon-aloon Semarang masih ada, para pedagang ayam, baik ras maupun kampung, menempati dasaran di depan gedung bioskop Orion (kemudian menjadi bioskop Rahayu-Red).

Sewaktu bangunan Pasar Johar diresmikan, mereka ditempatkan di sebuah los bagian atas pasar tersebut. Beberapa lama kemudian, para pengunjung mengeluhkan bau tak sedap yang ditimbulkan oleh ayam-ayam itu. Pemerintah Kota (Pemkot) saat itu memindahkan pedagang ayam ke Jl Sendowo bersama pedagang burung dan ikan asin.

Belum lama menempati ruas jalan itu, mereka kembali tergusur. Kali ini akibat pembangunan stanplaat angkutan kota dan bemo. Para pedagang ayam dilokalisasi di Pasar Kobong. Namun ternyata, lokasi baru tersebut tak sepenuhnya mampu menampung mereka. Para pedagang ayam bangkok tak kebagian tempat. Mereka akhirnya memutuskan kembali ke Kota Lama dan menempati Jl Kepodang hingga sekarang.

Sumarlan mampu bercerita banyak tentang itu karena dia sedari kecil menyertai bapaknya, Suryono, yang juga berdagang ayam. Kesenangannya itu berlanjut hingga dia turut menerjuni jual beli ayam bangkok seperti sang Bapak. ''Saya senang bermain-main dengan ayam. Pulang dari sekolah, saya langsung pergi ke kios Bapak.''

Kelas Berbeda

Selain dari peternak di Semarang, ayam-ayam bangkok yang dijual di Jl Kepodang diambil dari beberapa pasar hewan di kota-kota lain seperti Ambarawa, Weleri, Magelang, dan Yogyakarta. Para pedagang menyediakan ayam bangkok dari tingkatan umur dan kelas yang berbeda.

Tentu saja, perbedaan itu berkait dengan harga jual. Harga kuthukan (anak ayam) berkisar Rp 7.500-10.000, dere (ayam umur sekitar 4 bulan) Rp 17.500, lancur (jago muda) Rp 30.000-Rp 35.000, sedangkan ayam bangkok alusan (sudah jadi), baik jago maupun babon harganya tak terbatas.

''Kalau sudah 'jadi', harga ayam bangkok bisa mencapai jutaan. Saya pernah jual Rp 5 juta,'' aku Sumarlan.

Ciri ayam jago bangkok yang bagus, punya ndhas-ndhasan (kepala) njeruk purut, awak-awakan (badan) panjang, cekelan (pegangan) ambles, supit (pantat) rapet, suku (kaki) mblimbing untuk ayam bangkok ternak, dan biasa untuk jenis aduan.

Adapun jalu atau tajinya harus landhep, dan cakar-nya njeber. Sementara itu ayam babon yang ideal untuk pranakan, ndhas-ndhasan-nya nggempelo, awak-awakan-nya panjang, dan suku-nya mblimbing.

Para pembeli tak hanya berasal dari Semarang, tetapi juga dari kota-kota lain di Jawa Tengah, bahkan luar Jawa.

''Sering ada penumpang kapal dari Kalimantan yang mendarat mampir ke sini.''

Selain jual beli, para pedagang ternyata juga menyewakan ayam-ayam dagangan mereka sebagai lawan tanding ayam aduan. Sekali kalangan, penyewa harus membayar Rp 25.000-30.000.

''Tapi kalau sampai mati, penyewa harus mengganti sesuai dengan harga ayam yang disewa itu,'' ujarnya. (Rukardi-84n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA