logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 SEMARANG
Line

Warga Petambak Resah

Bandara Diuruk, Kali Jumbleng Menyempit

SEMARANG - Petani tambak di Tugurejo, tepatnya di sisi barat Kali Jumleng, resah. Sungai itu belakangan menyempit dan makin dangkal sehingga air laut tak bisa mengalir masuk. Akibatnya, tambak-tambak warga di lokasi itu kekurangan air.

Aziz, warga Tambakharjo yang menjadi petambak di lokasi tersebut menuturkan, dalam rangka perpanjangan landasan pacu Bandara A Yani, Kali Silandak diluruskan ke barat laut melintasi Kali Jumbleng. Namun, rencana itu kemudian berubah. Kali Silandak dari timur, sebelum sampai ke Kali Jumbleng sudah dibelokkan ke utara.

Lahan di sisi timur Kali Jumbleng juga diuruk menjadi tanggul Kali Silandak. Masalah muncul karena sebagian tanah uruk itu melorot masuk ke Kali Jumbleng. Saluran yang lebarnya hanya sekitar lima meter itu pun menyempit dan mengalami pendangkalan di berbagai bagian.

Selain itu agar alat berat bisa masuk ke lokasi pembangunan, beberapa ratus meter dari muara Kali Jumbleng juga diuruk. Di bawahnya memang sudah diberi gorong-gorong, namun diameternya hanya sekitar setengah meter.

Aziz dan beberapa petambak lain mengemukakan, akibat semua itu air laut tidak lagi masuk ke Kali Jumbleng dan tambak-tambak warga mengalami kekurangan air dan beragam jenis ikan di dalamnya mati.

''Kerugian kami bisa sampai Rp 50 juta per tambak,'' tutur dia. Dia pun mengemukakan, jumlah petambak yang menjadi korban banyak, antara lain Asrori, H Pandol, Ahmadi, Harto, Tasleman, Basari, Bajuri, Bachrun, Kamil, Yasir, Kumaidi, H Sakur, Aziz, H Maskan, Ridwan, Musa, Badri, H Arifin, dan H Syakur. Mereka rata-rata penyewa atau pemilik tambak 1,5 - 4,5 hektare. Para petambak berharap pemerintah mengembalikan lagi kondisi sungai itu sehingga aliran air laut tetap bisa masuk ke lahan mereka.

Dia juga telah menerima informasi, muara Kali Silandak akan disatukan dengan Kali Jumbleng. Untuk itu dia mengusulkan, sebaiknya Kali Jumbleng dilebarkan sekalian agar kapasitasnya bertambah. ''Kami mendukung pembangunan bandara tapi nasib para petambak juga harus diperhatikan,'' tegas dia.

Harus Dikeruk

Secara terpisah, pakar hidrologi Undip Dr Ir Robert Johanes Kodoatie MEng mengatakan, dirinya menjadi nara sumber dalam upaya mendesain Kali Silandak. Dalam desain itu, Kali Jumbleng yang lebarnya hanya sekitar lima meter itu mestinya tidak boleh terpengaruh.

''Bila sekarang ternyata berdampak pada penyempitan Kali Jumbleng maka saluran itu harus dikeruk lagi,'' ujar dia.

Dia menuturkan, rencana awalnya Kali Silandak diluruskan ke barat laut melintasi Kali Jumbleng. Untuk keperluan itu sudah dilakukan studi analisis mengenai dampak lingkungan. Akan tetapi karena dana dari Pemerintah Pusat ternyata belum turun, untuk sementara rencana itu ditunda. Sebelum sampai ke Kali Jumbleng, Kali Silandak sudah dibelokkan ke utara.

Sementara itu, Kasubdin Program Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Ir M Ghosi Dipl HE saat diminta komentar menyatakan sependapat dengan Robert. Pengerukan itu bisa menggunakan alat-alat berat di lokasi. ''Saya akan membantu menyampaikan kepada pelaksana proyek agar mengeruk Kali Jumbleng,'' kata dia. (G6-64j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA