logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 BUDAYA
Line

Mini Album Chocolate Dream Berry

''Kami Bukan Bayang-bayang Mocca''

''SEBUT saja musik kami pop minimalis,'' ujar Charles, gitaris grup band indie Chocolate Dream Berry (CDB), saat ditanya corak musik yang mereka mainkan. Meski demikian, dia tak banyak menjabar tentang corak musik tersebut. Charles hanya mengatakan aransemen musik CDB cukup sederhana.

Ya, lagu-lagu CDB memang cenderung simpel. Mereka memainkan ramuan pop-jaz ringan, namun demikian bukan berarti tanpa kekuatan. Ada warna baru yang mereka tawarkan, setidak-tidaknya kepada publik musik Semarang.

Memang, banyak yang mengatakan musik CDB hampir mirip dengan Mocca maupun Ten 2 Five. Namun jika itu dilontarkan kepada Charles atau para personel CDB lainnya: Ella (vokal), Pedi (gitar), Rio (bas), dan Robert (drum), tentu mereka akan menggelengkan kepala.

''Kami memang lahir setelah Mocca dan Ten 2 Five. Tapi bukan berarti kami mengekor musik yang mereka mainkan. CDB tetaplah CDB yang punya karakter berbeda dengan kedua grup band itu. Kami bukan bayang-bayang Mocca atau Ten 2 Five,'' ujar Charles.

Mocca cenderung memainkan musik dengan sentuhan gaya enampuluhan, melalui piranti-piranti musik seperti bas betot (kontrabas) dan sebagainya. CDB, imbuh Charles, tidak melakukan itu.

Ya, di tengah prasangka yang menghunjam itu, CDB memberanikan diri meluncurkan album perdana bertajuk Chocolate Dream Berry dalam acara syukuran sederhana di markas mereka, Jl Teuku Umar No 6 Semarang, Minggu (10/10) malam.

Format CD

Album yang diformat dalam bentuk CD itu berisi lima buah lagu, yakni: ''Pacar-pacarku'', ''Mellowtrone'', ''December Story'', ''Jangan Menagis Ah'', dan ''Mellowtrone''.

Album itu benar-benar dibuat dengan semangat indie. Bermodal seperangkat komputer pribadi, copy CD album tersebut mereka produksi sendiri Begitupun untuk mengedarkannya, CDB memilih jalur distro.

Lagu-lagu tersebut sebagian sudah akrab di telinga pamiarsa radio di Semarang, Yogyakarta, serta beberapa kota besar lain di Indonesia. ''Kami menawarkan lagu-lagu ini ke radio-radio. Ternyata tanggapannya positif, banyak pendengar yang request. Akhirnya kami putuskan meluncurkannya dalam bentuk mini album,'' ujar Vonny, manajer CDB.

Jika dihitung mundur, peluncuran album itu hanya berselang setahun sejak CDB berdiri, proses yang cepat bagi proses sebuah band rekaman. Mereka membentuk band itu Agustus 2003. Namun demikian, bukan berarti mereka ''anak-anak kemarin sore'' yang baru bermain musik satu dua tahun.

''Sebagai band lokal, kami ingin ''go national''. Kami yakin, jalan itu terbentang lebar ke depan. Untuk target, kami usahakan tahun depan telah bernaung ke major label,'' tandas Vonny. (Rukardi-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA