logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 BANYUMAS
Line

Musim Sadran, Puluhan Warga Jualan Kembang

TIDAK seperti biasanya, dalam beberapa hari ini sepanjang trotoar Sawangan di Jl Letjen Sutoyo Purwokerto dipadati oleh pedagang (bakul) kembang. Mereka duduk berjejer secara rapi menunggu para pembeli kembang untuk keperluan nyekar sadranan. Saat pembeli datang, mereka berebut menarik simpati agar bersedia membeli dagangannya. Kadang-kadang mereka juga mengerubuti pembeli. Meski bersaing, mereka tetap saja kompak tidak saling bermusuhan.

Tradisi mengais rezeki dari para penjualan kembang tersebut juga menguntungkan bagi masyarakat yang kesulitan mencari kembang. Daerah Sawangan kini dikenal sebagai pusat penjualan kembang untuk keperluan ziarah kubur.

Mereka yang berjualan di lokasi itu pada saat seperti ini mencapai puluhan orang. Mereka datang dari desa-desa di sekitar Kota Purwokerto. Padahal pada hari-hari biasa paling banyak sekitar enam sampai sepuluh orang bakul.

Membeludaknya penjual itu sudah terlihat sejak Minggu lalu dan diperkirakan akan bertambah lagi pada hari ini. Sebab, hari ini merupakan hari terakhir musim sadranan menjelang Ramadan.

Ny Rasiwen (66), salah satu penjual kembang asal Desa Karanggude, Karanglewas menuturkan, saat musim sadranan seperti ini dia harus menambah modal untuk membeli bahan. Rata-rata modal yang dikeluarkan setiap pedagang itu Rp 100.000 - Rp 200.000. Kembang itu, katanya, kebanyakan didatangkan dari Ambarawa. Namun mereka membeli di pedagang grosir Pasar Wage. ''Pada hari-hari biasa bisa menghabiskan modal Rp 30.000 saja sudah bersyukur,'' ujarnya.

Mudah Habis

Namun pada saat seperti ini, kata perempuan yang berjualan sejak tahun 1973 di lokasi itu, barang dagangan mudah habis. Bahkan kadang-kadang stoknya juga kekurangan. Kebanyakan yang dicari pembeli adalah kembang telon, yaitu mawar warna putih dan merah serta kenanga. Selain itu juga ada yang minta dilengkapi dengan rajangan pandan dan kantil.

''Satu bungkus kita jual Rp 1.000, tapi juga ada yang kita jual Rp 600 bergantung pada kualitas kembangnya,'' tambah Ny Warni (45), pedagang asal desa Jipang, Karanglewas.

Pembelinya juga tidak hanya warga Purwokerto. Mereka yang mudik untuk nyadran dan ziarah ke makan keluarga juga banyak membeli di lokasi itu. ''Yang beli juga ada dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Mereka biasanya membeli borongan. Satu tampah isi 100 kembang kita jual Rp 150.000 - Rp 200.000,'' ujar Ny Suharni (51). Dia mengaku jualan hanya saat-saat musim sadran saja. (Agus Wahyudi-20n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA