logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 SALA
Line

Tradisi Ritual Nyekar di Akhir Bulan Ruwah

AWAL Ramadan diperkirakan jatuh pada Jumat (15/11) mendatang. Itu artinya, bulan Ruwah (Sya'ban) tinggal tersisa beberapa hari lagi.

Dalam masyarakat Jawa, berkembang tradisi ritual nyekar (mengirim doa sembari menabur kembang) ke makam leluhur, yang biasanya dilakukan pada akhir Ruwah. Suasana itu ditandai dengan larisnya penjual bunga tabur, dan ramainya ziarah ke kuburan.

Dalam buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000), nyekar diartikan sebagai ritual mengirim bunga ''pamulen'' kepada leluhur atau orang-orang di alam baka, sebagai suatu penghormatan. Tradisi itu sering disebutkan sebagai ritual ngirim luwur, dan telah membudaya di masyarakat Jawa dan sebagian besar bangsa Indonesia.

Pemilihan nyekar waktu di akhir Ruwah, yang biasanya dilakukan di akhir Sya'ban, telah menjadi tradisi. Karena itu, kata Kabag Humas Pemkab Wonogiri, Eko Muslich Martono SE MM, Pemkab Wonogiri sebagaimana pada kebiasan di tahun-tahun lampau, memberlakukan pemberian izin liburan cuti Ruwahan kepada para pegawainya secara bergiliran.

''Setiap pegawai diberikan hak cuti liburan ruwahan selama dua hari,'' kata Kasubag Pemberitaan Humas Pemkab, Drs Mulyanto.

Pemberian hak cuti libur ruwahan kepada pegawai, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi mereka guna melakukan tradisi ritual nyekar ke makam para leluhurnya.

Karena banyaknya orang yang nyekar, biasanya ikut ditandai dengan melonjaknya harga bunga "pamulen" (setaman). ''Harga bunga tidak naik, tapi ganti harga,'' keluh pembeli bunga tabur di pasar Wonogiri Kota.

''Pripun mboten larang, lha wong saking bakule kembang sing nyetori mriki sami nyuwun regine mindhak (Bagaimana tidak mahal, lha wong dari pedagang bunga yang memasok ke sini juga minta harganya naik),'' jelas seorang penjual, Mbah Harto di Pasar Induk Kota Wonogiri.

Mengirim Doa

Keberadaan bunga dalam tradisi ritual nyekar, merupakan penyerta pada acara mengirim doa. Abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, RT Tondo Nagoro SE menyatakan, mengirim doa merupakan inti pokok dalam ritual itu.

Keberadaan bunga, hanya merupakan sesaji penyerta, karena dipandang mengandung aroma wangi dan baik dipakai untuk pelengkap pemanjatan doa.

Inti doa nyekar, yakni memohonkan ampunan bagi roh arwah para leluhur yang mendahului seda (mati) sebagai jalan kalepasan untuk dapat mulih mula mulanira marang kasedan jati (kembali ke asalnya menuju sejatinya jalan kematian).

Dalam tradisi masyarakat Jawa, nyekar selain dilakukan di akhir Ruwah, juga ada yang melakukannya dalam Ramadan setelah tanggal 21 ke atas. Kecuali itu, ada pula yang memilih nyekar pada Riyayan, yakni tepat di saat hari H Riyadi (hari yang dianggap adi/baik) pada tanggal satu Syawal, bersamaan dengan perayaan Idul Fitri.

Di luar itu, tradisi nyekar juga dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa ketika menjelang perhelatan mantu (menikahkan anak) dan kitanan atau supitan. Atau ketika akan memulai pekerjaan besar, seperti akan membangun dan memugar rumah, sebelum memasuki pernikahan, menjelang maju ujian, serta pendadaran atau testing.

Juga selagi seseorang dililit kesulitan hidup, atau ketika usai melakukan pekerjaan besar, misalnya selepas melakukan purnapugar rumah, pindahan tempat tinggal, dan menjelang peringatan hari jadi. (Bambang Pur-20a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA