logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 SALA
Line

Berpuasa Tidak Harus Hentikan Olahraga

BERPUASA tidak harus menghentikan olahraga. Menahan lapar dan dahaga tidak harus menghentikan olah tubuh. ''Hanya porsinya dikurangi dan sebaiknya kegiatan olahraga dilakukan menjelang buka puasa,'' kata Sarjana Kepelatihan Drs Sukisno, kemarin.

Alumnus UNS itu cukup dikenal di wilayah Surakarta khususnya dalam olahraga tenis. Di Kota Salatiga bapak satu anak itu mendirikan padepokan jiwa raga yang beralamat di Telaga Mukti II Jalan Jaka Tingkir Telp (0298) 311353. Sehari-hari dia guru olahraga SMK Saraswati dan Dosen Luar Biasa STAIN, Salatiga. Bagaimana pandangannya tentang aktivitas olahraga saat berpuasa, berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Sukisno yang ditemui saat bermain tenis di Boyolali.

Bagaimana pendapat Anda tentang aktivitas olahraga pada saat berpuasa?

Baik sekali dan harus dilakukan. Lebih-lebih bagi olahragawan jangan sampai berhenti sama sekali. Hobi olahraga jangan ditinggalkan agar peredaran darah tetap lancar dan badan tetap sehat.

Bagaimana sebaiknya olahraga saat menahan lapar dan dahaga?

Tinggal jenis olahraga yang dilakukan. Kalau untuk permainan tenis cukup satu kali atau satu set saja. Itu pun dilakukan menjelang buka puasa. Yang harus diperhatikan, saat bermain jangan terlalu bersemangat dan mengejar kemenangan.

Bagaimana permainan bulu tangkis dan sepak bola saat berpuasa?

Semua jenis olahraga apa pun baik. Sebab muaranya untuk kesehatan. Bila tidak bisa meninggalkan bulu tangkis selama puasa, bermainlah secukupnya. Misalnya, satu set atau setengah set. Itu pun jangan terlalu bersemangat dan mengejar kemenangan. Bila terasa haus segera dihentikan. Jangan dipaksakan dan ingin bermain lagi. Ini akan berbahaya akibat kekurangan cairan. Selain itu juga tidak baik untuk kondisi tubuh saat berbuka puasa.

Bagaimana dampaknya bila selama puasa kegiatan olahraga dihentikan?

Bagi olahragawanan akan terasa nyeri dan tidak anak badan. Saya yakin olahragawan tidak akan menghentikan sama sekali kegiatan olahraga. Mereka sudah bisa mengatur porsinya.

Bagaimana kalau malam hari ?

Itu lebih bagus. Namun sekali lagi harus secukupnya. Sebab pagi hari masih harus makan sahur. Bila terlalu capek dampaknya kondisi tubuh akan loyo pada siang hari.

Bermain tenis terkadang membawa korban meninggal mendadak. Bagaimana pendapat Anda ?

Yang pasti, sebelumnya korban mempunyai penyakit yang jarang dikontrol. Selain itu saat bermain bernafsu ingin menang dan merasa malu kalau kalah. Inilah yang mempercepat penyakit itu kambuh. Bila badan sehat bermain tenis akan semakin sehat.

Mengapa memilih nama jiwa raga untuk nama padepokan Anda?

Saya lebih memilih dan mengedepankan jiwa. Sebab dengan menguasi jiwa, seseorang akan mudah dikendalikan oleh kedisplinan, kecerdasaan, dan lain-lain. Alumni padepokan saya mencapai ribuan orang. Sebagian termasuk SMA Taruna, Magelang. (Suti Harjoyo-20i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA