| Selasa, 12 Oktober 2004 | SALA |
Harus Ada yang Hafal SesajiKERATON SURAKARTA - SISKS Paku Buwono XII selain meninggalkan bangunan fisik kompleks keraton dan petilasan lain di dalam dan luar Kota Solo, ternyata juga meninggalkan aset berharga yang bersifat fisik dan nonfisik. Bukan saja yang bersifat dokumentatif semacam kepustakaan dan barang-barang seni berharga di museum, melainkan juga ilmu di benak setiap insan yang ditinggalkan almarhum Sinuhun Amardika itu. Kalau Dra GRAy Koes Moertiyah dan GK Ratu Galuh Kencana banyak menguasai pengetahuan tentang beksan atau repertoar tari, GPH Puger memiliki banyak referensi tentang pawukon atau perhitungan menurut kalender Jawa. Satu lagi putri dalem yang memiliki pengetahuan cukup mengenai aset nonfisik keraton, adalah GRAy Koes Sapardiyah (51) yang ahli soal sesaji. Adik seibu KGPH Hadiprabowo, Pengageng Putra Sentana yang ikut menentang bertakhtanya Gusti Behi sebagai Sinuhun Paku Buwono XIII itu, ternyata juga menjadi aset berharga penerus dinasti Mataram di Keraton Surakarta Hadiningrat ke depan. Beruntung Sekalipun dalam dokumen kepustakaan bisa saja masih tersimpan catatan tentang itu, putri dalem almarhum yang akrab disapa Gusti Diyah ini merasa beruntung memiliki pengetahuan langka itu. Referensinya cukup lengkap tentang keragaman sesaji untuk segala keperluan ritual yang selama ini berjalan di keraton. Dia mengetahui di mana saja tempat di lingkup kawasan keraton yang perlu diberi sesaji. "Semula saya merasakan itu hanya kebiasaan, tetapi lama-lama menjadi pengetahuan berharga. Saya beruntung sekali mempunyai pengetahuan langka itu. Ini harus saya tularkan kepada orang lain agar tata cara yang selalu menyertai ritual di keraton itu terus eksis," tegas Gusti Diyah ketika mendampingi GK Ratu Galuh Kencana saat ritual jamasan Kyai Pamor, Jumat siang pekan lalu. Putri ketiga almarhumah KRAy Rogasmara, satu di antara enam garwa ampil almarhum Sinuhun Paku Buwono XII itu, menyatakan dirinya terbiasa mempersiapkan sesaji dan caos dahar sejak berusia 18 tahun. Dia bahkan tahu persis urut-urutan doa untuk berbagai ritual yang selama ini dilaksanakan keraton, khususnya tentang bacaan ayat-ayat suci untuk doa itu. Selain tempat-tempat sesaji, jenis sesajinya pun harus dihafalkan oleh para abdi dalem yang bertugas di bidang itu. Karena itu dirinya juga sangat hafal kegunaan kembang setaman, kembang telon, sesaji pepak alit, pepak ageng, keblat papat lima pancer, jenang panca warna, pitung warna dan sebagainya. "Seandainya para abdi dalem silih berganti karena faktor usia, toh saya bisa ikut menyiapkan generasi penerusnya. Tak terkecuali untuk anak-anak dan keponakan saya," jelasnya lagi. (won-17i) |