logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 SALA
Line

Kandang Kiai Slamet Segera Dibangun

ALUN-ALUN KIDUL - Kandang untuk sembilan ekor kerbau bule kelangenan dalem Keraton Surakarta yang sering disebut Kiai Slamet, harus segera terwujud bersamaan dengan renovasi Sitinggil Kidul yang masih dalam proses lanjutan revitalisasi Keraton tahap II dan III.

Sebab, keberadaannya di dalam pagar Sitinggil kurang memenuhi syarat kenyamanan. Bila masalah itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan semakin membuat tempat bermukim kesembilan kerbau bule itu bertambah buruk.

"Di satu sisi, tempat bermukim kyai perlu disesuaikan agar mendekati suasana nyata habitatnya, atau dalam ukuran nyaman bagi mereka (Kyai Slamet). Tetapi sebaliknya, kalau kompleks Sitinggil Kidul diupayakan menjadi tempat yang nyaman bagi mereka, jelas itu merusak sisi artistik dan kesejarahannya," tegas KP Edy Wirabhumi selaku koordinator teknis revitalisasi Keraton, ketika dimintai konfirmasi Suara Merdeka soal renovasi Sitinggil Kidul, kemarin.

Dikatakan, keberadaan kawanan kerbau keturunan -sedikitnya generasi ketujuh sejak Keraton pindah dari Kartasura ke Surakarta- di dalam pagar Sitinggil itu, hanya bersifat sementara menunggu kandang permanen.

Karena, kandang lama di Jalan Veteran, Gading, sudah "dijarah" untuk permukiman warga sejak 15 tahun silam.

Setelah tak memiliki kandang, kerbau yang biasa berkelana ke sejumlah tempat jauh -di antaranya kawasan Mojo dan Padokan, Mojolaban, Sukoharjo- itu, bila kembali ke Keraton hanya berkeliaran di Alun-alun Kidul atau Alkid.

Terakhir, kurang lebih lima tahun lalu, kerbau yang menjadi cucuk lampah setiap prosesi kirab pusaka malam 1 Syura itu sering dikurung di dalam pagar Sitinggil, karena dulu dianggap "mengganggu" para penjemur kain batik printing.

"Ya, itulah, agar mendapatkan sedikit kenyamanan, terpaksa kami kurung di Sitinggil. Daripada setiap saat disakiti oleh para pekerja penjemur kain dan mangkal di sana. Kasihan kan. Lha wong di tempatnya sendiri kok dikon ngalih (dihalau-Red)," papar pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu.

Bersamaan dengan revitalisasi Alkid, lanjutnya, sudah direncanakan tata ruang di tempat tersebut termasuk pembangunan fasilitas kandang kawanan satwa pusaka Keraton itu.

Namun, pelaksanaannya harus berbarengan dengan Sitinggil, karena dalam perencanaan renovasi tahap II bantuan dari Depkimpraswil pusat senilai Rp 1,7 M baru bisa menjangkau Sitinggil, dan tidak termasuk kandang.

Padahal, katanya, pembangunan Sitinggil harus berbarengan dengan beberapa komponen lain yang selama dititipkan. Yaitu kawanan kerbau Kyai Slamet, dan dua gerbong kereta api yang dulu dipakai untuk perjalanan wisata dan mengangkut jenazah SISKS Paku Buwono X.

"Begitu Sitinggil dibenahi, jelas tidak mungkin untuk kandang gerbong dan kerbau. Harus bersamaan dengan pembangunan kandang gerbong dan kerbau. Yang sedang kami pikirkan adalah cara mencari tambahan biayanya, karena ketiganya harus bersamaan," jelas suami GRAy Koes Moertiyah itu.

Kandang untuk dua gerbong dan kerbau bule, direncanakan berada di ujung barat daya Alkid, yang menjadi pendukung objek wisata Keraton bagian selatan.

Karena tidak lama lagi, dengan pembangunan sarana objek wisata secara terpadu dan lengkap fasilitasnya, kemudian dilanjutkan akses masuk sistem satu pintu, akan menempatkan Alkid sebagai bagian terpenting.

"Kandang kerbau luasnya lebih 200 meter persegi, serta kandang gerbong di lokasi itu menjadi bagian dari pembangunan fasilitas pariwisata. Tahap awal, untuk fasilitas parkir kendaraan pengunjung. Tahap berikut, pembangunan sarana pendukung untuk perdagangan cinderamata seni kerajinan khas yang tidak permanen," ujarnya.(won-92a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA