| Selasa, 12 Oktober 2004 | SALA |
Pengangguran Jadi Pekerja SeniKETERAMPILAN seni itu mudah diajarkan, tetapi sempit lapangan kerjanya. Itu berbeda dari keterampilan seperti otomotif dan komputer yang luas lapangan kerjanya. Namun, meskipun bursa kerja di bidang kesenian itu masih terbatas, bukan berarti bidang seni tidak bisa dikembangkan sebagai lapangan kerja. Sebab justru kesenian mampu menciptakan kemandirian dalam dunia usaha. Berangkat dari kondisi seperti itu, Lembaga Pendidikan Terpadu Masyarakat (LPTM) Dharma Perkasa melirik bidang kesenian sebagai lapangan kerja bagi para pengangguran. Lembaga yang berkantor di kawasan Pendapa Joglo Taman Sriwedari itu, membuka program pendidikan seni tari, musik, dan peran. "Kami mencoba mengembangkan kesenian sebagai lapangan kerja. Mereka yang belum mempunyai keterampilan memadai, kami didik menjadi pekerja seni sehingga memenuhi kebutuhan lapangan kerja," kata Ketua LPTM, Darmadi SSn. Hal itu agaknya mendapat respons masyarakat. Atas kerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di setiap kelurahan, program itu diminati mereka yang belum memiliki keterampilan khusus. Sekitar 80 remaja yang berstatus pengangguran pun diseleksi untuk menerima pendidikan selama empat bulan. Agar menguasai keterampilan seni, seorang peserta didik cukup berbekal pendidikan formal setingkat SMA. Mereka menerima teori dan praktik yang diajarkan sesuai dengan jurusan mereka dipilih. Meski demikian, keterampilan seni tidak cukup itu. Selain berbekal ijazah formal, mereka dituntut persyaratan lain. "Kami tidak ingin apa yang kami ajarkan sia-sia seuasi pendidikan. Pendidikan ini tidak sekadar pengisi waktu. Kesungguhan, minat, dan dasar seni menjadi modal keberhasilan mereka dalam mengikuti pendidikan," ujarnya. Berapa biaya mengikuti pendidikan pekerja seni itu? "Kami tidak memungut bayaran kepada peserta didik. Pendidikan ini mendapat bantuan dana dari Ditjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional," kata pengelola Sanggar Seni Metta Budaya itu. Untuk menjadikan seseorang sebagai pekerja seni, lembaga itu juga menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga atau perusahaan yang bisa memberikan kesempatan kerja. "Kami mempunyai jaringan dengan pengusaha hiburan yang bisa memberikan tempat untuk berkarya. Namun tidak tertutup kemungkinan mereka pun bisa mandiri dengan membuat kelompok seni sendiri." Upaya LPTM itu, menurut pengamat seni, ST Wiyono SKar, merupakan terobosan untuk mencetak pekerja seni dalam waktu singkat. Upaya seperti itu kini masih jarang dilakukan lembaga pendidikan keterampilan. Yang menarik, dalam suatu seleksi penerimaan siswa, ujar dia, ada suatu kelompok musik yang anggotanya mendaftar bersama. Mereka ingin meningkatkan kemampuan musik di lembaga itu. Bahkan, ada seorang sarjana seni ikut mendaftarkan diri. "Saya kira ini satu terobosan untuk mengangkat bidang seni sebagai lapangan kerja, bukan sekadar sebagai media apresiasi. Dengan dasar kesungguhan dan minat, bisa jadi lembaga ini akan memunculkan pekerja seni yang andal," ujarnya. (Sri Wahjoedi-92i) |