| Selasa, 12 Oktober 2004 | WACANA |
SURAT PEMBACATanggapan Dinas Pariwisata KendalMenanggapi surat Sdr Aryo Widiyanto AMd JI Sri Agung 234 Cepiring Kendal di kolom Surat Pembaca 26-9-2004, kami selaku kepala Dinas Pariwisata Kendal. menyatakan bahwa untuk memoles kostum barongan /barangsay serta pembinaannya bukan wewenang dinas kami, melainkan wewenang Dinas P & K yang masuk pada Subdin Kebudayaan. Ka Dinas Pariwisata Kendal Drs Agus Rifa'i MPd *** Saya Kewirangan gara-gara Katering Peristiwa ini kualami 19 September lalu saat syukuran pernikahan anak dan ini merupakan gawe pertama bagiku. Waktu persiapannya singkat dan saya menyusun acara serta pesan katering pada Lini Katering Jl Patriot Raya H1 Semarang. Mereka sanggup tanggal 19 September pukul 08.00 untuk snack dalam dos dan makan siangnya paling lambat pukul 09.30, karena 10.00 acara dimulai. Rasa was-was mulai menghantui ketika pukul 08.00 snack belum datang. Padahal saudara dari Jogja telah datang 07.30, serta beberapa tamu lainnya. Snack datang 09.30 bersamaan dengan datangnya pengantin dari Magelang, sehingga rencana tamu datang diberi dos, gagal. Ketegangan memuncak ketika pukul 10.00 nasi belum juga datang. Sambutan yang sekadar menghaturkan terima kasih kepada tamu telah selesai, namun nasi belum juga datang. Untung solo organ sudah on sehingga dapat mengisi dan menghibur para tamu. Pukul 11.00 barulah yang saya tunggu-tunggu datang. Dengan gendadapan petugas katering menyiapkan makan siang. Sajian yang dingin karena tak sempat dipanasi dihidangkan dan disantap tamu. Dalam hati aku bertanya: ''Inikah katering profesional. Suasana menjadi semrawut karena ada tamu yang mau makan, pulang, baru datang dan lainnya. Semua rencana yang sudah tersusun lenyap karena panik bahkan foto bersama dengan banyak pihak termasuk saudara dan besan juga gagal. Rasa kecewa saya tak terhingga, diganti Rp 10 juta pun tak terobati. Saya merasa malu serasa ditelanjangi di depan warga dan teman. Namun pihak katering tidak merasa bersalah karena tidak meminta maaf. Remigius Soegino Muara Mas VI/ 108 Semarang *** Perubahan Dalam Pemilu 2004, rakyat untuk kali pertama diberi kesempatan memilih langsung presiden/wakil Presiden dan wakilnya di parlemen. Perubahan, menjadi tema sentral yang disambut sebagian rakyat yang mendambakan ketertiban, keadilan, kesejahteraan dan keamanan yang merata. Saya mengharapkan perubahan meliputi: Pancasila, di samping sebagai ideologi bangsa dan negara, lebih dipertajam perannya sehingga menjadi pedoman hidup bersama. Hukum dijunjung tinggi demi tercapainya ketertiban dan keadilan yang menenteramkan. Departemen Agama lebih dipertajam fokusnya pada penghayatan agama/wahyu Illahi, sehingga dapat membawakan agama sebagai jalan hidup yang penuh kasih sayang. Dengan demikian tudingan agama menjadi sumber konflik dan berwajah sangar, adalah tidak benar. Pendidikan diberikan prioritas penanganannya untuk mengejar ketinggalan. Sedang personal yang duduk dalam Pemerintahan (kabinet) harus lepas dari pertimbangan SARA, benar-benar profesional, berintegritas tinggi dan Pancasilais. Pembangunan di luar Jawa lebih diprioritaskan demi pemerataan dan keadilan. Juga untuk menghindari kemacetan, mulai dipikirkan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Bogor. Sutopo, Jl KH Wahid Hasyim 37 Purwokerto *** Sniper Polwil Surakarta akan menerjunkan petugas sniper dalam rangka mengantisipasi serta mengatasi kejadian pelanggaran hukum termasuk kasus huru hara, demo dan lainnya. Sebagai warga masarakat saya terusik untuk memohon penjelasan, masukan dan harapan sebagai berikut: Snipersepengetahuan saya adalah penembak tersembunyi atau lebih lengkapnya penembak tepat dan pada posisi tersembunyi, berada di luar pasukan yang bersifat terbuka. Tugas dan targetnya adalah objek objek yang harus dilumpuhkan dengan target sasaran jelas , pasti dan akurat. Dalam hal menghadapi kasus kerusuhan, huru hara, unjuk rasa dan demo yang melibatkan sekumpulan orang bahkan bisa ratusan atau ribuan orang, timbul pertanyaan dan logika: objek atau target yang mana yang menjadi sasaran seorang sniper. Apakah.begitu mudah bagi Polri menentukan target sasaran tersebut . Saya khawatir justru hal tersebut mengandung nilai human error cukup tinggi yang pada akhirnya tidak mustahil akan menimbulkan kejadian tidak diinginkan bersama misalnya salah tembak. Rasa kekhawatiran saya ini bukan tanpa alasan serta bukan mengada-ada. Saya masih prihatin atas peristiwa kelabu di awal reformasi yang berakibat jatuhnya beberapa korban mahasiswa yang melakukan demonstrasi hingga meninggal diterjang peluru. Masalah tersebut hingga sekarang masih bernuansa sebagai peristiwa yang penuh kontroversi. Peristiwa tersebut juga bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan mengambil keuntungan di tengah hiruk pikuk dan ramai-ramainya kerumunan massa. Bila dalam Surat Pembaca ini ternyata terdapat kekeliruan pemikiran, mohon dikoreksi. Dr HAM Djoko Sutopo Kradenan Rt 3./Rw 5, Grobogan *** Jl Klipang Diukur Kapan Diperbaiki Sekitar pertengahan September 2004, petugas berseragam krem mengukur lebar jalan di sepanjang jalan raya Klipang, Sendangmulyo Semarang. Masyarakat sedikit terhibur, barangkali jalan akan segera diperbaiki karena 3 tahun terakhir ini jalannya rusak berat dan Pemkot nampaknya sudah kebal terhadap protes masyarakat. Tiba-tiba besok paginya ada petugas yang menambal jalan berlubang dengan aspal. Lucunya yang ditambal cuma pilih-pilih, meski yang diukur sepanjang jalan. Prasangka masyarakat, DPU (Bina Marga) akan mengajukan rencana perbaikan jalan tersebut ke Pemkot. Atau mungkin dananya sudah cair, tapi tidak sampai sasaran. Maklum saat Pemilu legislatif lalu, pernah ada perbaikan jalan tapi kok hanya untuk Blok Z dan W perumahan Klipang. Lucunya, masing-masing KK dipungut uang dan disetor kepada petugas. Di negeri ini sering terjadi, dana proyek cair tapi proyeknya justru tak jadi. Hal ini sesungguhnya harus menjadi perhatian masyarakat dan lembaga lain untuk terus memantau proyek Pemkot agar uang rakyat tidak lari ke kantong oknum pejabat saja. Apa yang kurang dari masyarakat kecil. Semua pajak sudah dibayar termasuk pajak penerangan jalan 9% yang dipungut Pemkot dan prosentase itu merupakan pajak yang paling tinggi di Indonesia. Cobalah pejabat kita jangan pakai aji mumpung. Pakailah nurani demi kemajuan masyarakat Semarang. Saiful Bahri Klipang Blok O-IV/5, Semarang *** Terima Kasih dari Penderita Kanker Saya mengucapkan terima kasih, banyak pembaca yang menanggapi Surat Pembaca saya 22 September 2004 tentang ''Janda beranak 3 terkena kanker''. Di antaranya dari keluarga alm Ng (SMA 1 Jekulo Kudus yang mengirim wesel Rp 300.000 untuk membantu kesembuhan Ibu Suwarni Kp Tenggang Tambakrejo RT 1/RW 8 Gayamsari Semarang. Terima kasih juga kepada dermawan yang lain, 5 dokter RS Dr Kariadi Semarang, Yayasan Sos ''Desa Taruna'' yang memberi bea siswa untuk anak-anaknya, Bapak/Ibu yang datang langsung membantu, Ibu Wied di Taman Sekarjagad memberi jamu, beras dan Indomie serta Bapak/Ibu yang mengirim lewat wesel. Y Eko Suprapti SAg Jl Menjangan Brt VI/6, Semarang |