logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Khitanan Massal Diikuti 2.163 Anak

  • Pecahkan Rekor Muri

MAKASSAR-Aksi sosial berupa khitanan massal yang digelar PT (Persero) PLN Sulawesi Selatan dan Tenggara di Makassar, Minggu, diikuti 2.163 anak dari keluarga kurang mampu. Jumlah itu jauh di atas target yang ditetapkan, yaitu 1.750 orang.

Jumlah peserta khitanan massal yang digelar untuk memeriahkan Hari Listrik Nasional (HLN) Ke-59, tanggal 27 Oktober 2004, itu berhasil memecahkan rekor kemanusiaan yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) yang dipegang perusahaan penerbangan Lion Air. Saat itu perusahaan penerbangan tersebut mengkhitankan 1.500 anak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, 3 Juli 2003.

Rekor baru ini tercatat di Muri pada urutan Ke-1.286. Piagam Muri diserahkan Direktur Muri, Paulus Pangka, kepada General Manajer PT (Persero) PLN Sulselra, Ir Rachmadi Danoe Atmadja, dengan disaksikan tim medis dan para pejabat PLN Sulselra, Minggu petang.

Khitanan massal di Makassar itu dikerjakan 100 dokter dan 30 paramedis, selama delapan jam, mulai pukul 07.30 Wita. Waktu tersebut lebih singkat dibandingkan dengan waktu yang digunakan Lion Air untuk mengkhitan 1.500 anak tahun lalu, yakni 8,5 jam.

Paulus Pangka menyebutkan, Muri telah empat kali mencatat rekor kemanusiaan di bidang khitanan massal. Rekor pertama dicetak oleh sebuah universitas di Malang yang mengkhitan 1.107 orang pada 1 Oktober 1997, kemudian dipecahkan Yayasan Amalilah Jakarta tanggal 13 Juli 1999 dengan mengkhitan 1.350 anak, selanjutnya oleh Lion Air dan PLN Sulselra.

Lebih Besar

Menurut Paulus, untuk memecahkan rekor khitanan ini, syarat utama yang harus dipenuhi adalah jumlah peserta yang lebih besar dengan perbedaan minimal 100 anak dibandingkan dengan pemegang rekor sebelumnya, serta waktu yang digunakan lebih singkat.

Pada Minggu ini, ungkap Paulus, Muri membukukan lima rekor baru di Indonesia. Empat rekor lainnya, selain yang dicetak oleh PLN di Makassar, adalah dansa berpasangan terbanyak (1.000 pasang) di Yogyakarta, Dedi Combusier yang mengendarai mobil sedan dengan mata tertutup sejauh tujuh kilometer di Jakarta, burung punglor sebagai burung yang paling lama teler di Surabaya serta PLN Cirebon yang menggelar jalan santai dengan peserta 5.000 orang sambil menuliskan kritikan pada PLN pada spanduk sepanjang satu kilometer.

General Manager PT (Persero) PLN Sulselra, Ir Rachmadi Danoe Atmadja, mengemukakan, tujuan utama aksi sosial ini untuk lebih mendekatkan PLN dengan masyarakat, karena selama ini ada jarak antara PLN dan masyarakat.

"Dengan hubungan yang lebih dekat itu, PLN akan lebih mudah mendengar aspirasi rakyat dan menerima kritik dan saran mereka. Sebab, kami mengakui, PLN masih banyak kekurangan," katanya.

Karena peserta khitanan pada umumnya adalah keluarga kurang mampu, PLN juga memberikan bingkisan berupa seperangkat alat shalat yang terdiri atas baju koko, sarung, dan kopiah serta uang transport Rp10.000/anak, dan menyertakan mereka dalam undian dengan hadiah total Rp21 juta.

Sebelum khitanan massal itu, ratusan karyawan dan keluarga besar PT PLN di Kota Makassar mengikuti jalan santai sepanjang tiga kilometer yang dilepas oleh Wakil Wali Kota Makassar Herry Iskandar. (ant-58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA