| Selasa, 12 Oktober 2004 | NASIONAL |
Road Show TTI ke Uni Eropa 2004 (2)CATAS, Camara, dan Selera Feria Valencia
DALAM perdagangan internasional, selain masalah delivery dan teknis perbankan, beberapa hal lain yang selalu mendapatkan perhatian adalah kualitas, jaringan, dan tentu saja terpenuhinya selera pasar. Masalah pengiriman dan teknis perbankan, bukan sebuah persoalan yang terlalu rumit. Tetapi, tiga faktor lainnya itu, terus menerus harus mendapatkan perhatian serius. Kualitas harus senantiasa dijaga konsistensinya. Dalam industri mebel, kualitas berarti ketahanan terhadap panas, ketahanan terhadap noda, seperti asam, tinta, dan lain-lain. Di samping itu, ketahanan terhadap surface finish, ketahanan terhadap sinar matahari, daya tahan terhadap air garam, kemampuan menahan beban, sensitivitas permukaan furniture, dan masih banyak lagi. Pasar furniture sekarang ini, sangat peduli terhadap persoalan itu. Maka, semakin banyak industri mebel yang profesional membutuhkan sertifikasi sebagai bagian dari pembuktian atas kualitas produksinya. Sebaliknya, bagi yang tidak melakukan ini, maka seperti yang dilirikkan oleh Krisdayanti,....menghitung hari.... Persoalan jaringan juga menjadi amat penting untuk menambah variasi negara tujuan, guna meminimalkan risiko. Jika hanya satu negara saja yang dituju, maka ketika terjadi guncangan atas negara tujuan yang satu itu, kegiatan perdagangan internasionalnya dipastikan terganggu. Masih ingat, bagaimana produk kayu lapis Indonesia yang sempat kolaps ketika terjadi Perang Teluk I, dan terulang kembali pada produk tekstil ketika Perang Teluk II. Maka diversifikasi pasar amat diperlukan. Semakin luas jaringan yang dibangun, semakin besar kesempatan untuk bermain. Medan yang luas, memungkinkan kita secara cerdas memilih mana yang menguntungkan. Perubahan Selera Sedangkan persoalan taste (selera), merupakan ruh dari mekanisme bekerjanya pasar. Kita tidak pernah merasa sama dalam persoalan selera. Sebuah contoh klasik, adalah selera tentang musik. Tembang Kinanti yang indah di telinga seseorang, menjadi asing di telinga yang lain. Demikian juga, blaser yang eksotik bagi perempuan karier, menjadi aneh bagi yang lain. Inilah selera, yang bisa berubah dalam sekejap, berputar kembali, dan membuat penikmat merasakan sebuah kenyamanan yang luar biasa. Road Show Trade, Tourism and Invesment (TTI) ke Uni Eropa yang berlangsung di Italia, Valencia, dan Republik Federal Jerman, ternyata mampu mengemas tiga persoalan besar dalam perdagangan internasional itu, menjadi satu paket. Ini sebuah fakta yang menarik, dan tentu saja sebuah langkah brilian dalam menemukan jalan keluar atas stagnasi yang dialami Jawa Tengah sekarang ini. Memorandum of Understanding (MoU) yang dibangun antara Centro Ricerche-Sviluppo e Laboratorio di prove Settore Legnoarredo (CATAS) dengan Center of Furniture Design and Development (CEFED) merupakan titik awal bagi mekanisme bangunan penjagaan kualitas furniture. Sebelum sampai pada MoU, proyek itu sebenarnya telah dirintis beberapa waktu lalu oleh Ketua Badan Penanaman Modal (BPM) Drs Yeru Salimianto MM. ''CATAS mau melakukan MoU dengan kita sungguh sebuah kepercayaan yang besar. Maka, jika kita konsisten dengan program ini, maka di Jawa Tengah akan berdiri lembaga sertifikasi furniture yang prestisius,'' kata Yeru. Langkah Maju Jadi, obsesi Gubernur Mardiyanto yang kemudian diterjemahkan oleh Yeru dalam nota kesepakatan itu, merupakan sebuah langkah maju. Pertimbangannya, adalah Jawa Tengah memiliki tradisi panjang dalam industri tersebut, memiliki bahan baku cukup, tenaga terampil dalam jumlah memadai, dan ada sejumlah tenaga ahli dari dunia kampus yang siap bergabung. Tetapi di sisi lain juga melahirkan tantangan, apakah provinsi ini mampu mewujudkannya ? Tentu saja, dibutuhkan kemauan semua pihak untuk mewujudkannya. Gubernur membutuhkan dukungan dari DPRD, kalangan pengusaha, dunia pendidikan tinggi, dan itulah yang disebut sebagai Jawa Tengah Inc. CATAS yang kini dipimpin Angelo Speranza, merupakan sebuah lembaga sertifikasi yang amat bergengsi di Eropa, yang memiliki berbagai fasilitas, seperti laboratorium konstruksi dan kekuatan untuk melakukan pengujian mekanik bahan mentah yang mencakup uji tarik, tekan, geser, lentur. Uji kelelahan kulit furniture, dan uji abrasif kulit furniture. Di samping memiliki laboratorium uji tahan api, surface finish, dan uji komponen untuk menguji karakteristik serta kekuatan furniture. ''Jadi, MoU antara CEFED yang diwakili Toni Prahasto dan Angelo Speranza dari CATAS, merupakan langkah awal untuk menjaga konsistensi kualitas produk kita di masa depan,'' kata Yeru Salimianto. Sedangkan agenda Gubernur Mardiyanto dan rombongan di Valencia, meskipun waktunya amat pendek, lebih pada upaya membangun jaringan dan mengetahui dari dekat, bagaimana selera dikemas menjadi sebuah pameran yang menarik. Di samping melihat dari dekat pengelolaan taman yang disebut sebagai Botanical Garden. Dalam kunjungan di Kadin Valencia, Gubernur Mardiyanto dan Ketua Kadin Solichedi, diterima dengan hangat oleh Prisendente Camara de Valencia Arturo Virosque Ruiz. Pembicaraan berkisar tentang beberapa kemungkinan kerja sama antarlembaga, seperti kedua Kadin, kerja sama ekonomi, dan beberapa hal yang dimungkinkan. Valencia sendiri merupakan salah satu provinsi di Spanyol yang memiliki letak geografis strategis, karena hanya dipisahkan oleh laut yang tak terlalu jauh dari Afrika Utara. Dengan penduduk sekitar 4,3 juta jiwa, tetapi ekspornya mencapai 13 persen dari total ekspor Spanyol. Sedangkan impornya sekitar 8 persen dari total. Kontribusi per sektor dalam pebentukan GDP dari jasa 63 persen, industri 22 persen, konstruksi 11 persen, dan pertanian 3 persen. ''Dominasi sektor jasa yang demikian tinggi, menjadi bahan pelajaran penting untuk dikaji,'' tutur Solichedi. Dalam pertemuan itu, terungkap kemungkinan pembicaraan diintensifkan lagi agar sampai pada nota kesepakatan antara dua provinsi itu. ''Pertama kali kita bertemu terjadi kontak, dan ke depan kita bisa bekerja sama,'' tutur Arturo Virosque Ruiz. Pameran Mebel Valencia Bersama pengusaha, Gubernur Mardiyanto melihat dari dekat, bagaimana ruh pasar yang disebut selera itu dikemas dalam sebuah pameran akbar funiture dan handicraft. Sekadar informasi saja, ajang itu merupakan salah satu pameran mebel kategori besar di Eropa. 2.175 stand tampil penuh di sana, mulai 27 September-2 Oktober. Persis 1 Oktober, gubernur dan rombongan melihat dari dekat Feria Valencia. Menurut El Presidente de la Feria del Mueble (FIM) Enrique Perez Tortoza, selama pameran berlangsung telah hadir 78.000 profesional. ''Jadi, di sinilah habitat industriawan mebel yang sesungguhnya,'' tutur dia seperti dikutip harian Levante. Kesungguhan panitia pameran ketika menerima kunjungan Gubernur Jateng, terlihat dari seriusnya mereka memandu mengelilingi arena pameran yang amat luas. Begitu turun dari bus, gubernur langsung disambut senyum ceria Deputi Dirjen Feria de Valencia Juan Puchalt. Sementara itu, 17 pengusaha terpencar melakukan head to head marketing. ''Asyik di sini, langsung ketemu dengan pembeli tanpa melalui pedagang besar,'' tutur beberapa rekan pengusaha. Dari arena pameran itu, terungkap bahwa sebenarnya mebel Indonesia, tentu saja Jawa Tengah telah memiliki merek yang cukup kuat di sini. Tetapi, dengan menurunnya kualitas bahan beberapa tahun terakhir ini, dicatat sebagai sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Juga, terungkap bahwa trend yang sekarang ini, bahan baku mebel tidak harus kayu jati. Mungkin, format luarnya bolehlah kayu jati, tetapi interior di dalam bisa dari bahan baku non-jati. ''Ini juga merupakan informasi penting, bahwa ke depan kita perlu melakukan kajian atas bahan baku non-jati. Karena seperti kita tahu, bahan baku jati cenderung menipis persediannya dalam beberapa tahun terakhir ini,'' tutur gubernur. Order Percobaan Beberapa pengusaha Jawa Tengah juga telah memanfaatkan arena pameran itu. Seperti dituturkan Pudiyandari dari CV Roda Jati Semarang, dirinya sudah ketiga kalinya ini ikut pameran. ''Memang harga di pameran ini cenderung murah, sehingga kami tidak perlu transaksi di sini. Kontak head to head juga akan efektif, karena kami tahu keunggulan produk yang ditawarkan, dan selera yang mereka inginkan. Tetapi lewat pameran ini, maka calon pembeli sudah tahu kualitas produk kami. Soal harga, itu kan gampang, sepanjang kualitas baik, ya mahal,'' tutur Pudiyandari. Hal yang menggembirakan juga diungkapkan oleh Restyarto Efiawan dari Regional Management Barlingmascakeb. Terlalu dini untuk mendapatkan transaksi langsung, karena kebanyakan dari mereka menginginkan melihat langsung proses produksi, baru menentukan sikap. ''Tetapi, dengan order percobaan sebenarnya sudah sangat maju. Artinya, kepercayaan yang bisa dibangun dalam sekejap,'' tutur dia. Agak sedikit berbeda dengan yang dialami Erwin dari CV Vina Arya Furniture yang ikut dalam business meeting di Valencia, dia berhasil mencapai kesepakatan riil, sehingga yang bersangkutan harus mendatangkan mesin-mesin baru dari Spanyol untuk menenuhi pesanan tersebut. ''Dengan persaingan yang makin ketat, dalam beberapa hal kami masih memiliki keunggulan,'' tutur Erwin. CATAS, Camara dan Feria Valencia memang telah memberikan pelajaran penting, bagaimana ke depan Jawa Tengah harus mengkonstruksikan industri kecil dan menengah, terutama di dua bidang itu. Sebelum semua terlambat, maka mewujudkan lembaga sertifikasi di daerah ini, merupakan sebuah kebutuhan yang tak terhindarkan.(Hendro Basuki-69) | ||||