| Selasa, 12 Oktober 2004 | EKONOMI |
Ekspor Perkebunan Penyumbang Terbesar Perolehan DevisaSEMARANG- Krisis ekonomi ternyata hampir tidak berdampak pada bisnis agroindustri. Ini tercermin dari data yang menunjukkan agroindustri terus mengalami pertumbuhan. Terbukti pada tahun 1996 menghasilkan Rp 59.667 miliar, Rp 68.660 miliar (1997), Rp 111.802 miliar (1998), Rp 126.552 miliar (1999), dan Rp 145.392 miliar pada tahun 2000. ''Kondisi tersebut menunjukkan adanya kinerja yang positif,'' kata Direktur Pengolahan dan pemasaran Hasil Tanaman Pangan Deptan Dr Ir Moehaimin Sovan, dalam rapat teknis perencanaan ketahanan pangan Jateng yang diadakan Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Jateng, di Semarang, kemarin. Itu terbukti dari devisa hasil ekspor tahun 1997 sampai tahun 2000, dikatakan, dibanding produk segar, produk olahan mampu memberikan nilai tambah yang besar. Sesuai data BPS, rata-rata sebesar 4.638,2 juta dolar AS. Sementara itu, ekspor produk segar hanya mencapai 119,2 ribu dolar AS. Dan, dari komoditi yang ada, ekspor produk olahan hasil perkebunan menjadi penyumbang terbesar perolehan devisa. Namun demikian dari hasil tersebut, terjadi suatu hubungan impersonal-eksploitatif akibat tidak seimbangnya kekuatan bisnis. (E4-82) |