logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 EKONOMI
Line

Bulog Tak Lakukan Operasi Pasar

JAKARTA - Melihat harga beras lokal beberapa hari menjelang Puasa yang relatif stabil dan cenderung rendah, Perusahaan Umum (Perum) Bulog tidak lagi perlu melakukan operasi pasar (OP) dengan cara melepas stok beras yang dimiliki Perum tersebut.

''Saya pikir Bulog tidak perlu melakukan operasi pasar, jika melihat situasi perberasan nasional sudah cukup baik seperti ini,'' kata Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo, kepada pers seusai meninjau pasar tradional Jatinegara dan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Senin (11/10).

Menurutnya, stok beras yang dikuasai Bulog saat ini cukup besar yaitu 2,15 juta ton setara beras. Jumlah stok sebesar itu, selain cukup untuk 12 bulan penyaluran rutin juga tersebar di seluruh gudang divisi regional (Divre) dengan ketahanan stok yang bervariasi antara 4,21 sampai 24,68 bulan penyaluran.

''Yang memiliki stok terbesar adalah Divre Bulog Jatim sebesar 628 ribu ton dengan kemampuan distribusi untuk 20,55 bulan ke depan,'' kata dia seraya menambahkan, bahwa persediaan beras untuk persiapan lebaran dan hari-hari besar keagamaan lainnya cukup aman.

Widjan (panggilan Widjanarko Puspoyo-Red) mengatakan, posisi harga beras saat ini cukup stabil bahkan cenderung rendah. Cenderung rendahnya harga beras yang membuat petani menjerit tersebut, akibat membaiknya produksi di dalam negeri dan membanjirnya pasokan beras dari sejumlah sentra produksi.

Dalam tiga bulan terakhir, kata dia, pasokan beras dari sentra-sentra produksi ke pasar induk Cipinang memang mengalami lonjakan hingga 20%. Akibatnya, stok beras di gudang juga mengalami peningkatan. Sentra produksi beras yang memasok pasar induk Cipinang antara lain Karawang (37%), Cirebon (41%), Bandung dan Jateng masing-masing 9%. Sementara sisanya 4% diisi oleh Jatim dan Sulawesi Selatan.

Widjan mengatakan, beras lokal yang saat ini beredar di pasaran kualitasnya sudah cukup bagus. Dengan kualitas yang cukup baik itu, beras lokal mampu bersaing dengan produk impor khususnya dari warna dan rasanya. ''Saya melihat di sini banyak karung beras impor, tapi ternyata berisi beras lokal,'' ujarnya.

Beras Impor

Widjanarko yang saat peninjauan lapangan didampingi Direktur Keuangan Perum Bulog H Giatno dan Kabag Humas Suhardjono mengatakan, di pasar induk Cipinang sudah tidak ditemukan lagi beredar beras impor. Tentunya hal itu menunjukkan bahwa ketentuan larangan impor beras oleh Menperindag cukup efektif.

Tahun 2003 yang lalu, dari total pasokan ke Cipinang 20,5%-nya adalah beras impor (114.823 ton). Sedang tahun 2004, pasokan beras eks impor hanya 1,9% atau 10.928 ton. ''Pada tahun 2004 tidak tercatat lagi pasokan beras eks impor sejak Agustus 2004,'' tandasnya.

Total pasokan beras ke Cipinang selama Januari hingga 5 Oktober 2004 mencapai 567.546 ton lebih tinggi dibanding pesokan periode sama tahun 2003 yang hanya 559.825 ton. Rata-rata pasokan per hari selama 2004 mencapai 2.500 ton dan bahkan pada Agustus sempat mencapai 3.000 ton per hari. Pada hal rata-rata pasokan hanya 2.400 ton.

Berbicara masalah harga beras, dari hasil peninjauan ke dua pasar tersebut, harga beras kualitas rendah Rp 2.000 hingga Rp 2.200 per kilogram dan untuk beras broken di bawah 5% sebesar Rp 4.500 per kilogram.

Harga beras tingkat grosir di pasar induk Cipinang pada awal Oktober 2004, relatif stabil dibanding rata-rata pada September 2004.

Rata-rata harga beras terendah (IR-III) sampai dengan awal Oktober 2004, tercatat Rp 2.200/Kg. Sedang harga beras medium di Jakarta (IR-I) mencapai Rp 2.650/Kg. ''Harga ini cukup stabil sejak awal Agustus 2004.''

Posisi harga saat ini relatif lebih rendah dibanding posisi harga saat puncak panen April 2004 (IR-III Rp 2.400/Kg). Apalagi dibanding harga pada awal 2004 untuk IR-III sebesar Rp 2.400/Kg. Kualitas beras yang menunjukkan posisi harga cukup rendah dibanding harga saat panen adalah beras dengan kualitas rendah seperti IR dan Muncul. (tri-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA