| Selasa, 12 Oktober 2004 | EKONOMI |
Harga Semen Merambat NaikSEMARANG- Harga salah satu bahan dasar bangunan yaitu semen naik 4%-10% atau sekitar Rp 1.000-Rp 2.000/sak beberapa minggu terakhir. Bila harga sebelumnya sekitar Rp 23.000/sak, saat ini harga untuk satu sak isi 40 kg bubuk semen mencapai Rp 24.000-Rp 25.000. Kenaikan yang mulai terasa sejak September tersebut disinyalir karena kelangkaan stok dua bulan terakhir. Beberapa distributor dan pengecer mengaku stok yang diterimanya seringkali terlambat atau agak berkurang dari biasanya. Meski demikian, proses distribusi semen masih relatif normal. Setyo, marketing PT PPI (Persero) mengatakan kenaikan semen yang terjadi kali ini tidak menentu. ''Kenaikan harga yang lebih tinggi justru terjadi di level toko ke konsumen, bukan dari produsen,'' katanya. Beberapa merek yang mengalami kenaikan di antaranya adalah Semen Nusantara dan Semen Gresik, sedangkan Semen Padang masih diperdagangkan pada Rp 18.000/sak. Apabila ternyata harga yang sampai kepada konsumen lebih tinggi, hal itu sepenuhnya merupakan kebijakan distributor. Sedikit berbeda dengan keterangan Setyo, pihak pengelola CV Makmur Jaya Abadi yang menangani distribusi Semen Padang mengaku menjual semen isi 40 kg sekitar Rp 19.000/sak dan isi 50 kg seharga Rp 23.000/sak. Meski demikian, mereka menandaskan tidak ada kenaikan harga pada merek tersebut. Kenaikan harga semen tampaknya memang terjadi merata hampir pada semua merek. Meski demikian, harga di pengecer satu dengan yang lain tampaknya agak berbeda. Di level distributor, harga merek semen tertentu bahkan hanya naik sekitar Rp 500/sak. Seorang distributor yang enggan disebut namanya mengaku jumlah semen yang diterima belakangan ini kerap tidak sesuai dengan order. "Jumlah barang yang kami pesan tak selalu datang sekaligus sesuai permintaan, pembagian pasokannya tidak sama untuk setiap distributor. Katanya sih nggak ada barangnya," kata distributor itu. Persaingan Salah satu sumber di perwakilan perusahaan semen yang berkantor di Semarang mengatakan kenaikan harga semen sebenarnya lebih dipengaruhi oleh persaingan antarperusahaan. "Kenaikan sebuah merek hanya mengikuti harga pesaingnya. Kami memiliki data pasar yang konkret bukan hanya data kosong," katanya. Sementara itu, kenaikan harga semen ternyata tidak mengakibatkan naiknya harga properti atau perumahan di Jawa Tengah. Hanya saja, saat ini para pengembang menjadi lebih cermat menghitung tiap satuan bangunan. Bahkan untuk mempertahankan harga normal, banyak pengembang terpaksa menombok sekitar 1% pada biaya operasional. "Kalau satu rumah membutuhkan 200 sak semen dan kenaikannya Rp 2.000/sak, berarti besar uang yang harus ditomboki pengembang paling tidak sebesar Rp 400.000," ujar Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jateng Djoko Slamet, kemarin. Kenaikan harga semen pada bulan September-Oktober sebenarnya bukan hal baru. Itu sebabnya, pengembang tak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Pada bulan-bulan itu, persediaan semen memang berkurang sehingga terjadi kelangkaan di pasar. Karena produk yang ditawarkan menipis, harga semen tentu saja melonjak. "Tapi biasanya cuma sekadar siklus, jadi setelah bulan-bulan itu harganya kembali normal," tukas dia. Meski demikian, Djoko berharap fenomena kenaikan semen tahun ini masih sama seperti tahun-tahun lalu. Karena jika harga semen terus meningkat, beban biaya pembangunan rumah tentu saja akan terimbas. Padahal, satu komponen itu tidak hanya akan mempengaruhi harga rumah saja, namun juga fasilitas lain, seperti pembuatan paving. "Biaya ikutannya itu yang mahal karena semen termasuk bahan dasar," ujarnya. Salah satu pihak developer mengeluhkan kenaikan harga material tersebut. Hal itu akan menyulitkan developer kecil yang membangun perumahan rumah sederhana. "Kami dituntut memberikan harga yang murah kepada masyarakat tetapi kalau harga material naik seperti sekarang berarti kami juga harus menaikkan harga jual rumah," katanya. Ditambahkannya, kenaikan semen juga diikuti kenaikan harga besi yang mencapai 20%. "Apabila dihitung dari harga bulan lalu, kenaikan besi justru mencapai 120%," tuturnya. (rei,hrn-82) |