| Selasa, 12 Oktober 2004 | EKONOMI |
BI Arahkan Bank Cegah Tindak Kejahatan PerbankanJAKARTA- Bank Indonesia terus mengarahkan bank untuk me-review dan membenahi kualitas SDM, manajemen risiko serta pengendalian internal bank untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan perbankan (banking fraud). Hal ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah pada saat membuka seminar ''Budaya Kerja: Peran Budaya Kerja dalam Mencegah Fraud Perbankan,'' di Gedung Bank Indonesia Jakarta, kemarin. ''Di samping aspek teknis, kualitas SDM yang memadai dan dibangunnya satu budaya kerja yang memberikan penghargaan yang tinggi terhadap kejujuran, akan semakin mengefektifkan berbagai perangkat teknis yang telah ada di bank,'' papar Burhanudin. Selain membuka secara resmi seminar, Burhanuddin juga meresmikan pengurus Forum Budaya Kerja Perbankan (FBKPN). Forum ini akan menjadi media berkomunikasi dan bertukar pengalaman bagi bank-bank yang saat ini melakukan perbaikan budaya kerja. Forum ini juga berperan aktif sebagai garda depan dalam perubahan budaya kerja untuk menciptakan insan perbankan yang bermutu dan industri perbankan yang terpercaya. Menurut Burhanudin, dalam prakteknya, budaya kerja mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi yang "tampak" (tangible) dan yang "tidak tampak" (intangible). Pada tingkat yang tampak, ia mencakup beberapa aspek organisasi, pola perilaku, sistem dan prosedur, bahasa dan kebiasaan yang dilakukan perusahaan. Pada tingkat yang tidak tampak, ia mencakup nilai-nilai yang disebut "shared values", norma-norma, kepercayaan, asumsi-asumsi para anggota organisasi untuk mengelola masalah dan pengaruh di sekitarnya. ''Jika kedua dimensi ini berhasil dikembangkan sehingga mampu menghasilkan nilai-nilai fundamental organisasi yang baik seperti nilai yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, penghargaan atas disiplin dan kualitas kerja serta pelayanan yang prima, dan penghormatan atas keterbukaan dan transparansi, tentunya fraud di industri perbankan dapat diminimalkan.'' Sangat Menentukan Dikemukakan, bahwa peranan pemimpin atau pengurus bank sangat menentukan dalam keberhasilan perubahan budaya kerja. Oleh sebab itu, dalam proses perubahan budaya kerja, menurut Burhanudin seringkali diperlukan juga perubahan gaya kepemimpinan yang memiliki visi ke depan, dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu menransformasikan keunggulan ke dalam organisasi dan memberi motivasi dan inspirasi bawahannya untuk kreatif dan inovatif. Sementara itu, Burhanuddin Abdullah mengatakan bahwa pembentukan skim penjaminan kredit akan mampu memperkuat proses penyaluran pembiayaan perbankan kepada sektor riil, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). "Dari sisi pandang perbankan, skim penjaminan kredit akan membantu pengelolaan terhadap risiko dalam pemberian kredit. Fungsi intermediasi akan berjalan lebih aman, karena kerugian akibat kemungkinan kredit macet dapat ditekan," katanya saat penandatanganan kerja sama penjaminan kredit antara sejumlah Pemda dengan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). (bn,ant-82) |