| Selasa, 12 Oktober 2004 | EKONOMI |
Bisnis, Gabungan Hati Nurani dan KalkulasiPERSAINGAN bisnis antarperusahaan untuk menjadi yang terdepan dan terbesar seringkali menjurus ke arah persaingan yang tidak sehat dengan menghalalkan segala cara. Berbagai cara tersebut bahkan sudah melupakan etika dan moral hingga mampu membangkrutkan dan mematikan perusahaan yang dianggap sebagai pesaingnya. Padahal keberhasilan bisnis dapat ditempuh dengan cara mengombinasikan hati nurani dan kalkulasi. "Bisnis riil membutuhkan keseimbangan hati nurani dan kalkulasi," kata Prof Dr Hendrawan Supratikno (IBI Jakarta) dalam acara "Berbisnis dengan Hati" yang diselenggarakan di ruang Poncowati Hotel Patra Semarang, Selasa (5/10). Dijelaskannya, prinsip bisnis yang lazim ditemui yaitu membunuh atau dibunuh dengan menempatkan posisi pesaing hingga ke jurang kehancuran. Untuk itu tidak mungkin menjalankan bisnis dengan romantisme (hati). Bisnis biasanya menggunakan otak sedangkan hati digunakan untuk pacaran. "Apabila romantisme digunakan dalam berbisnis maka perusahaan tersebut akan hancur," ungkapnya. Dalam kesempatan itu, dia juga memaparkan berbagai teori ekonomi sebagai pembanding pendapatnya tersebut. Seperti teori Adam Smith (1776) yang intinya mengajarkan manusia harus serakah. "Ironisnya, negara Amerika dan Eropa yang mengakui teori tersebut justru menjadi negara maju," katanya. Selanjutnya teori Sun Tzu, seorang panglima perang dari China yang mengajarkan "Kenalilah dirimu (ilmu tahu diri) dan kenalilah musuhmu (ilmu bela diri). Seribu kali perang seribu kali menang." Sementara itu pembicara lainnya, Jahja B Sunarjo (Direxion Consulting Bandung) mengatakan, rintangan utama yang dihadapi dalam berbisnis adalah diri sendiri, yaitu takut gagal. Bagaimana solusinya? "Justifikasi (pembenaran-Red) untuk memilih tindakan apa yang sebaiknya dilakukan ada dalam diri kita sendiri," katanya. (Hernandhono-82) |