logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 EKONOMI
Line

IHSG dan Rupiah Menguat Tipis

Pasar Tunggu Pelantikan Kabinet SBY-Kalla

JAKARTA - Situasi politik dan keamanan yang relatif stabil menjelang pelantikan presiden/wapres terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, berdampak positif kepada pergerakan harga saham dan kurs rupiah. Jika pekan lalu rupiah ditutup di posisi Rp 9.090/dolar AS, maka petang kemarin kembali menguat tipis menjadi Rp 9.064. Tren penguatan rupiah terlihat sejak pagi yag dibuka pada Rp 9.066. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga menguat tipis 4,425 poin menjadi 860,144.

Kemenangan Astra Internasional dan Standard Chartered Bank sebagai preferred bidder (penawar yang diutamakan-Red) yang memenangi divestasi Permata berpengaruh terhadap kenaikan saham Astra bersama 87 saham lainnya. Beberapa saham yang juga melejit harganya adalah Berlian Laju Tangker naik Rp 200 menjadi Rp 1.550. PT Timah naik Rp 175 menjadi Rp 2.225, Barito Pacifik Timber naik Rp 100 menjadi Rp 490. PT Telkom naik Rp 75 menjadi Rp 4.350. Astra Internasional naik Rp 100 menjadi Rp 7.750.

Dalam hari kerja bursa kemarin terjadi transaksi sebanyak 20.389 kali meliputi 2,703.750 lot saham senilai Rp 965,565 miliar. Tercatat ada 43 saham yang harganya turun dan 247 saham yang harganya stagnan. Seluruh indeks, seperti LQ45, Jakarta Islamic Index (JII), Indeks Papan Utama (MBX), dan Indeks papan Pengembangan (DBX), naik antara 0,103 poin hingga 1,944 poin.

Seorang pengamat pasar uang menilai sentimen kenaikan harga minyak dunia, yang menembus 53 dolar AS/barel, sempat menahan apresiasi rupiah. Namun sentimen positif dari dalam negeri untuk jangka pendek diperkirakan masih akan menyelimuti rupiah, namun sayangnya pasar masih memperhitungkan dampak gejolak kenaikan harga minyak dunia sehingga apresiasi rupiah kemungkinan akan tertahan dan membuat rupiah cenderung bergerak di kisaran yang sempit.

''Gejolak harga minyak dunia membuat rawan bagi perekonomian Indonesia karena potensi membengkakkan anggaran subsidi pemerintah. Hal itu juga mendorong Indonesia menjadi net oil importer. Apabila hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin trade balance yang selama ini surplus lambat laun akan menjadi defisit,'' kata Angger P Juwono, pengamat dari Watson Wyatt (konsultan keuangan di Singapura). (wa-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA