logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 Oktober 2004 BUDAYA
Line

Festival Dalang Profesional Jateng

Enthus Memesona, Purba Pilih Mundur

SOLO-Di luar kebiasaannya, Ki Enthus Susmono mampu menyajikan pakeliran tanpa ''kenakalan'' pada hari pertama Festival Dalang Profesional Tingkat Jawa Tengah, di Taman Budaya Surakarta (TBS), Minggu (10/10) malam.

Sementara Ki Purba Asmara, yang disebut-sebut sebagai rival terberat dalang asal Tegal itu, memilih mundur beberapa jam sebelum tampil.

Tampil setelah Ki Sigit Abdi Priyono (Banyumas) dan Ki Muharso (Pati), dengan lakon Sugriwa-Subali, Ki Enthus seakan-akan hendak menunjukkan bahwa dirinya mampu menyajikan pakeliran ''baik-baik''.

Jika selama ini pakelirannya nyaris tak lepas dari pisuhan dan hal-hal yang sering dianggap saru, malam itu Enthus sepertinya ingin lebih santun. Tak pelak, upaya tersebut justru menjadi magnet yang mampu membetot perhatian penonton, sekalipun dia baru mulai tampil menjelang tengah malam.

Sebenarnya ''kesantunan'' Ki Enthus sudah tampak dari pakaian dan patrap-nya. Jika biasanya dia mengenakan jubah, kali ini dia memilih memakai beskap. Demikian pula ketika awal pakeliran, dia menunjukkan ''udanegara'' dalang ''alusan''.

Namun semua itu tak lantas menjadi kekangan baginya untuk mengembangkan sanggit dan memanfaatkan seluruh elemen pementasan. Mulai dari catur, sabet, hingga gendhing, kentara sekali ia elaborasi selama 90 menit untuk mencapai puncak estetis.

Pada aspek visual, misalnya, Enthus merasa tidak cukup jika hanya memanfaatkan wayang yang disediakan panitia penyelenggara. Ketika memulai pergelaran, dia tak cuma memanfaatkan kayon blumbangan dan gapuran, tapi juga kayon buatan sendiri. Maka, muncullah gambar pepohonan yang dihuni kera-kera dalam bentuk yang lebih dekat dengan bentuk aslinya dan minim stilisasi.

Banyak Tanggapan

Sayang, festival yang diramalkan banyak pihak bakal berlangsung seru itu menjadi berkurang geregetnya dengan urungnya Ki Purba Asmara tampil pada hari kedua. Dosen STSI Surakarta yang beberapa kali meraih predikat dalang terbaik di tingkat provinsi dan nasional itu memilih mundur dari pertarungan itu siang kemarin.

Bagi Ki Purba, pemunduran itu merupakan ''jalan terbaik'' yang harus dia ambil. Dia merasa tidak siap menghadapi ajang tersebut. ''Terus terang, akhir-akhir ini saya mendapatkan banyak tanggapan. Akibatnya, saya seperti kehabisan waktu untuk mempersiapkan perlombaan. Karena itu, daripada kewirangan dengan pentas sak-sake lebih baik saya mundur,'' kata lelaki yang mendapat julukan dalang priyayi itu.

Menanggapi sikap tersebut, Enthus hanya menyatakan itu hak Purba sepenuhnya. ''Kalau memang memilih mundur, itu memang hak Mas Purba. Hanya, sebenarnya siapa pun yang menjadi juara dalam festival ini, tak ada yang mutlak. Sebab, setelah itu, sebenarnya masih ada lagi juri yang lain, yakni penonton dan yang akan menanggap.''

Ketua Panitia R Budhy Moehanto menyayangkan pilihan sikap Ki Purba. ''Semestinya dia tak perlu mundur. Sebab, festival ini merupakan bagian dari upaya untuk memajukan jagat pakeliran di atas prinsip kebersamaan yang semestinya dibangun para dalang.''

Hingga berita ini ditulis semalam, festival masih menampilkan Ki Sigit Aryanto dari Rembang dengan lakon Kidung Banowati dan Ki Sunarko (Purworejo) dengan cerita Sumantri Ngenger. Festival itu juga menjadi ajang untuk memilih duta provinsi untuk event serupa tingkat nasional, bahkan menjadi duta ke luar negeri. (cip,G19-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA