| Selasa, 12 Oktober 2004 | BUDAYA |
Kontrang-kantring, Mimpi Buruk KeserakahanENAM laki-laki berpakaian loreng-seperti seragam napi-itu berbaris masuk arena dengan berisik. Seseorang dengan pakaian hitam-hitam memimpin mereka, sebelum akhirnya lenyap di balik panggung. Lalu, di tengah arena itu, mereka mulai menari, mengambil gerak-gerak sederhana tari tradisional Jawa dan Bali, seperti tarian buto, barongan, atau gerak-gerak raksasa lainnya. Dari opening semacam itu, cerita dari pementasan teater tari bertajuk "Kontrang-kantring Otawa Lawan Catur" itu pun mengalir. Tokoh-tokohnya adalah para raksasa, buto, atau siapa yang yang serakah. Ya, lakon yang dipentaskan Studio Taksu Solo di Sanggar Greget Semarang, Sabtu (9/10) malam itu, merupakan cerita tentang keserakahan yang mengacu pada politik kekuasaan. Maka, gerak-gerak yang ditampilkan para penari seperti Eko Pendi, Hery Suwanto, Bejo Tri Kumoro, Anggoro Kusumo, Trimbi, dan Guntur AS, muncul membawa simbol keserakahan. Koreografi digarap koreogafer kondang, Djarot B Darsono. Kontrang-kantring agaknya juga cerita tentang bagaimana sebuah mimpi bisa saling menghancurkan dan merusak satu dengan lainnya. Pada babak-babak awal, meski menampilkan tarian raksasa, gerak-gerak para penari terlihat gemulai. Beberapa di antara mereka bahkan mencomot gerak-gerak yang bersumber dari Tari Srimpi atau Legong Bali. Hingga akhirnya, menjelang separo pementasan, para penari mulai memunculkan gerakan-gerakan lepas dan sesekali akrobatik. Terlebih ketika cerita menuju klimaks, di mana mereka harus saling berebut, saling sikut, dan bertubrukan untuk mendapatkan sesuatu. Sifat rakus dan serakah membuat mereka lupa diri. Pada bagian ini, koreografer menampilkan simbol keserakahan yang menarik. Para pemain membuka kaos loreng, dan di atas perut mereka terlihat gambar-gambar seperti ayam panggang, bakul nasi, buah dan sayuran. Ironisnya, di tengah "kekenyangan" seperti itu, mereka terus saja makan, menyantap apa saja sampai akhirnya mereka muntah. Di ujung pementasan, para penari menjadi "gila" dan lupa diri. Mereka melepas kaos dan celana loreng, dan dengan tubuh yang nyaris telanjang itu mereka berlarian ke sana ke mari. Studio Taksu mengemas cerita politik kekuasaan itu dalam bingkai yang kocak. Alhasil, lakon politik yang idenya diambil dari naskah berjudul "Lawan Catur" karya Sir Kenneth William Godman itu pun terasa ringan. (Ganug Nugroho Adi-81) |