logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 RAGAM
Line

Teknologi Informasi Cocok untuk Retail Networking

KEBUTUHAN akan kecepatan dan ketepatan informasi dalam dunia bisnis sudah merambah ke bisnis retail, yakni bisnis penjualan yang langsung berhubungan dengan konsumen sebagai pengguna produk. Begitu besar peluang pada bisnis ini sehingga banyak dilirik oleh pelaku-pelaku bisnis, mulai dari yang bermodal menengah ke bawah sampai pelaku bisnis dengan modal yang sangat besar (konglomerat).

Banyak inovasi dan variasi yang dilakukan dalam bisnis ini, salah satunya dengan membuat jaringan bisnis retail. Karena bisnis retail yang sepertinya kecil ini namun disetting untuk saling berhubungan dan ada satu yang dijadikan sebagai pusat pengendali, maka bisnis ini menjadi bisnis kelas besar yang terdistribusi. Ini yang penulis namakan sebagai retail networking.

Penerapan teknologi informasi pada retail networking dapat meningkatkan daya saing. Dengan menghubungkan setiap cabang dalam retail networking ini, minimal ada dua hal penting yang dapat ditinjau. Pertama pada kecepatan dan ketepatan informasi untuk pelayanan kepada konsumen, dan yang kedua pengendalian stock.

Penerapan teknologi tersebut menggunakan metoda pengolahan data terdistribusi. Yakni pengolahan data yang memberi kewenangan kepada setiap cabangnya untuk mengolah data, terutama data lokal dan sebagian lainnya dikirim ke pusat. Metoda ini cocok untuk pengolahan data pemilu legistatif yang lalu. Karena untuk pengolahan data perolehan suara dikelola oleh setiap KPUD menurut tingkatannya dan juga dikirim ke pusat (KPU).

Pada gambar sebuah toko, secara fisik haruslah memiliki sebuah server untuk mengendalikan transaksi, yakni transaksi pada mesin-mesin kasir dan transaksi supply barang. Untuk bagian ini, dapat dibentuk sebuah lokal area network (LAN) dengan metode koneksi star. User pada tingkat ini dapat dikelompokkan minimal menjadi tiga kelas, dengan masing-masing kelas memiliki kewenangan yang berbeda, yakni user kasir, gudang (purchasing) dan manajer (pimpinan toko).

Untuk user kasir, memiliki kewenangan pada pencatatan transaksi jual. Pada transaksi ini akan mengurangi stock. Sedangkan pada user gudang, memiliki kewenangan untuk menerima supply barang yang akan menambah stock dan retur barang yang akan mengurangi stock. Dan untuk user yang bertindak sebagai manajer, memiliki kewenangan mengendalikan system ini.

Antara user kasir dan gudang memiliki hubungan horizontal, dan masing-masing hanya dapat menjalankan fungsinya sendiri-sendiri. Sedangkan hubungan kedua user tersebut dengan user manajer adalah hubungan hirarikal (vertikal). Sedangkan untuk hubungan antara cabang dengan pusat kendali (toko dengan manajemen pusat) dapat dihubungkan dengan fasilitas intranet, yakni penggunaan teknologi internet untuk hubungan yang bersifat internal.

Dari model hubungan tersebut, arus informasi dan komunikasi dapat dioptimalkan. Pada hubungan lokal, manajer dapat membuat analisa pasar dengan membuat statistik atas data yang ada. Misalnya untuk stock, manajer dapat membuat ReOrder Point dari stock yang ada. Sehingga stock sebuah toko dapat dikendalikan dengan optimal yang pada akhirnya akan meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Yakni terjaminnya ketersediaan stock dan ini dapat menjadikan marketing gain dari perusahaan.

Berikutnya adalah hubungan antara toko-toko dengan pusat pengendali. Data yang diolah secara lokal (distributed processing) akan menjadi informasi pada tingkat pusat kendali dari networking retail ini. Untuk menghubungkannya dapat menggunakan fasilitas komunikasi seperti telepon atau media lain. Teknologi yang digunakan dapat mengadopsi pola jaringan internet, tapi dengan akses terbatas internal (toko ke dan dari pusat kendali) yang sering disebut dengan intranet.

Hasil dari terhubungannya antartoko ini pusat kendali akan memperloleh informasi mengenai aktifitas perdagangan di tiap toko. sehingga akan melahirkan bantuan pengambilan keputusan baik strategis ataupun operasional untuk kemajuan perusahaan.

Namun untuk keamaman komunikasi antara toko dengan pusat kendali, bisa diberikan semacam enkripsi dan deskripsi data, yakni kriptonisasi data. Artinya data akan di buat sedemikian rupa sehingga menjadi tidak terbaca atau sulit dibaca oleh yang tidak berhak membacanya. Hal ini untuk menghindari kebocoran data, dan antisipasi persaingan bisnis.(Purwono Hendradi, M.Kom/Universitas AKI Semarang-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA