| Senin, 11 Oktober 2004 | WACANA |
Surat PembacaMCK di Asrama Haji DonohudanKami calon jamaah haji tahun 2005. Beberapa waktu lalu kami berlatih manasik di Asrama Haji Donohudan Solo. Keadaan asrama secara keseluruhan baik, hanya bagian kamar mandi/WC yang kurang diperhatikan. Contohnya design deretan kamar mandi yang diberi sekat tidak permanen, bagian bawah tidak tertutup. Lebih-lebih dengan lantai sederet jadi satu sehingga air kotor dan tentunya kena najis memercik, meluber ke kiri dan kanan kamar mandi yang lain. Juga saluran air limbah jadi satu dan dangkal serta tidak tertutup. Rupanya ini meniru design kamar mandi airport/hotel yang menggunakan slang air sehingga dimaksudkan najis langsung masuk kloset. Di samping itu perbaikan keramik yang copot mestinya diganti dengan keramik juga, tidak seperti sekarang, hanya diplester sehingga tidak enak dipandang. Saya percaya dana dari para jamaah tentu ada untuk perawatan, mumpung sekarang sedang dibangun penambahan bangunan masjid, sehingga dapat diperbaiki saat ini. Tulisan ini dimaksudkan agar pemakai kamar mandi tidak waswas, tidak terpercik najis, suci dari najis yang sangat diperhatikan oleh umat Islam. Apalagi sarana ini selalu digunakan dan akan digunakan calon haji tahun 2005 yang dimulai November. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kebaikan bersama. Ny Isun *** Goyang Pantat Sejak beberapa waktu lalu masyarakat selalu disuguhi tayangan goyang pantat. Beberapa tokoh termasuk ulama pun ada yang mendukung atraksi tersebut. Ada orang yang mengatakan goyang pantat ini tidak melanggar hak ekspresi seni, juga tidak melanggar undang-undang. Persoalan ini kalau ditilik dari wacana ketimuran terasa kurang pas. Harapan saya, mbok yao tidak usah ngomong macam-macam. Persoalan itu dapat selesai bila mereka yang terkait dapat menahan diri dan sadar serta ingat norma-norma agama. Padahal sebentar lagi terjadi pergantian kepemimpinan nasional yang masih banyak harus menyelesaikan persoalan. Tanggung jawab masalah pendidikan, penyelamatan moral warga dan lainnya. Jangan biasakan melepoti negara ini dengan budaya amoral, budaya goyang pinggul layaknya di bar-bar luar negeri, negara seluler, yang tanpa dasar agama dan moral. Hidup cuma untuk mengumbar nafsu seks semata. Sebagai contoh dalam agenda kaumnya Nabi Luth, dua buah kota purba yang megah telah dimusnahkan dari muka bumi, yaitu Kota Sodom dan Gomorah oleh Allah SWT. Sebab kala itu yang ada cuma kemaksiatan yang telah merambah penduduk kedua negeri itu. Maka sadarlah para pemimpin di negeri tercinta ini, agar azab tak terulang kembali. Amar Makruf *** Buku Matematika "Balai Pustaka" Saya mohon buku terbitan "Balai Pustaka" khususnya buku matematika kelas 6 yang merupakan buku wajib, sebelum diperbanyak agar benar-benar diteliti terlebih dulu. Soalnya saya menemukan kesalahan dalam contoh soal: Nomor 2 halaman 27 (mengurutkan pecahan) yang semestinya pada buku disamakan penyebutnya ternyata ada yang sudah disamakan, sebagian belum disamakan. Nomor 2 halaman 29 (operasi hitung campuran) 2+(-1 1/4) hasilnya 1 1/4 (itu dari mana?) Mungkin bagi guru tidak menjadi soal karena bisa langsung diralat pada waktu mengajar. Tetapi bagi wali murid yang membantu mengajari PR anaknya merasa kebingungan karena hanya mengandalkan contoh pada soal tersebut. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Ruslaeni *** Paket "Bebas" yang Ternyata Tak Bebas Baru-baru ini Exelcomindo sebagai perusahaan telekomunikasi seluler mengeluarkan produk terbarunya yaitu kartu ponsel paket Jempol dan paket Bebas. Selama Agustus hingga Oktober, paket Jempol memberikan bebas atau gratis 100 sms per hari ke sesama kartu XL. Sedang paket Bebas menyediakan layanan panggilan gratis pemakai kartu tersebut untuk melakukan panggilan ke sesama kartu XL dari pukul 23.00 hingga 05.00. Saya sebagai pelanggan merasa kecewa dengan paket Bebas tersebut. Dari awal sampai hampir selesai masa berlaku, saya belum pernah berhasil sekalipun melakukan panggilan gratis walau mencoba berkali-kali. Saya pikir cuma saya yang mengalami. Ternyata banyak teman baik se daerah dengan saya maupun luar mengalami hal yang sama. Padahal masih banyak sisa pulsa untuk melakukan panggilan. Tentunya ini sangat menggangu bila harus menghubungi rekan atau keluarga untuk urusan mendadak dan penting pada jam jam tersebut yang kebetulan memakai kartu XL juga. Saya komplain ke 818 pun hanya mendapat tanggapan klasik. Di antaranya bahwa "semua pengguna kartu Bebas bisa telepon gratis pada jam tersebut. Cuma karena jaringannya sibuk akibat banyak yang telepon jadi harus sabar untuk mencoba terus". Semoga pihak Exelcomindo bisa lebih berhati-hati lagi agar tidak merugikan konsumennya di masa mendatang. Oktafiani CP *** Halo, Bagaimana PLN? Saya akan memasang sambungan listrik baru dengan daya 450 VA, dengan cara lapor ke PLN Jl Unta Semarang. Petunjuk petugas, harus lewat BTL yang telah ditunjuk PLN/yang telah punya sertifikat. Setelah diadakan peninjauan BTL, saya ditawari biaya Rp 1,4 juta dengan tiga titik lampu. Saya jawab: "Lho kok mahal sekali, di koran terbitan 8 Juli 2004 (fotokopi terlampir) hanya Rp 200 ribu. Apa iya dengan tiga titik lampu biaya yang diminta BTL sampai Rp 1,4 juta. Akhirnya petugas BTL rnenurunkan biaya pemasangan menjadi Rp 1,3 juta dengan penjelasan lebih lanjut, karena ada beberapa meja yang harus dilewati supaya lancar. Mohon petunjuk Bapak Suwondo Kusumo, Humas dan Peduli Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng/DIY, agar saya dapat memasang listrik dengan biaya wajar/murah. Soewoto *** Beli Voucher Flexi Beberapa waktu lalu saya membeli voucher isi ulang Flexi di Yudea Selluler Sri Ratu Peterongan Semarang (nota terlampir). Karena PIN tergores, voucher tersebut tidak bisa saya isikan. Berdasarkan info dari 147, saya ke Yantel Jl Pahlawan, tapi setelah dicek di data sistem, ternyata voucher tersebut keluaran Divre II Jakarta. Voucher tersebut tidak bisa diisikan di no Flexi Semarang (meski PIN voucher lengkap) dan juga tidak bisa diganti oleh Yantel Semarang (memo terlampir). Saya kembali ke Yudea tapi dengan berbagai alasan mereka mengelak menjual voucher flexi area Jakarta. Masalah ini tidak bisa terselesaikan sehingga dengan kerugian ada pada saya (konsumen). Pengalaman ini saya tulis agar pembaca lebih berhati-hati membeli voucher Flexi. Ir. Retno |