logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Harga Minyak Dunia Kian Mencemaskan

- Pasar minyak dunia makin tak terkendali. Akhir pekan lalu harganya mencapai 53 dolar AS per barel. Para analis memperkirakan angka tersebut segera mendekati 60 dolar AS per barel menjelang musim dingin tiba, yakni ketika kebutuhan meningkat, terutama di negara-negara yang memiliki empat musim. Lonjakan harga minyak dunia itu pekan lalu langsung direspons negatif oleh harga saham perusahaan penerbangan terkemuka yang turun. Harga saham Lufthansa turun 2,6%, British Airways turun 0,7%, dan Ari France-KLM turun 1,7%. Di Asia, harga saham All Nippon Airways turun 2%, dan Japan Airlines turun 2,3%. Kenaikan harga minyak dunia yang terhitung cukup tinggi tersebut memang berpengaruh langsung terhadap biaya operasional perusahaan-perusahaan penerbangan.

- Tak mengherankan bila para investor di pasar saham menilai dalam waktu dekat perusahaan-perusahaan penerbangan akan menghadapi persoalan, sehingga mereka beramai-ramai melepas saham perusahaan sektor transportasi udara tersebut sebelum rugi lebih besar. Akibatnya, harga saham berbagai perusahaan penerbangan kelas dunia anjlok. Rentetan selanjutnya akan memukul industri pariwisata. Bisa dipastikan perusahaan-perusahaan penerbangan tersebut akan menaikkan tarif untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional akibat lonjakan harga bahan bakar. Kenaikan tarif penerbangan akan menyebabkan jumlah wisatawan yang mengunjungi berbagai objek wisata di seluruh dunia berkurang. Keadaan demikian sangat berpengaruh terhadap industri pariwisata.

- Bukan hanya perusahaan penerbangan dan industri pariwisata yang terancam oleh lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga perusahaan yang berorientasi ekspor beserta seluruh industri pendukungnya. Penyebabnya adalah muncul kekhawatiran bahwa harga minyak yang melambung tinggi akan menekan pemulihan ekonomi, terutama di negara-negara maju yang menjadi tumpuan ekspor negara-negara lain. Kelambanan pemulihan ekonomi di Jepang, AS, dan negara-negara di kawasan Eropa mengakibatkan permintaan atas berbagai jenis barang kebutuhan menurun. Keadaan demikian membuat angka ekspor ke negara-negara tersebut juga turun. Dampaknya adalah pengurangan kapasitas produksi di negara pengekspor, yang antara lain menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK).

- Wajar jika sekarang banyak yang cemas terhadap perkembangan harga minyak dunia yang seolah-olah tak bisa dikendalikan. OPEC atau organisasi negara-negara pengeskpor minyak sudah menyatakan angkat tangan, meskipun telah meningkatkan produksinya 1 juta barel lebih per hari. Walaupun banyak yang pesimistis, ternyata masih cukup banyak yang optimistis harga tersebut akan segera kembali ke level wajar sebagaimana sebelumnya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Purnomo Yusgiantoro, misalnya, menyatakan dalam waktu tidak terlalu lama harga minyak dunia akan turun. Menurut dia, lonjakan harga yang terjadi beberapa bulan terakhir ini lebih disebabkan oleh kekhawatiran menghadapi kebutuhan musim dingin, khususnya di kawasan yang punya empat musim.

- Bagi Indonesia, jika harga minyak dunia makin jauh di atas asumsi APBN, maka pemerintah baru nanti akan kerepotan menahan harga jual bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sebagaimana yang berlaku sekarang. Hingga kini pemerintah tetap bersikukuh tidak menaikkan harga BBM sembari berharap harga akan turun, paling tidak menjadi di bawah 50 dolar AS per barel. Kalau harga minyak dunia berkisar 36 dolar AS per barel, pemerintah telah menyiapkan dana subsidi Rp 63 triliun. Kenaikan subsidi sampai batas tertentu tidak menjadi masalah karena kenaikan harga minyak dunia pun memberi keuntungan bagi Indonesia yang juga mengekspor minyak mentah, meskipun dalam jumlah tak terlampau besar. Tetapi bila harganya sampai 60 dolar AS per barel, maka subsidi pun membengkak.

- Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono yang tinggal menunggu dilantik 20 Oktober nanti juga optimistis bahwa lonjakan harga minyak hanya terjadi sesaat. Namun dia menegaskan, pemerintah di bawah kepemimpinannya tidak akan membiarkan krisis minyak menghancurkan ekonomi Indonesia. Pihaknya akan segera mempelajari upaya menaikkan harga BBM dalam negeri. Kebijakan lama yang "keropos" harus segera dikaji ulang untuk dilanjutkan atau tidak. Namun yang cukup melegakan adalah janjinya tak akan membebani masyarakat bawah terkait dengan kemungkinan menaikkan harga BBM, supaya tidak memberatkan anggaran negara. Kita semua menunggu realisasi janji itu karena BBM adalah soal krusial. Begitu harganya naik, yang lain pun ikut-ikutan naik.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA