logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Aksi Mahasiswa Minta Lokalisasi Ditutup

  • Diadang Preman

PEKANBARU-Sekitar 300 orang terdiri atas mahasiswa dan masyarakat Kabupaten Siak-Riau, meminta lokalisasi segera ditutup menjelang bulan Puasa. Ratusan preman yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Karya (IPK) mengadang aksi massa. Bentrok pun terjadi, dan satu unit bus mahasiswa dibakar.

Keributan itu terjadi Minggu (10/10) di lokalisasi 55 di Desa Sawit Permai Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, terpaut 100 km arah timur dari Pekanbaru. Massa yang terdiri atas mahasiswa dan komponen masyarakat tiba di lokalisasi terbesar di Siak pukul 12.30 WIB, atau berjarak 40 km dari ibu kota Kabupaten Siak, Siak Sri Indrapura.

Kelompok mahasiswa meminta pengelola lokalisasi untuk menutup tempat hiburan itu menjelang Puasa. Rupanya permohonan itu ditolak pengelola lokalisasi yang dibekingi IPK, sebuah organisasi yang berkiblat di Medan yang diketuai Olo Panggabean.

Ketua Pemuda Anshor Kabupaten Siak, Mohamad Zainal, mengatakan, saat utusan mahasiswa dan perwakilan IPK bernegosiasi, secara tiba-tiba kelompok IPK lainnya langsung membakar satu unit bus mahasiswa, sekitar pukul 14.30 WIB.

"Waktu itu massa kami sedang menunggu hasil negosiasi dengan Ketua IKP setempat. Tapi saat negosiasi dan massa kami lengah, kelompok IKP lainnya langsung membakar mobil kami," kata Zainal.

Akhirnya perkelahian tak terbendung lagi. Massa yang tidak membawa senjata apa pun terpaksa lari terbirit-birit. Sedangkan kelompok IPK sebelumnya telah mempersiapkan massa. Akibatnya, satu mahasiswa STIE Siak, Oki Saputra, luka bacok dan satu unit motor milik warga dibakar. Massa juga membakar sebuah barak di lokalisasi itu.

"Saat kami demo menuntut penutupan lokalisasi, tidak mendapat pengawalan dari pihak Polres Siak. Padahal, tiga hari yang lalu kami sudah memberitahukan secara resmi," ujar Zainal.

Tak Ada di Tempat

Masih menurut Zainal, diperkirakan terdapat sekitar 150 PSK yang mangkal di lokalisasi. Namun ketika mereka tiba di tempat pelacuran itu, tak satu pun PSK yang ada di tempat. Diperkirakan pihak pengelola lokalisasi itu telah mengetahui akan kehadiran kelompok mahasiswa.

"Lokalisasi itu telah dikosongkan. Yang ada di sana hanya ratusan anggota IKP yang menggunakan senjata tajam dan pistol. Ada lima anggota IPK yang mengacungkan pistol kepada massa," kata Zainal.

Anggota Polsek Dayun, Bribda Jonhedro, mengatakan, pihaknya cukup sulit mengamankan perkelahian itu, karena melibatkan ratusan orang.

"Anggota Polsek Dayun sangat terbatas. Kita sedang meminta bantuan dari Polres Siak. Karena sampai saat ini masih ada mahasiswa yang dikejar-kejar pihak pengelola lokalisasi," katanya. (dtc-58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA