| Senin, 11 Oktober 2004 | NASIONAL |
Presiden Terpilih Diminta Perhatikan Petani AgroBOYOLALI-Seminar nasional dan pelatihan petani agro yang digelar di Pusat Riset Pengembangan Agro (Selo Pass) Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Sabtu hingga Minggu (9-10 Oktober), menelurkan ''Prakarsa Selo''. Inti prakarsa itu adalah mendesak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden terpilih RI untuk segera mengambil kebijakan strategis guna menyelamatkan potensi agro yang sudah diambang keruntuhan. Fenomena saat ini, meski Indonesia dikenal sebagai negara pertanian, tetapi kenyataan menunjukkan potensi agro tidak mampu lagi menjadi tuan rumah di negara sendiri. Kian hari tergilas oleh membanjirnya produk agro dari mancanegara, sebagai konsekuensi dari perdagangan bebas. Penyebabnya banyak faktor yang harus dibenahi. Prakarsa Selo yang ditandatangani oleh 124 peserta dan pembicara seminar dan pelatihan agro, disepakati segera dikirim ke SBY, sebagai bahan masukan yang patut ditindaklanjuti. Tampil sebagai pembicara pada seminar nasional bertema "Membangkitkan dan Menyehatkan Agro sebagai Motor Penggerak Pembangunan Ketahanan Pangan" adalah Kepala Pusat Pengembangan Pangan Ketahanan Pangan Deptan Ir Ning Pribadi MSc (mewakili Mentan), Wagub Jateng Drs H Ali Mufiz MPA, Pakar Pertanian UGM Prof Dr Ir Masyhuri, Ir Sholeh MT (MAI Jateng), Dr Can Wasino MHum (Staf Ahli Pusat Riset Pengembangan Agro Indonesia), dan Drs Pratomo (Direktur RAECI). Seminar dan pelatihan agro yang diselenggarakan oleh Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) Provinsi Jateng serta Ekowisata Taman Air Indonesia, menekankan agar SBY dalam mengambil kebijakan ekonomi makro memberi keberpihakan kepada petani agro. Kebijakan Tepat Beberapa butir dari Prakarsa Selo menganalisis potensi agro di Indonesia yang pernah mengalami masa kejayaan pada zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Hindia Belanda. Ke depan tidak bertambah prospektif tetapi justru akan makin runtuh, karena dihantam masuknya produk luar negeri yang lebih murah dengan teknologi yang lebih maju. Sementara harga produk agro di tingkat petani lokal justru jatuh dipermainkan tengkulak. "Kondisi ini makin mengenaskan melihat kenyataan areal agro makin menyusut seiring dengan pesatnya industrialisasi dan pengembangan perumahan yang memanfaatkan lahan produktif pertanian. Tanpa ada kebijakan yang tepat untuk menggairahkan pengembangan agro, potensi kita akan makin runtuh," kata Dr Can Wasino MHum dalam paparannya. Direktur Ekowisata Taman Air Indonesia Drs H Moch Sahid dan Dr Ir Nugroho Widiasmadi Dipl WRD MEng selaku Ketua Pusat Riset Pengembangan Agro Indonesia (Selo Pass) menjelaskan, pusat riset agro tersebut diarahkan sebagai pusat rujukan para petani yang kesulitan dalam penerapan teknologi dan pemasaran. Pusat riset itu diarahkan pada pengembangan agro dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik yang bebas unsur kimia. Pusat riset Selo Pass, lanjutnya, lebih diarahkan pada pelatihan petani lewat pengalaman dan teknologi, agar kualitas pengembangan agro mereka makin baik. "Pusat riset ini baru satu-satunya di Indonesia, karena anggotanya terdiri atas para pakar, masyarakat petani, dan pers," katanya.(D10-78t) |