| Senin, 11 Oktober 2004 | NASIONAL |
Road Show TTI ke Uni Eropa 2004 (1)Tutte le Strade Portana a Roma
Belum lama berselang Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto melakukan road show Trade, Tourism and Invesment (TTI) ke Uni Eropa, terutama Italia dan Valencia. Kemudian dilanjutkan Wagub Ali Mufiz MPA ke Republik Federal Jerman. Apa makna di balik kunjungan itu, wartawan Suara Merdeka Hendro Basuki yang mengikuti kunjungan itu menuliskan laporannya secara berseri mulai hari ini. DIPERKIRAKAN di Jawa Tengah telah berkembang 6 juta usaha kecil dan menengah (UKM) dan sekitar 1,6 juta industri kecil-menengah (IKM). Jika daya serap tenaga kerja dari 7,6 juta usaha itu 2 orang saja, maka ada 15 juta jiwa yang hidup dari industri ini. Apa artinya angka ini? Mereka telah mengamankan setidak-tidaknya separo penduduk provinsi ini. Jika mereka tidak stabil, langsung maupun tidak daerah ini akan terguncang pula. Meskipun skala usaha mereka belumlah besar, tetapi pada kenyataannya mereka bukanlah pemain lokal. Jumlah yang masuk dalam peta perdagangan internasional makin bertambah, terutama untuk industri furniture dan handicraft. Telah sejak lama memang, daerah ini memiliki kekuatan riil yang bisa dibawa ke medan perdagangan internasional. Tetapi dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, pemain-pe-main baru bermunculan di arena internasional seperti RRC, Vietnam, India, dan beberapa negara Asia lainnya. Kekuatan raksasa RRC yang membuat panas eko-nomi dunia, mulai terasakan di mana-mana. Mereka bisa membuat produk-produk dengan kualitas bersaing dengan harga relatif rendah. Pemain-pemain lama dibuat kalang kabut. Di sini saja kita bisa menyaksikan bagaimana produk China merangsek masuk ke pasaran dan berusaha meng-geser peran produk-produk Jepang, Korea, dan tentu saja produk lokal. Fakta itulah yang menuntun Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto sampai pada kesadaran bahwa perlu dibangun sebuah jaringan kerja sama yang erat antara dunia usaha dan pemerintah daerah, sehingga mampu bersinergi secara konsisten dan berkelanjutan. Pemerintah tetap pada fungsinya sebagai fasilitator dan regulator, sedangkan pemain utamanya tetap dunia usaha itu sendiri. Outward Looking Kesadaran saja tidak cukup, maka Mardiyanto merasa perlu untuk membuka jaringan keluar yang dalam istilah ekonomi disebut outward looking. Dengan melihat keluar, kita akan lebih tahu tentang kekuatan dan kelemahan, peluang sekaligus ancaman. Mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan adalah materi dasar sebelum kita berangkat perang. Ini juga yang masuk dalam materi utama marketing intellegent dalam konteks bisnis modern. ''Jadi, bukan nglencer!'' tutur Mardiyanto sambil tersenyum di tengah acara Business Matching di Ritz Hotel, antara pengusaha Indonesia dan Italia. Senyuman Mardiyanto terus mengembang ketika ternyata acara yang didukung penuh Dubes RI untuk Italia, Freddy Numberi, yang dikemas dalam Indonesia, Ultimate in Diversity mendapat sambutan hangat pengusaha Italia. Freddy merasa perlu mendukung kegiatan ini setelah beberapa bulan lalu dalam pertemuannya dengan Mardiyanto tahu bahwa struktur perekonomian Jawa Tengah hampir mirip dengan Italia. Kekuatan pokoknya tertumpu pada industri kecil dan menengah, di samping provinsi ini telah memiliki brand yang sangat baik di bidang furniture dan handicraft. ''Jadi, bukan sebuah tiba-tiba jika saya mendukung Jawa Tengah,'' tutur Freddy Numberi yang dikenal sebagai purnawirawan bintang tiga Angkatan Laut. ''Saya ini orang Irian, semua tahu itu. Tapi dalam konteks visi Indonesia, saya juga harus dukung orang Jawa Tengah yang memiliki keahlian di dua bidang itu. Ya, gubernur kan perlu melihat bagaimana pasar internasional bekerja, lalu pulang dan menyiapkan tindak lanjutnya. Nah, bagaimana lihat pasar kok dibilang nglencer,'' tutur Freddy. Sambutan atas kedatangan Gubernur juga menarik minat surat kabar besar di Italia, yakni Repubblica, yang mempunyai tiras 750.000 eksemplar. Di samping itu, juga sebuah surat kabar lain milik Presiden Klub Sepakbola Lazio, yakni Il Corriere Laziale. Selera Pasar Agak di luar dugaan memang, acara tiba-tiba harus berlangsung riuh. Kenapa? Beberapa pengusaha mebel ukir Jepara harus kaget ketika menerima order percobaan dari pembeli di Italia. Kebanyakan mereka tertarik pada mebel khas Jawa Tengah, baik yang dibuat di Jepara, Boyolali, Semarang, Purbalingga, maupun daerah lainnya. Sedangkan yang tertarik tetapi ingin membeli dalam jumlah besar merasa perlu datang ke daerah ini untuk melihat dari dekat. ''Wajar saja, jika mereka masih ragu. Tetapi melihat kesungguhan mereka akan datang, ini berarti jaringan kita bisa bertambah luas lagi,'' tutur Irawan Mintorogo dari Anjana Furniture dan Akhmad Fauzi dari Sipra Furniture. Mebel khas Jepara yang eksotik memang masuk dalam kategori selera pasar Italia yang rumit. Kenapa rumit? Bangsa ini tumbuh dan berkembang dengan seni. Seluruh sudut kota hampir tak ada yang tidak disentuh seni. Tak mengherankan pula merek-merek terkenal di bidang mode, parfum, kacamata lahir di tangan orang-orang Italia. Dengan tipe selera seperti itu, maka dengan mudah dapat menerima mebel Jepara sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Inilah yang ditangkap dengan jernih baik oleh Mardiyanto, Freddy Numberi, maupun kalangan pengusaha. ''Pasar untuk industri furniture dan handicraft terbuka di sini,'' tutur Freddy meyakinkan. Untuk meyakinkan Mardiyanto, Freddy merasa perlu untuk mengajak Gubernur Jateng itu keliling dan blusukan di kawasan industri kecil justru ketika rombongan dari Jawa Tengah baru saja landing di Bandara Fuimicino, Roma. Rupanya Freddy amat dikenal di kawasan Roma, karena banyak orang yang mengenal dia sebagai Mr Ambassador. Pelajaran dari Tukang Jaket Sampailah Mardiyanto di tukang pembuat jaket kulit. Perusahaan kecil ini hanya dikerjakan 3 orang, yakni pemilik dengan dibantu 2 karyawan. Tapi jangan tanya soal pasarnya. Dia adalah seorang eksportir sejati, karena meskipun tidak berskala besar, merknya melanglang ke mana-mana. Bahkan, bukan dengan kontainer, melainkan cukup dengan jasa pos biasa. ''Kita tak perlu muluk-muluk dululah, tetapi jika setiap pengusaha kecil mampu melakukan perdagangan internasional secara mandiri, sungguh luar biasa,'' kata Mardiyanto. Dari pertemuan dengan tukang jahit itulah, muncul gagasan Gubernur untuk mengirimkan dua tenaga perajin kulit guna mempelajari teknik penyamakan dan juga penjahitan ke Italia. Pengusaha kecil Italia mampu bekerja dengan perfect dan efisien dengan kualitas prima. Indah sekali memang. Di samping itu, dalam tahun anggaran 2005 Gubernur juga telah mengisyaratkan Jawa Tengah akan mengikuti pameran pariwisata di Milan (Februari 2005) dan pameran furniture di kota yang sama, Juli 2005. Inilah salah satu jalan agar Jawa Tengah lebih memacu penetrasi pasar ke Eropa Barat. ''Tetapi mohon diingat, peran pemerintah provinsi hanyalah fasilitator, dan selanjutnya tentu para pengusahalah yang berperan,'' tegas Gubernur. Peran fasilitator itu secara konsisten akan terus dilakukan sebagai upaya untuk menyelamatkan sekaligus mengembangkan dua sektor industri yang menjadi concern daerah ini. Jika industri mebel dan handicraft selamat, maka selamat pula sebagian hidup orang Jawa Tengah. Hal ini memang membutuhkan pemahaman lebih, dan tentu wajib bagi para pengelola pemerintahan di eksekutif dan legislatif untuk mempelajarinya bagaimana struktur ekonomi provinsi ini berkembang. Jika belum paham, tunda dulu komentar supaya tidak melahirkan komentar tanpa pernah mempelajari. Tak kalah berbinarnya adalah Solichedi (Kadin Jateng) yang membawa 17 pengusaha dari provinsi ini. ''Eh Mas, jarang lo kegiatan seperti ini langsung ada order. Kalau lewat pameran memang bisa lebih besar, '' tutur Solich. Ke depan dia melihat perlu ya terus-menerus dibangun sebuah jalinan kerja sama yang lebih erat antara pengusaha dan pemerintah. Juga tidak mungkin pengusaha bergantung pada pemerintah terus, tetapi juga tidak boleh sebaliknya. Jika sekarang kita telah menemukan formula untuk membangun usaha kecil dan menengah (UKM), maka pemerintah daerah harus secara konsisten menuangkannya ke dalam kebijakan, terutama kebijakan anggaran. ''Kami mendukung penuh, jika Gubernur MM (Mas Mardiyanto) akan memperbesar anggaran fasilitas ekonomi di tahun depan. Ini penting agar ekonomi Jateng tidak stagnan,'' kata Solich yang selalu penuh joke ini. Soal Kualitas Di kalangan pembeli produk furniture Jawa Tengah yang kami wawancarai mengutarakan beberapa saran yang menarik. Ada dua hal yang minta diperhatikan, yakni soal kualitas dan trend. Kualitas produk dari sini belumlah optimal untuk beberapa hal terutama pada finishing touch. Karena Eropa memiliki empat musim dalam satu tahun, maka dalam empat musim itu pula sebuah produk tidak boleh mengalami perubahan. Dalam istilah Jawa, tidak mulur mungkret. Teknik sambungan atau presisi juga masih ada persoalan. Rata-rata konsumen Eropa sangat paham mengenai persoalan selera. Perubahan selera itulah yang harus senantiasa diantisipasi agar produk tidak ketinggalan kereta. Pemahaman tentang pasar jelas membutuhkan pengetahuan tersendiri yang secara terus- menerus dipelajari. ''Jika sudah ketemu, persoalan masuk Eropa relatif terselesaikan,'' tutur Konsul Indonesia, Dr Giuseppe Testa, dalam perbincangan dengan kami di tengah acara Business Matching di Ritz Hotel. Untuk persoalan kualitas itu, dicari jalan keluar dengan jalan tahap pertama melakukan memorandum of understanding (MoU) antara Centro Ricerche-Sviluppo e Laboratorio di Prove Settore Legno-arredo (CATAS) yang merupakan lembaga sertifikasi kualitas furniture dan Center for Furniture Development of Central Java (CEFED). Ini merupakan langkah awal yang sangat strategis untuk tercapainya kualitas produk yang optimal. Banyak jalan menuju Roma. Tutte le Strade Portana a Roma. Dan Gubernur Mardiyanto menemukan, via furniture dan handicraft-lah Jawa Tengah masuk Roma.(33t) | ||||