| Senin, 11 Oktober 2004 | MURIA |
''Yang Cowok Tak Boleh Ngiri''PERSOALAN gender bukanlah merupakan penyebab mengapa penyelenggara LA Light Friday Night Party, di Majesty Palace Hotel Gripta, Jumat malam, membebaskan kaum hawa untuk membayar cover charge pertunjukan atraktif tersebut. Hanya, menurut pihak District Supervisor PT Djarum Pati, Pramono, Merchandisher PT Djarum Distrik Pati, Aris Prasetyo, dan Yusuf dari Classic Production, yang memfasilitasi live music performance tersebut, hal itu ditujukan untuk memberi stimulan kepada kalangan hawa, khususnya di Kudus, agar mempunyai kesempatan untuk dapat lebih mengapresiasi pentas musik seperti ini. ''Free for girl yang lain tak boleh ngiri...,'' seloroh seorang panitia. Terbukti, dua jenis manusia berlawanan jenis tersebut dapat menikmati hentakan beat-beat dinamis, sejak menit-menit awal pertunjukan tersebut dimulai. Berawal ketika B & B Band (Kudus) memanaskan suasana melalui beberapa lagu yang dibawakannya, ternyata, hal itu cukup dapat memancing antusias pengunjung, yang sebagian besar dari kalangan generasi muda, untuk melantai dan bergoyang mengikuti nuansa ritmis yang mengalir. Hingga, ketika band utama, Gen-X (Semarang) menggebrak lewat soundtrack sebuah film kartun Jepang ''Mengejar Matahari,'' penonton pun sudah larut dalam irama berintonasi cepat dan rancak. Dan, setelah Just for Now, Who's that Girl, Shut Up dilantunkan, penonton pun sudah tenggelam dalam ingar bingar musik yang mereka nikmati. Personel Gen-X yang terdiri atas Deny (drum), Vidi (gitar), Ary (bas), Tata (perkusi), Ratih (vocal), Resya (vocal), Seto (vokal), Hendi (vocal), dan Edo (keyboard), mampu mencairkan keengganan semua yang hadir, yang sebelumnya terasa ogah-ogahan untuk bergoyang. Ketukan perkusi, dentaman drum, dan harmonisasi keyboard - gitar dan bas, ditingkahi stage performance empat vokalisnya yang enegik dan atraktif, mampu memuaskan penikmat R & B dan Hip Hop malam itu. LA Light Friday Night Party yang dimulai pukul 20.00 dan berakhir pukul 23.00 itu, cukup menambah kesemarakan dunia panggung musik Kudus, yang beberapa bulan terakhir mulai menampakkan geliatnya. Satu hal yang perlu dicatat, pentas tersebut akhirnya berakhir dengan damai dan memuaskan, sekalipun menyisakan penat setelah sekian lama bergoyang. (ton-15) |