logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 MURIA
Line

''Pagere Didol Nggo Nanggap Wayang''

SENANDUNG Sinom Cengkok Grandel yang dibawakan Soedarsono, mantan Bupati Kudus dengan timbre yang berat seakan membuat penonton sejenak melupakan daya pikat Ki Joko ''Edan'' Hadiwijoyo yang sedang beraksi. Hingga ketika tembang Jawa yang dibawakan bekas ''pengageng'' Kudus itu terhenti, pemirsa pentas wayang kulit di halaman Kodim 0722 tersebut kembali terbawa dalam cerita yang dibawakan sang dalang.

Selang beberapa waktu kemudian, Gareng dengan kejenakaannya mulai memancing guyon maton dengan sang dalang yang tak lain Ki Joko Edan asal Pudakpayung, Semarang. Lalu, keduanya pun menstimulasi urat tertawa pemirsa saat mengatakan Bupati Soedarsono jauh lebih berani dibandingkan dengan Bupati Kudus yang sekarang, HM Tamzil, yang kebetulan hadir menyaksikan pakeliran padat malam itu.

Pasalnya, Soedarsono berani nanggap wayang tiga kali dalam setahun sedangkan Tamzil tidak pernah. Padahal, menurut pandangan keduanya, Kudus jauh lebih makmur sekarang ini. Gareng bahkan mencontohkan, Kota Kretek itu sebentar lagi akan mempunyai alun-alun yang sedemikian megah. Bahkan, dari balik pagar seng yang mengitari alun-alun tersebut, sudah dapat dibayangkan betapa megah tempat itu kelak. Karena itu, tidak ada alasan bagi Bupati Kudus untuk tidak nanggap wayang apalagi jika alasannya hanya soal dana.

''Yen ora, pagere didol nggo nanggap wayang,''ujar Gareng yang disambut tepuk tangan meriah dari ratusan penonton yang hadir pada malam itu.

Maksudnya, pagar seng yang mengitari lokasi proyek revitalisasi Alun-alun Simpangtujuh tersebut, jika dijual tentu cukup untuk membuat sebuah pergelaran wayang kulit. Tentu saja, itu hanya gurauan yang dilontarkan Gareng dan Ki Joko Edan saat tampil dalam pementasan yang diprakarsai Dandim 0722 Kudus Letkol (Inf) Priyo Djatmiko.

Beberapa tokoh Kudus yang hadir malam itu seperti Kapolres AKBP Drs Bimo Anggoro Seno, Kajari Purwadi SH, tokoh perburuhan HM As'ad, termasuk Bupati Kudus HM Tamzil dan mantan Bupati Kudus H Soedarsono yang diledek habis-habisan malam itu hanya bisa terpingkal-pingkal.

Pentas wayang kulit dengan mengambil lakon Wahyu Makutarama itu digelar dalam rangka memperingati HUT Ke-59 TNI sekaligus HUT Ke-455 Kudus. Wahyu Makutoromo mengisahkan tentang perjananan kesatria bernama Raden Harjuna asal Kesatrian Madukara yang mengembara sampai di Pertapaan Swelagiri. Di tempat milik Begawan Kesawasidhi tersebut, Harjuna meminta petunjuk untuk mendapatkan wahyu tersebut yang konon dapat menurunkan raja-raja di Kerajaan Hastinapura. (Anton Wahyu Hartono-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA