| Senin, 11 Oktober 2004 | MURIA |
Meski Hujan Turun, Blora Masih Kekeringan
BLORA - Meski sudah hujan beberapa kali-walau tidak merata-hingga kini warga sejumlah desa di beberapa kecamatan di Blora masih kesulitan air. Karena itu, Kasubag Kesejahteraan Bagian Sosial Setda Blora Drs Rudi Sugiarto kepada Suara Merdeka menyatakan, pihaknya tetap mengedrop air ke desa-desa. Kesulitan air itu terutama dirasakan warga beberapa desa di 10 kecamatan yang masuk kategori rawan air berat. ''Hingga kini kami masih mengedrop air dengan prioritas ke desa-desa yang rawan,'' ungkap Rudi. Sepuluh kecamatan yang masuk kategori rawan air berat tersebut, yakni Kecamatan Jati, Randublatung, Kunduran, Japah, Ngawen, Banjarejo, Tunjungan, Blora, Kedungtuban, dan Cepu. Meski demikian, bukan berarti wilayah kecamatan yang lain tidak rawan. Beberapa warga di sejumlah desa yang dihubungi terpisah menyatakan, hujan yang turun beberapa kali diyakini sebagai hujan pati sumber. Artinya, justru dengan hujan itu sumber di beberapa mata air akan mati. ''Karena hujan pati sumber, tetap saja sumur belum berair, bahkan sumber jadi mati,'' ungkap Darjo, warga Desa Klokah Kecamatan Kunduran. Didrop Lebih lanjut dikemukakan Rudi, dengan 11 mobil tangki milik Pemkab, hingga kini setiap hari terus didrop air ke desa-desa. ''Kalau ditanya jumlahnya, tentu ratusan tangki,'' jelasnya. Berdasarkan kajian tahun yang lalu, di Blora sedikitnya ada 156 desa di 15 kecamatan yang ada dinyatakan rawan kekeringan. Dengan demikian, dari 16 kecamatan yang ada hanya satu kecamatan yang dinyatakan tidak rawan kekeringan, yakni Kecamatan Kradenan. Wilayah kecamatan yang paling rawan adalah Kecamatan Jati. Sebanyak 156 desa di Blora yang dinyatakan rawan kekeringan tersebut yaitu 5 desa di Kecamatan Jati, 10 Desa di Kecamatan Randublatung, 7 desa di Kecamatan Kedungtuban, 4 desa di Kecamatan Cepu, 10 desa di Kecamatan Sambong, 2 desa di Kecamatan Jiken, 7 desa di Kecamatan Jepon, 11 desa di Kecamatan Bogorejo, 20 desa di Kecamatan Blora Kota, 10 desa di Kecamatan Banjarejo, 15 desa di Kecamatan Tunjungan, 4 desa di Kecamatan Japah, 29 desa di Kecamatan Ngawen, 12 desa di Kecamatan Kunduran, dan 1 desa di Kecamatan Todanan. Sementara itu, warga di Blora Kota yang berlangganan air PAM belakangan ini mengeluh karena aliran air dari PDAM mati. ''Air PAM mati sudah lama. Terpaksa setiap hari kami membeli air,'' ungkap Gatot, warga Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora Kota. Plt Dirut PDAM Riyanto menyatakan, bagi pelanggan yang aliran airnya mati, pihaknya mengedrop air secara gratis. ''Kini air di Tempuran habis. Praktis air yang diolah tidak ada, sehingga aliran air ke ratusan pelanggan macet,'' ungkapnya. (ud-15e) |