logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 KEDU & DIY
Line

40 Ha Hutan Gunung Prau Direboisasi

WONOSOBO - Empat ratus pemuda Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo yang tergabung dalam organisasi The Bull Eggs bersama LSM Forum Pencinta Alam Wonosobo (Forpawon) menanam 13.000 batang setek cemara di lahan 40 ha pada petak 11 dan 12 hutan Gunung Prau.

Acara yang merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap lingkungan hidup tersebut dibuka Bupati Wonosobo Drs H Trimawan Nugrohadi, kemarin, di Balai Desa Patak Banteng.

Dalam sambutannya, Bupati mengemukakan, selama 15 tahun terakhir kerusakan hutan di Wonosobo sangat tinggi. Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Pemkab tidak dapat berbuat banyak karena tidak memiliki kewenangan dalam pengelolaan hutan negara.

Selain setek cemara yang diperoleh secara swadaya oleh anggota The Bull Eggs, mereka juga menanam 1.000 batang tanaman suren dan 500 batang mahoni yang merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) serta Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Wonosobo.

Menurut keterangan Ketua The Bull Eggs Sodikun, reboisasi yang mereka lakukan kemarin adalah kali keempat.

Pada awal dan akhir 2003 serta awal tahun ini, anggota organisasinya telah menanam lebih dari 15.000 batang cemara di gunung yang menjadi daerah penyangga Kabupaten Wonosobo itu.

Tumbuh Baik

Dari ribuan stek yang ditanam, 60% tumbuh dengan baik sedangkan 40% mati akibat kekeringan dan embun upas.

Gunung Prau mempunyai lahan 2.650 ha. Namun sejak 1998, perambahan ilegal terhadap hutan lindung Gunung Prau telah menghabiskan sedikitnya 700 ha.

Kepala Perhutani Wonosobo Dudik Kurniadi BSc menuturkan, kondisi hutan lindung di dua pegunungan yang mengapit Desa Patak Banteng, yakni Pegunungan Bisma dan Gunung Prau dengan puluhan bukit di atasnya, sangat memprihatinkan.

Karena itu, Perhutani sebagai instansi berwenang terhadap masalah konservasi hutan telah melakukan sosialisasi ke masyarakat sejak awal September lalu tentang rencana penutupan hutan untuk tanaman semusim.

Hutan Bisma dan Prau akan dikembalikan fungsinya sebagai hutan lindung. Perambahan dan illegal planting yang dilakukan masyarakat sekitar hutan diharapkan segera dapat dihentikan.

''Kami senang, pemuda desa sini mempunyai kesadaran untuk melestarikan lingkungan. Itu adalah dukungan yang sangat berarti bagi kami,'' ujarnya.

Dudik mengemukakan, bibit berbagai jenis tanaman untuk penghijauan kembali gunung Prau sudah dipersiapkan.

Dengan pertimbangan musim kemarau masih berlangsung, dia menambahkan, bibit akan diberikan Desember mendatang bersamaan dengan reboisasi dengan skala lebih besar.(tw-20j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA