| Senin, 11 Oktober 2004 | BANYUMAS |
Wanita Perkasa di Atas Tumpukan BesiKIOS selebar 6 m dan panjang 8 m itu penuh besi bekas berbagai ukuran berupa pipa bulat, pipa persegi, besi isi atau besi as, besi beton, dan pelat baja. Ada pipa berdiameter 1-20 inci, panjang 20 cm sampai 4 meter. Ada pula pelat baja dari selebar buku tulis sampai daun pintu atau seukuran keping VCD. Namanya saja besi bekas tentu banyak yang berkarat, kotor, dan berdebu. Namun orang tetap berdatangan ke kios itu untuk membeli atau menjual besi bekas. Usaha itu dikelola Ny Tamsini (47), warga Kauman, Kelurahan Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto Timur. Kekerasan besi agaknya telah menempa dia menjadi pribadi bermental baja. Dia tak mudah menyerah menghadapi badai kehidupan. Terbukti, ibu 12 anak itu mampu mengelola usaha di Jalan Pasar Wage 52 tersebut untuk menopang kehidupan keluarga. Tiga anaknya sudah menjadi sarjana. Satu lulusan UMS dan dua lulusan IAIN Yogyakarta. Adapun anak yang lain masih bersekolah di SMP dan SMA. ''Anak saya 14, tetapi yang hidup 12. Semua sekolah SD di Al Irsyad, Purwokerto, lalu ke Pesantren Tambakberas, Jombang, Jatim. Setelah lulus, ada yang kuliah, ada pula yang bekerja,'' kata Tamsini. Sakit Wanita berjilbab itu menjadi tumpuan keluarga sejak sang suami, Khusni AW (54), terkena stroke saat berusia 50 tahun. Saat sehat Khusni menjadi pedagang barang rongsokan. Dia tidak hanya menjual besi, tetapi semua barang rongsokan. Dia menjalankan usaha itu bersama-sama sang istri sejak tahun 1976. Setelah terkena stroke, lelaki itu tak mampu menjalankan usaha. Tamsini pun mengambil alih pengelolaan usaha. Mulai saat itulah Khusni berganti peran. Dia mengamati dan membimbing sang istri. Sedikit demi sedikit usaha itu pun maju. Hasilnya terhitung besar untuk ukuran Puwokerto. Biaya untuk berobat Khusni, sekolah anak-anak, dan berbagai keperluan sehari-hari terpenuhi dari hasil usaha itu. ''Suami saya mau menunaikan ibadah haji juga dari hasil usaha ini,'' kata perempuan yang dengan sabar merawat suaminya itu. Khusni sekarang berkonsentrasi dalam dakwah Islam. Dia menjadi takmir Masjid Al Istiqomah, Kauman Lama, Purwokerto. ''Suami saya pernah berobat di rumah sakit sampai 52 kali diterapi. Namun tak ada hasilnya. Lalu saya hentikan. Setiap hari saya usap dengan air hangat. Sekarang kondisinya sangat baik,'' katanya. ''Ibu juga memarut welok dan memerasnya. Bapak meminum air perasan itu setiap hari,'' timpal Muhammad Mufid, salah seorang anak Tamsini. Pernah Bangkrut Jalan yang dilalui wanita itu tidak senantiasa lurus dan mulus. Jalan itu berliku-liku dan banyak karang terjal. Dia pernah bangkrut dua kali. Dia pun pernah berurusan dengan polisi karena membeli besi bekas, yang ternyata curian. Peristiwa itu sudah lama terjadi. Sekarang dia hanya mau membeli besi dari orang yang telah dikenalnya dengan baik. Dia juga kerap berbelanja ke Tegal. ''Saya tak mau membeli dari sembarang orang,'' katanya. Usaha besi, tutur dia, membutuhkan modal besar. Harga sangat terpengaruh oleh dolar AS. Modal Rp 10 juta paling-paling hanya mendapatkan barang satu bak Colt pikap. Dia menjual besi secara kiloan antara Rp 4.000/kg dan Rp 5.000/ kg. Pembeli terbanyak adalah orang yang bekerja di bengkel bubut besi dan tukang las. Berbelanja di tempatnya bisa menghemat pengeluaran. Karena, lebih murah dan bisa mendapatkan barang sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Tamsini juga menjual pelat besi bulat setebal 0,5 cm seukuran keping VCD. Benda itu banyak dibeli pengusaha penyewaan tarub untuk alas tiang besi. Jika membeli baru minimal harus satu lembar. Padahal, hanya membutuhkan sedikit. Itulah antara lain keunggulan usaha Tamsini, wanita perkasa di atas tumpukan besi bekas. (Budi Hartono-86) |