logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 BANYUMAS
Line

169 Bahasa Daerah Terancam Punah

PURWOKERTO- Pengaruh arus deras globalisasi membuat sedikitnya 169 bahasa daerah di Indonesia saat ini terancam punah. Jika tak segera didokumentasikan dan diselamatkan, jumlah bahasa yang terancam punah bisa meningkat.

Hal itu dikemukakan pakar bahasa dari Universitas Indonesia, Prof Multamia RMT Lauder, Senin (4/10), di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) saat menjadi pembicara dalam seminar bahasa dan sastra Indonesia. Seminar berlangsung dua hari hingga hari ini. Pembicara lain adalah Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono.

Lauder menyatakan 169 bahasa di ambang kepunahan itu kini hanya mempunyai penutur antara 5.00 dan 1.000 orang. Adapun bahasa berpenutur di atas 1 juta dalam jangka waktu 100 tahun lagi masih bisa diselamatkan.

''Bahasa berpenutur di bawah 500 orang meliputi satu bahasa di Sumatera, 12 di Sulawesi, delapan di Kalimantan, dan 28 di Maluku. Bahasa-bahasa itu bakal punah karena sudah tak ada lagi generasi muda yang menggunakannya,'' ujarnya.

Mempercepat Kepunahan

Kebanyakan generasi muda saat ini, kata dia, sangat jarang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa tutur. Mereka memilih mengakomodasi bahasa gaul atau bahasa perantara. Bahasa itu mereka pakai menjalin interaksi dan komunikasi sehari-hari dengan lingkungan.

Perkembangan teknologi, ujar dia, juga bisa mempercepat kepunahan bahasa daerah. Namun yang tak kalah penting adalah minat mengunakan bahasa itu menurun. ''Kepunahan sebuah bahasa berarti mengubur semua nilai kebudayaan yang tersimpan dalam bahasa itu."

Saat ini di Indonesia ada 731 bahasa daerah. Bahasa di dunia sekitar 6.000, dengan 12% ada di Indonesia. Bahasa Indonesia, atau dalam arti lebih luas bahasa Melayu, saat ini berada di peringkat keempat terbesar di dunia, setelah bahasa China, Inggris, dan Spanyol. Di dunia ada 20 bahasa dengan penutur ibu antara 50 juta dan 1 miliar.

''Penutur bahasa Indonesia sekitar 200 juta. Adapun bahasa Jawa menduduki posisi ke-13 dengan penutur terbesar, sekitar 75 juta orang.''

Dr Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, menyatakan untuk mempertahankan bahasa Indonesia agar tetap eksis harus ada keberanian mengikuti perkembangan zaman.

Misalnya, dengan menyerap istilah, kata, atau ungkapan dari bahasa daerah dan asing. Kehadiran bahasa gaul juga harus diakomodasi, bukan dimusuhi. ''Serapan itu justru memperkaya bahasa Indonesia. Jika tidak, bahasa Indonesia akan ditinggalkan pemakainya." (G22-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA