logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 11 Oktober 2004 BANYUMAS
Line

Priayi Yogya pun Bercelana Jins

CILACAP- ''Budaya adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh cipta, rasa, dan karsa manusia melalui akal pikiran. Ilmu pengetahuan dan teknologi pun budaya.''

Itulah kata Presidium DPP Badan Kerja Sama Organisasi-organisasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (BKOK) Dr Wahyono Raharjo GSW MBA saat menjadi pembicara dalam seminar "Budaya Tradisional dan Budaya Spiritual" di Gedung Dwijaloka Jalan Kalimantan Cilacap, Sabtu (2/10). Seminar itu diselenggarakan BKOK Kabupaten Cilacap bekerja sama dengan Ormas Hondodento dan Forum Komunikasi Elemen Masyarakat (Foklem) Cilacap. Acara diikuti para kadang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan dari berbagai daerah di Jateng.

Wahyono Raharjo menyatakan agama bukan budaya karena diyakini berasal dari Tuhan. Namun agama dalam penafsiran manusia yang menggunakan akal pikiran juga sering menghasilkan budaya.

Budaya kerap dipandang dari cara hidup sehari-hari. Karena itulah sering dikatakan yang membedakan antarsuku, bangsa, dan ras adalah perbedaan budaya.

Lambat laun karena kemajuan bidang transportasi dan komunikasi, kata dia, budaya antarsuku, bangsa, dan ras berbaur sehingga hampir meniadakan perbedaan. ''Sekarang asal-usul suku anak-anak di Jakarta sukar dibedakan.''

Dulu jins, kata dia, ciri khas cowboy pada zaman Western di Amerika. Namun sekarang, priayi Ngayogyakarto Hadiningrat atau Yogya pun memakai jins. Itu sekadar gambaran tentang budaya.

Asisten Deputi Urusan Kepercayaan terhadap Tuhan YME Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Dr Abdurrachman mengatakan, Indonesia memiliki heteroginitas tertinggi. Indonesia terdiri atas 17.000 pulau dan 570 suku bangsa dengan sistem aneka ragam kebudayaan.

Selain agama besar seperti Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik, di negeri ini ada pula berbagai kepercayaan sebagai ekspresi pengakuan masyarakat terhadap Tuhan dan kekuatan supranatural lain.

''Kepercayaan itu merupakan paham dogmatis, terjalin dalam adat-istiadat hidup berbagai suku bangsa yang dipercayai turun-temurun,'' katanya.

Kepercayaan itu, kata dia, merupakan sistem tingkah laku untuk mencapai maksud tertentu dengan menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan supranatural dan makhluk gaib. Umumnya sistem kepercayaan itu berpusat pada konsep tentang hal gaib yang dianggap mahadasyat dan keramat.

Pembina Ormas Hondodento Ir Sunardi MSi menyatakan dampak krisis multidimensional sejak tahun 1997 masih terasa sampai sekarang. Karena itu perlu perubahan total sistem dan pranata dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Salah satu tujuan pokok perubahan adalah mempertahankan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Itu penting, kata dia, agar bangsa Indonesia tak kehilangan jati diri. Salah satu cara adalah melakukan revolusi nurani melalui revolusi budaya dan hukum.(ag-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA