| Kamis, 30 September 2004 | SALA |
Donor Darah Terbanyak Pecahkan Rekor MuriKLATEN -- Sebanyak 320 lebih warga Klaten berpartisipasi dalam kegiatan peduli sosial dan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk jumlah donor darah terbanyak. Saking banyaknya pendonor, panitia terpaksa menolak karena kapasitas penyimpanan darah di PMI Klaten terbatas. Upaya pemecahan rekor yang disponsori PLN dalam peringatan Hari Listrik Nasional 29 September itu, menargetkan 50.000 pendonor se-Indonesia. Acara dimulai pada pukul 09.00, serentak di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Jateng terdaftar 6.500 orang, sedangkan di Klaten terdaftar 320 orang. Khusus di Klaten donor darah dilaksanakan di tiga tempat, yakni Kantor PLN UPP Klaten Boyolali di Jalan Raya Klaten-Solo, di Majelis Tafsir Alquran (MTA) Tulung, dan di MTA Juwiring. Di kantor PLN sebagian pesertanya adalah karyawan PLN, sedangkan masyarakat luas berpartisipasi lewat Tulung dan Juwiring. ''Sebelumnya kami menargetkan 184 pendonor, tapi ternyata jumlah peminatnya banyak sehingga yang terdaftar mencapai 320 orang. Pada hari pelaksanaan jumlahnya bertambah lagi. Bahkan kami sempat menolak calon pendonor karena kapasitas tampung PMI terbatas,'' kata Penanggung jawab Donor Darah PLN Klaten Djoko Listyono, kemarin. Dua Jam Kepala PLN UPP Klaten Boyolali Ir Martono menjadi pendonor pertama, kemudian diikuti karyawan lain. Di Kantor PLN sebanyak 54 pedonor dilayani dr Armantoro dan 7 petugas PMI dalam dua jam. Di Tulung yang dilayani dr Y Sukarjo dan 10 petugas PMI menangani 100 pendonor. Adapun di Juwiring dr Joko Yuwono dengan 12 petugas menangani 173 pendonor. Kegiatan donor darah dapat seluruhnya selesai pada pukul 13.00. Setiap satu jam dikirimkan laporan pelaksanaan donor darah dengan ditandatangani dua saksi wartawan sebagai ganti saksi Muri. Sebab di Klaten tidak ada perwakilan dari Muri. Setelah itu, kegiatan direkap dalam berita acara. Di Juwiring antusiasme masyarakat sangat besar dalam menyambut kegiatan donor darah tersebut. Anggota MTA sudah rutin mendonorkan darahnya sehingga menjadi pemasok darah andalan PMI. Karena itu ada calon pendonor yang terpaksa ditolak karena kantong darah habis. ''Waduh sudah enggak bisa ta, wah tiwas saya cepat-cepat mengemasi barang dagangan, e sampai sini sudah enggak bisa,'' kata Siti, seorang pedagang, anggota MTA yang sudah rutin mendonorkan darahnya. (F5-85i) |