| Kamis, 30 September 2004 | PANTURA |
Dermaga Perahu Wisata Dibangun di SiganduBATANG - Untuk lebih meramaikan pengunjung yang datang di objek wisata Pantai Sigandu, Batang, sekarang sedang dibangun dermaga dari kayu. Pembangunan tempat untuk berlabuh perahu wisata itu nantinya sebagai pemberangkatan wisata bahari menuju ke Pantai Ujungnegoro, Tulis. Jarak Sigandu yang terletak di timur pelabuhan pendaratan ikan (PPI) Klidanglor Batang dengan Ujungnegoro sejauh lima kilometer. Jika ditempuh dengan jalan kaki, perlu waktu lebih kurang satu jam. "Kalau naik perahu dari Sigandu ke Ujungnegoro sekitar 30 menit," ujar Kasi Objek Wisata Kantor Pariwisata Kabupaten Batang Bambang Sutiyoso SH. Dermaga itu dibangun di timur Kafe Putri Laut. Dari pantai menjorok ke laut sepanjang 60 meter. Konstruksinya menggunakan kayu kalimantan, sedangkan di atasnya diberi atap. "Selain untuk berlabuh perahu, dermaga ini juga bisa untuk tempat mancing. Sekarang saja, setiap hari khususnya sore, meskipun belum jadi, sudah banyak pemancing yang memanfaatkannya," ujar alumnus FH Unikal itu. 10 Perahu Kantor Pariwisata kini sudah memiliki 10 perahu wisata yang siap melayani wisata bahari dengan rute Pantai Sigandu-Ujungnegoro. Perahu yang dibuat di galangan kapal Pramono Jati itu oleh pembuatnya, Dayono, didesain khusus. "Karena untuk pesiar, tempat duduknya menghadap ke depan. Perahu ini bisa mengangkut 10 penumpang." Dia mengharapkan, dengan pembangunan dermaga yang memakan biaya sekitar Rp 200 juta akan meningkatkan pengunjung untuk berwisata ke Sigandu. Untuk masuk ke lokasi itu dikenai biaya Rp 1.000 per orang. Pembangunan dermaga untuk perahu wisata itu sejalan dengan kebijakan Bupati Bambang Bintoro SE yang merencanakan menggarap Sigandu sebagai objek wisata terpadu. Sebab, pada 2005 di kawasan itu akan dibangun sirkuit standar nasional. "Dengan pembangunan sirkuit nanti, lewat Sigandu bisa mengangkat Kabupaten Batang. Semua olahraga otomotif tingkat nasional bisa diselenggarakan di Batang, kalau perlu kejuaraan skala dunia," ujar Bambang. Sementara itu, S Yanto dari LSM Bina Swadaya Masyarakat Desa (Bissa) berpendapat, hakikat pembangunan pariwisata terpadu adalah duduknya lintas sektoral yang menangani pengembangan objek wisata Sigandu. Misalnya dengan melibatkan Dinas Perikanan dan Kelautan, DPU, Bagian Lingkungan Hidup dan Produksi, Kantor Kehutanan, dan Bappeda sehingga perencanaan matang. "Tidak satu instansi saja yang menangani. Ini semua dilakukan agar konsep Sigandu yang direncanakan sebagai objek wisata terpadu benar-benar terwujud," ungkap S Yanto. Lepas dari itu, yang diharapkan lebih banyak adalah munculnya simpul-simpul ekonomi baru. Hal itu berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. "Kami yakin, dengan pengembangan wisata terpadu ini secara tidak langsung juga merupakan pemberdayaan karena akan tumbuh simpul-simpul ekonomi baru. Misalnya warga sekitar dapat menjual produk industri kerajinan rumah tangga seperti terasi dan kerajinan laut." (ar-74j) |