logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 September 2004 SEMARANG
Line

TKI Asal Mranggen yang Tewas di Arab Saudi (1)

Luka pada Jenazah Sulistyanto Mencurigakan

SUASANA duka kini masih menyelimuti rumah Suryadi (47) dan istrinya, Tumardiyati (43) di Desa Brumbung RT 4/RW 2, Kecamatan Mranggen, Demak. Pasalnya, putra kedua dari enam saudara pasangan tersebut, yakni Sulistyanto (22), yang bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kota Riyadh, Arab Saudi, meninggal dengan luka di tubuhnya yang cukup mencurigakan.

Luka yang diderita pada tubuh korban, sebagaimana penuturan Ngatmin, Lurah Desa Kebonbatur, Mranggen yang pernah ada hubungan keluarga dengan Suryadi, ternyata cukup mengejutkan. Sebab, pada bagian lambung bagian kiri terdapat bekas luka sobek, dada sebelah kiri bekas goresan benda tajam, kaki kiri bekas jahitan. Bahkan pada kepala belakang korban terdapat bekas luka dan dijahit, dan terkadang menetes darah segar.

''Ketika saya membuka peti jenazah korban yang tiba di rumah pada Selasa (28/9), dan diantar LBH PJTKI Abul Pratama Jaya Jakarta, cukup mengejutkan. Kondisi tubuh jenazah Sulistyanto mencurigakan karena banyak luka,'' kata Mgatmin.

Ayah korban, yakni Suryadi tak menduga jika kepergian putranya itu demikian cepat. Pasangan Suryadi dan istrinya itu semula hidup bahagia bersama putra-putrinya di rumah. Almarhum Sulistyanto sendiri merupakan salah satu putra kesayangannya. Korban masih memiliki kakak bernama Kristianto (23) yang kini kuliah di Universitas Muhammadiyah (Unmu) Malang, Jatim.

Adik-adik korban, antara lain, Sulistyowati (20) kuliah di Unissula Semarang, Setyaningsih (16) siswi AMA Pembangunan Desa Kembangarum, Mranggen, Ifa Listyanti (14) menimba ilmu di Ponpes Pabelan, Magelang, serta Ida Fitrianingrum (7) masih duduk kelas II SD Negeri 3 Brumbung, Mranggen.

Sebelum meninggal, Sulistyanto menamatkan pendidikan di Ponpes Pabelan, Magelang pada tahun 1999/2000. Selepas itu, dia bercita-cita ingin bekerja di sektor pariwisata. Dia pun masuk ke Akademi Pariwisata Hotel Grasia, Jl Sriwijaya, Semarang dalam tempo 1 tahun. ''Saat itu putra saya ini ambil pada jurusan perhotelan. Lalu dia ikut magang kerja di Hotel Borobudur Jakarta selama 1 tahun,'' tutur Suryadi, ayah korban Sulistyanto seraya mengenang.

Kapal Pesiar

Setelah itu, Sulistyanto menyampaikan keinginannya pada kedua orang tuanya. Korban saat itu ingin bekerja di kapal pesiar. Karena saat itu korban menunggu keberangkatannya terlalu lama, maka dia pun memutuskan membatalkan rencana tersebut. Dia ingin berangkat kerja ke Amerika bersama temannya.

Namun saat itu, korban sempat minta uang Rp 35 juta sebagai persyaratan untuk berangkat kerja ke Amerika. Entah bagaimana, tiba-tiba uang korban menipis diduga ditipu temannya saat ditampung di rumah temannya di Jakarta.

Dengan bekal uang seadanya, Sulistyanto akhirnya memutuskan berangkat kerja ke Arab Saudi. Keberangkatan korban pada September 2002 itu, melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) Abul Pratama Jaya, beralamat Jl Tebet Dalam 149 Jakarta Selatan. Karena korban sat mendaftar menjadi TKI di Jakarta sehingga pihak Dinas Tenaga Kerja dan Trnsmigrasi Kabupaten Demak tidak tahu-menahu soal itu.

Ketika berangkat ke Kota Riyadh, Arab Saudi, korban sempat menelpon ayahnya di rumah. Dia mengabarkan pada pukul 07.00 pagi akan berangkat kerja. Suryadi ketika itu mengira putranya berangkat kerja ke Amerika.

''Setahu saya, Sulistyanto itu berangkat ke Amerika. Hati saya pada saat itu agak senang karena anak saya ini bisa bekerja ke luar negeri,'' ungkap Suryadi.

Namun dua tahun kemudian, tepatnya pada 23 Agustus 2004, keluarga Suryadi mendapat kabar Sulistyanto yang hendak kembali ke tanah air dan meminta keluarganya menjemput di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. ''Katanya waktu itu paling lambat 16 September 2004.''

Pada 30 Agustus 2004, pukul 01.00, Suryadi mendapat telepon dari Samsudin, teman korban yang bekerja di Arab Saudi. ''Samsudin mengatakan bahwa anak kami tengah kritis."

Sehari kemudian, yakni 31 Agustus 2004, Suryadi berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Setibanya di bandara tersebut, tubuh Suryadi terasa lemas tak bertenaga begitu mendengar pengeras suara yang mengumumkan bahwa anaknya meninggal dunia. (Arwan Pursidi-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA