logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 September 2004 SEMARANG
Line

Lumbung Seni Itu Sudah Terlupakan

SELAMA puluhan tahun Dukuh Sodong dikenal sebagai pusat kegiatan warga Purwosari. Semenjak pemekaran Kota Semarang tahun 1971, wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal itu dibagi menjadi lima dukuh, Sodong, Gilisari, Bentur, Kedungjangan, dan Kaligetas. Dari kelima dukuh itu, hanya Sodong yang memiliki tiga dalang, seorang guru kuda lumping, dan pemimpin kelompok seni kothekan lesung.

Tengara itu kian jelas saat Suara Merdeka mengunjungi rumah dan berbincang dengan warga Dukuh Sodong. Di kediaman Ki Dartono Aminjoyo, tampak seperangkat gamelan dan lesung, lengkap dengan alu tersusun rapi di samping rumah. Tak jauh dari rumah itu, sebuah bangunan mirip gudang tanpa pintu berdiri di pinggir jalan, penuh onggokan kayu panjang bekas bajak sawah. Menurut Ki Dartono, kayu-kayu panjang bekas bajak sawah itu dulu digunakan untuk karapan kerbau.

Tanah sawah dekat kantor kelurahan memang tak lagi menyisakan bekas alur bajak karapan kerbau. Juga tak ada lagi genangan air bercampur lumpur tempat kerbau asyik beradu cepat dipandu pak tani. Namun hampir semua warga tak mampu melupakan keriuhan karapan kerbau dan lomba menggiring itik di tempat itu, bertahun-tahun lalu.

''Lomba menggiring itik dan karapan kerbau sempat berlangsung dua kali. Wah, dulu ramai sekali. Semua orang gembira dan tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adu cepat menggiring itik,'' kisahnya.

Selain Ki Dartono, Sodong masih memiliki Dalang Supaat, Mbah Giyan, seorang guru kuda lumping, dan Mbok Karmi, pemimpin grup kothekan lesung yang kini nyaris dilupakan.

Kekayaan Warga

Lurah Purwosari, Arif Sugianto SH menyebutkan rebana, jidur, kuda lumping, wayang kulit, dan kothekan lesung merupakan kekayaan warga Sodong.

Sebagai daerah penghasil padi, warga Sodong terbiasa menggunakan lesung dan alu untuk menumbuk padi. Setiap panen raya, tutur Ki Dartono, 5-6 perempuan berkelompok mengerubung sebuah lesung dan menumbuk padi bersama-sama. Bunyi lesung yang bersinggungan dengan alu bersahut pahut, membentuk irama.

Warga lain, Purwadi mengatakan, saat peresmian Monumen Sidandang, dia ingat kothekan lesung itu ditampilkan bersama atraksi kuda lumping dan karapan kerbau.

Sebelum krisis moneter, kata dia, setiap acara nyadran menjelang Ramadan kothekan lesung acap ditampilkan. Sekali setahun warga mengadakan sedekah desa, nyadran, dan syawalan. Purwadi bercerita, sedekah desa dilakukan menjelang masa tanam, sementara nyadran dilakukan menjelang Ramadan, dan syawalan dilakukan seminggu setelah Idul Fitri.

Kesenian rakyat Sodong itu pula yang dilirik Pemkot untuk dijadikan andalan wisata agro. Namun pengembangan yang rencananya dilaksanakan pada tahun anggaran 2000-2005 itu kini belum juga terwujud. (89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA