logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 September 2004 SEMARANG
Line

Sodong, Akankah Kembali Dilirik?

Sepuluh tahun silam, Sodong, sebuah dukuh di Kelurahan Purwosari, Mijen, Kota Semarang dipilih sebagai lokus pengembangan daerah pinggiran. Lantas lahirlah gagasan Agrowisata Sodong yang dituangkan dalam masterplan dan detail engineering design pada 1996. Namun sepuluh tahun berlalu, proyek itu tak kunjung terwujud. Ke mana sesungguhnya kebijakan pariwisata Pemkot saat ini? Masihkah Sodong akan dilirik untuk kembali dipercantik? Wartawan Suara Merdeka, Ninik Damiyati menelusuri kembali proyek yang disebut-sebut terinspirasi oleh The Big Pineapple City di Brisbane, Australia itu dalam tulisan berikut.

KELURAHAN Purwosari, Kecamatan Mijen, terletak sekitar 25 km dari pusat Kota Semarang. Dari jalan raya Semarang-Boja, sebuah monumen berbentuk dandang setinggi 7 meter tampak mencolok, menggoda siapa pun yang lewat untuk mengamatinya.

Sejumlah warga mengatakan, Monumen Sidandang disitir dari nama mata air (tuk) Sidandang yang mengalir tak jauh dari tempat itu. Selain tuk Si Dandang, Purwosari dialiri Tuk Si Upas, Tuk Si Kalong, Tuk Si Maron, dan Tuk Jatiombo.

Tak jauh dari monumen itu, sebuah ruang mirip kantor tampak tak terurus. Tepat di depannya, sebuah papan bertuliskan "Kantor Pengelola Obyek Wisata Agro Sodong" menjadi tengara bahwa tempat itu merupakan objek wisata.

Namun siapa pun yang berkunjung ke tempat itu pasti akan kecewa lantaran tak ada satu pun fasilitas agrowisata yang dapat dinikmati.

Seorang warga mengatakan, Monumen Sidandang dibangun sekitar 1995. Tak lama berselang, pemerintah mengaspal jalan menuju kampung. Namun sejak terjadi krisis ekonomi, pembangunan tiba-tiba terhenti. Seiring dengan bergulirnya waktu, pengembangan agrowisata seluas 152.570 hektare itu pun nyaris tak terdengar lagi kabarnya.

Sungguhkah Sodong tak pernah punya ''apa-apa''? ''Kalau mau melihat-lihat kebun anggrek, silakan ke Sodong saja,'' kata Dulmari, salah seorang warga.

Memang sekitar 2 km dari Monumen Sidandang, ribuan tanaman anggrek tanah (Vanda douglas) tampak terhampar dengan latar belakang Gunung Ungaran. Soetikno dan puluhan petani lain menanam anggrek di atas lahans seluas 8 hektare, tak jauh dari monumen itu.

Selain anggrek, Kecamatan Mijen dikenal sebagai penghasil padi sekaligus produsen rambutan terbesar kedua setelah Kecamatan Gunungpati. Menurut catatan Badan Pusat Statistik Kota Semarang 2000, produksi rambutan Mijen 33.000 kuintal/tahun atau 37,39% total rambutan yang dihasilkan Kota Semarang.

Nuansa agraris itu pun terasa makin kental lewat kesenian rakyat. Lurah Purwosari, Arif Sugianto SH mengatakan, setiap Syawal warga mengadakan upacara ''besaran''. Warga juga melakukan sedekah desa dan upacara nyadran yang berpusat di petilasan Jatiombo.

Kasubid Pengembangan Kawasan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Semarang M Farchan mengatakan, gagasan Agrowisata Sodong sebenarnya tak lepas dari konsep pengembangan wilayah pinggiran.

Potensi Agro

Mirip The Big Pineapple City di Brisbane, Australia yang kaya akan buah nanas, Sodong memiliki potensi agro seperti durian, anggrek, dan rambutan. ''Studi yang dilakukan Pemkot bersama Pemprov Jateng, Undip, dan Australia awal 1990-an menunjukkan bahwa Sodong layak dijadikan kawasan agrowisata,'' katanya.

Namun, hasil studi itu seakan menguap begitu saja sejak krisis moneter. Meski dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Semarang 2000-2010 Purwosari ditetapkan sebagai kawasan agrowisata, tempat itu belum juga mendapat prioritas utama.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Dra Ayu Entys S MT MM mengemukakan, saat ini belum ada konsep khusus untuk Agrowisata Sodong. Bersama Dinas Pariwisata dan Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemberdayaan BUMD, dan Aset Daerah, pihaknya sedang mengkaji ulang rencana pembangunan agrowisata itu.

''Konsep khusus Agrowisata Sodong belum ada. Saat ini prioritas justru ada di Mangkang, termasuk kebun binatang dan budi daya tanaman mangga,'' ujar Ayu.

Begitu pula Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Drs Agus Sudarmadji MM, buru-buru menegaskan, setiap perencanaan tidak selalu dapat direalisasikan jika kondisinya tidak memungkinkan. Kawasan Sodong, kata Agus, tidak memiliki jejaring sehingga sulit dikembangkan. Potensi agro, kata dia, juga tidak cukup signifikan untuk dijual kepada wisatawan.

Alih-alih mengembangkan agrowisata, Agus kini justru berkonsentrasi penuh mengembangkan wisata di dekat kota, seperti wisata belanja, Taman Lele, Taman Margaraya, dan Kebun Binatang. ''Meski belum ada penelitian khusus, ada hipotesis bahwa wisata yang cocok dikembangkan di Kota Semarang adalah wisata belanja. Sebaliknya, Agrowisata Sodong sulit diwujudkan.''

Sejumlah kalangan menyayangkan ketidakjelasan dan menganggap Pemkot kurang serius mengelola Sodong. Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia Jateng Imam Kamal menyatakan sudah saatnya Pemkot memfasilitasi para investor yang ingin mengelola agrowisata Sodong.

Sejauh ini, kata dia, belum ada langkah signifikan Pemkot untuk menggandeng para pelaku usaha. Sementara itu, anggota Fraksi Gabungan DPRD Kota Semarang, AY Sujianto SAg mengatakan, Pemkot seharusnya konsisten melaksanakan RDTRK 2000-2010.

Namun sejauh ini tidak ada kejelasan apakah ingatan akan Sodong bakal kembali dikuak. Pengamat pariwisata Unika Soegijapranata A Haryo Perwito SE MATRM mengatakan, komitmen Pemkot untuk mengembangkan Agrowisata Sodong patut dipertanyakan. Pertanyaan itu pula yang kini menggantung di benak warga Kelurahan Purwosari. Akankah Sodong kembali dilirik? (89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA