| Kamis, 30 September 2004 | SEMARANG |
Mengoreksi UlanganOleh: Budi WahyonoKETIKA mendapat undangan sunatan anak seorang teman guru swasta, saya dan kawan-kawan sempat terkesiap di ruang tamu. Ruang tamu teman yang baru punya kerja tersebut terlihat guyuran air teh yang disebabkan kecerobohan seorang anak dari tamu sebelumnya. "Maaf ya, tempatnya kacau balau kayak kapal pecah!" kata yang empunya kerja memberi tahu. Sambil menelan ludah getir saya dan kawan-kawan sempat menangkap kecerobohan serupa yang justru dilakukan pemilik rumah. Bukan lap pel kain yang digunakan untuk membersihkan luberan air, tetapi kertas ulangan hasil pekerjaan siswa (yang kalau dirunut dari tanggal pelaksanaan) belum genap satu minggu! Konsekuensinya: kami, para tamu yang mayoritas guru hanya saling pandang sarat kecurigaan. Kesimpulan sementara yang segera meletup: Jangan-jangan guru yang bersangkutan selama ini hanya t melaksanakan tugas evaluasi sekadar ritual proses pendidikan tanpa tindak lanjut pengoreksian. Apalagi langkah analisis dan kemungkinan-kemungkinan adanya upaya-upaya sistemik semacam perbaikan. Kita sungguh prihatin. Penyikapan para guru terhadap anak didik yang notabene menjadi beban tanggung jawabnya memiliki rentang perbedaan beragam. Dari sisi kedisiplinan saja ada sekelompok guru yang bangga manakala memiliki kesempatan menghukum anak didik di luar koridor humanisrne. Tidak jauh berbeda dalam menyikapi pelaksanaan ulangan harian dan ulangan umum. Ada sejumlah guru yang begitu mata pelajarannya diujikan, siang harinya dikoreksi dan paginya dibagikan kepada siswa, hingga siswa siap berduyun-duyun mengapresiasinya. Siswa yang nilainya baik akan saling berjabat tangan, sebaliknya yang nilainya kurang akan segera memohon kebijakan guru agar berkenan memberikan ulangan perbaikan. Perjuangan panjang mendapatkan legitimasi model demikian, masihkah diyakini para guru sebagai bagian dari prosesi pendidikan lantaran kita sadari masih menyimpan roh pembelajaran? Pertanyaan demikian layak kita renungkan. Kepungan teknologi yang serba instan semestinya tidak harus mencederai logika proses pembelajaran yang telanjur memiliki sejarah panjang. Sebagai pendidik semestinya kita prihatin manakala sudah satu minggu mengadakan evaluasi, tidak ada satu pun siswa yang mempersoalkan hasil ulangan. Kita pantas khawatir: mereka tidak mau menanyakan sangat mungkin karena pernah, bahkan berkali-kali menanyakan tetapi selalu mendapat jawaban yang kurang menyenangkan. "Tidak usah repot-repot bertanya Pak, yang penting lolos,'' begitu barangkali sinisme yang tepat untuk meledek kondisi semacam ini. Anak didik dipaksa puas untuk mendapatkan nilai yang memenuni syarat, tetapi kehilangan hak untuk mengetahui sejauh mana hasil secara detail evaluasi yang dikerjakan secara susah payah selama ini. Dalam tataran yang lebih kritis, anak-didik juga tidak bisa melakukan semacam advokasi manakala hasil pekerjaannya disalahkan. Gaya pembelajaran yang sama sekali tidak menghormati hak-hak siswa semacam ini pantaskah dibiarkan berlanjut sehingga dunia pendidikan diam-diam digerogoti pembusukan dari dalam? (89) - Drs Budi Wahyono, guru SMK Negeri 7 Semarang |