| Kamis, 30 September 2004 | SEMARANG |
"Sungguh Berat Mengelola Amanat Umat"BERTUTUR tentang SMP/MTs Al Islam Gunungpati, Kota Semarang ibarat membuka pintu sejarah yang bercerita banyak tentang perjuangan. Sungguh tak mudah menjaga amanat umat dalam bentuk lembaga pendidikan untuk tetap tegak berdiri di tengah pusaran zaman. Paling tidak, begitulah yang Suara Merdeka rasakan ketika menyambangi SMP/MTs Al Islam Gunungpati. Berbincang selama hampir dua jam dengan para pengelola sekolah swasta itu, kekhawatiran pun kian mengental. Ya, para pengelola lembaga pencerdasan itu tak bisa menyembunyikan kegalauan menyusul pendirian SMPN 41, yang berada tak jauh dari sekolah itu. Betapa tidak, sebelum SMPN 41 berdiri, SMP/MTs Al Islam selalu kerepotan meraih siswa baru sesuai dengan kapasitas ruang yang tersedia. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua sekolah itu selalu menerima murid dalam jumlah yang tak sebanding dengan ruang kelas yang dimilikinya. Tahun pelajaran 2004/2005 sekolah itu hanya menyedot minat 92 anak dari 180 siswa yang mungkin ditampungnya. MTs lebih merana lagi, cuma menampung satu kelas dengan jumlah siswa 46 dari dua kelas yang disediakan. ''Sebenarnya kami masih bisa menampung dua kali lipatnya. Tapi, masalahnya, jumlah pendaftar tak memenuhi,'' ujar Drs Sokeh, Kepala SMP Al Islam. Pernyataan Sokeh dibenarkan Musa, Kepala MTs Al Islam. Menurut dia, dengan dua SMP negeri saja, sekolahnya sudah mengalami kesulitan. Apalagi jika ditambah satu sekolah negeri lagi. Ya, SMP/MTs Al-Islam, sejauh ini, nyaris cuma bisa berharap pada limpahan dua SMP negeri di dekatnya. Biasanya, kedua sekolah akan menjadi ''pilihan'' setelah SMP 22 dan SMP 35 menolak peminat. ''Setiap kali PSB (penerimaan siswa baru-Red), anane mung dhegdhegan. Entuk murid, apa ora,'' aku Much Abdullah, salah seorang pengurus yayasan. 30 Tahun Sejarah SMP/MTs Al Islam dimulai tiga puluh tahun lalu saat beberapa pemuka agama di Gunungpati bersepakat mendirikan sekolah menengah pertama bernapaskan Islam. ''Nawaitu-nya mencetak kader-kader pendidikan yang kuat dasar keagamaannya,'' kata Abdullah. Lantas, dia berkisah tentang masa-masa sulit yang dihadapi para perintis. Keberadaan sekolah itu dimulai dari MTs Al Islam yang berdiri tahun 1974. Selama beberapa tahun, sebelum memiliki gedung sendiri, MTs Al Islam numpang di rumah-rumah penduduk. Kemudian berpindah tumpangan ke Baitul Muslimin Masjid Al Ijabah Gunungpati. Ketika SMP Al Islam didirikan tahun 1982 pun, sekolah itu belum memiliki gedung memadai. Baru pada tahun 1987, baik SMP maupun MTs dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Morokono, di kecamatan yang sama. Secara bertahap, pembangunan pun berlanjut. Abdullah mengisahkan, kedua sekolah Al Islam mengalami masa jaya pada 1985-1987. Ketika itu jumlah murid tiap sekolah melebihi angka 200. Kini, SMP Al Islam hanya memiliki 277 siswa, yang terbagi dalam 7 kelas. Adapun MTs memiliki 139 siswa yang terdistribusi dalam 4 kelas. Abdullah tak bisa membayangkan, pada tahun pelajaran mendatang entah berapa siswa yang bisa ditariknya. ''Sekolah ini dibangun dengan jariyah umat. Apakah SMP/MTs Al Islam akan berlanjut atau tidak, mati di tengah jalan atau tidak, semua terserah pada umat,'' katanya. (Achiar M Permana-89) |