logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 September 2004 SEMARANG
Line

Mbak Girah Pembuat Warak Generasi Ketiga

''SAYA ndak tahu warak itu binatang apa. Kakinya empat dan punya daun telinga, tapi kok bertelur. Mungkin itu cuma mainan anak-anak saja.''

Ungkapan jujur itu meluncur dari bibir Legirah (57), pembuat warak ngendog dari Kampung Purwodinatan RT 2 RW 2 Semarang yang sedari kecil telah membuat mainan khas tradisi dugderan itu. Aneh?

Mbak Girah, demikian perempuan itu akrab disapa, adalah generasi ketiga pembuat warak ngendog di keluarganya. Dia mewarisi ketrampilan itu dari neneknya Trimurti dan ibunya Sarmi. Meski demikian, para pendahulu itu tak pernah menjelaskan kesejatian warak ngendog kepadanya. Bagi Girah, itu tak terlampau penting, sebab yang dia tahu, membuat dan menjual warak ngendog pada setiap menjelang datangnya bulan Ramadan, itu saja.

Saat-saat seperti ini, Girah terlihat sibuk. Seharian waktunya dihabiskan di ruang tamu, menyelesaikan satu demi satu boneka-boneka waraknya. Dari pagi hingga malam, dia terus berkutat dengan lem dan guntingan kertas minyak untuk menghias kerangka-kerangka warak yang terbuat dari kayu dan plat seng tersebut.

Sampai Sepuluh

Ruang tamu keluarga Girah yang sempit itu semakin terasa sumpek dengan mainan warak ngendog yang ditata di atas meja, mesin jahit dan berderet di dinding. Sementara guntingan kertas minyak warna-warni berserak di atas lantai. ''Sehari saya bisa menyelesaikan lima warak, tapi kalau sedang senggang bisa sampai sepuluh,'' ujarnya.

Girah membuat warak ngendog dalam dua ukuran, yakni kecil dan sedang. Masing-masing dibuat berpasangan, warak induk dan warak anakan. Pada bagian bawahnya diberi dua pasang roda, sehingga bisa dimainkan, laiknya mobil-mobilan.

Pada saat dugderan, semua warak itu dijual sendiri tanpa perantara. Warak kecil dihargai Rp 7.500-Rp 10.000, sementara yang sedang mencapai dua kali lipatnya. Pada setiap warak ngendog yang dia jual, ditambahkan sebutir telor asin. ''Namanya saja warak ngendog, ya harus ada ndog-nya. Anak-anak suka beli warak yang ada telornya itu, soalnya bisa dimakan,'' katanya.

Berjualan warak ngendog saat ini tidak selaku dulu. Perempuan berputra lima itu masih ingat, betapa saat itu warak ngendog masih diminati masyarakat, utamanya anak-anak.

Dulu ada istilah, tidak afdol ke dugderan tanpa beli warak ngendog. Jadi meski membuat 1.000 warak tetap bisa terjual habis, beda dengan sekarang, paling-paling cuma 250.'' (Rukardi-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA