| Kamis, 30 September 2004 | SEMARANG |
Soal Dugderan di Balai Kota''Dulu Bupati yang Datangi Masjid Besar''SEMARANG-Prosesi dugderan dari Balai Kota ke Kauman, dinilai oleh beberapa kalangan sebagai kebijakan yang tidak tepat. Setelah pakar tata kota Prof Ir Eko Budihardjo, kini giliran peneliti yang angkat bicara. Supramono SPd, mahasiswa S2 yang meneliti warak dan prosesi dugderan, mengatakan, prosesi dugderan yang terpusat di Balai Kota merupakan pembalikan dari ritual aslinya. Menurut dia, pada awalnya dugderan dipusatkan di Kauman. Prosesi dimulai dengan shalat asar bersama di Masjid Besar Kauman, dilanjutkan dengan rapat penentuan awal Ramadan. Setelah kesepakatan tercapai, bupati dan ulama keluar dari masjid dan memukul beduk tujuh kali. Seusai beduk ditabuh, disusul dengan penyulutan meriam di Kanjengan, pusat pemerintahan di seberang Alun-alun. ''Dari paduan bunyi beduk, duk duk duk, dan letupan meriam, der der der, muncul istilah dugder. Ritual dugderan menunjukkan bersatunya ulama dan umara, dalam hal ini untuk menentukan awal puasa. Jadi, ritual dugder amat kental dengan nuansa religius,'' papar Supramono, di kantornya, SMP Islam Nasima Semarang, Selasa (28/9). Selanjutnya maskot dugderan warak ngendog dikeluarkan dari masjid dan diarak mengitari Alun-alun menuju Kanjengan. Warak merupakan binatang mitologis, yang konon merupakan paduan naga dan burok atau kambing. Binatang itu menyimbolkan akulturasi budaya China, Jawa, dan Islam. Menurut Supramono, pemusatan prosesi dugderan di Balai Kota menyiratkan adanya pergeseran makna. Secara simbolis, prosesi dugderan lebih mengedepankan keduniawian. Ritual dimulai dengan kedatangan Lurah Kauman disertai prajurit patangpuluhan untuk menghadap bupati. Kemudian bupati mengumumkan awal puasa, dilanjutkan dengan pemukulan beduk dan penyalaan meriam. Selanjutnya, surat kekancingan yang berisi keputusan awal puasa itu diserahkan bupati kepada masjid melalui lurah Kauman, untuk diumumkan kepada umat. Setelah memperoleh surat, utusan dari Kauman itu kembali pulang, diikuti prajurit patangpuluhan dan warak ngendog. ''Sekarang Kauman yang menyimbolkan ulama justru menunggu bupati untuk mengumumkan awal puasa. Sementara dulu bupati yang keranta-ranta datang ke masjid,'' kata dia, yang kini merampungkan tesis tentang warak dan dugderan untuk tesis di program magister Pendidikan Seni Unnes. Tetap di Balai Kota Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Drs H Agus Sudarmadji bersikukuh untuk tetap menyelenggarakan prosesi dugderan di Balai Kota. Menurut dia, untuk kondisi sekarang, tidak mungkin dugderan digelar di Kauman. Sebab, daerah itu sudah terlampau padat pedagang pasar. Alun-alun, kata Sudarmadji, penuh sesak oleh pedagang, area parkir sepeda dan kendaraan bermotor, serta pangkalan angkutan kota. Dengan begitu, keadaannya betul-betul semrawut, dan Pemkot merasa tidak mampu memindahkan pedagang ke tempat lain. Dia menandaskan, kalau ada pihak-pihak yang menganggap bahwa Alun-alun masih memungkinkan untuk menyelenggarakan dugderan, biar mereka saja yang menjadi panitia. ''Kalau mereka sanggup, nanti Pemkot akan membantu pendanaannya.'' (amp,G6-73t) |