logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 September 2004 EKONOMI
Line

Kepastian Berusaha Akan Meningkat

SOLO-Kepastian berusaha di Indonesia pada 2004-2006 diperkirakan meningkat, sehingga mendorong peningkatan aliran devisa masuk yang dapat mendukung kestabilan nilai tukar rupiah.

Demikian dikemukakan oleh Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda S Goeltom pada kuliah umum di Hotel Quality yang dihadiri sivitas akademika dari UNS, UMS, Unisri, dan beberapa perguruan tinggi lain di Solo, kemarin.

Disiplin pemerintah menjaga kesinambungan fiskal dan upaya mengurangi beban pembayaran utang, lanjut dia, diharapkan berdampak pada persepsi investor terhadap peringkat utang Indonesia yang kian membaik dan mendorong sektor perbankan meningkatkan penyaluran kredit.

Kelancaran suksesi kepemimpinan nasional menjelang akhir tahun 2004, menurut dia, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah memasuki tahun 2005 kembali terapresiasi dan cenderung stabil pada 2006.

''Perkembangan ke arah itu terutama didukung oleh pemerintahan baru hasil Pemilu 2004 yang ditantang bersikap kredibel dan profesional sehingga menumbuhkan ekspektasi positif baik dari masyarakat maupun negara lain,'' tuturnya.

Ia memperkirakan prospek ekonomi Indonesia 2004-2006 terus membaik yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang meningkat secara bertahap hingga sekitar 6% pada tahun 2006. Kinerja ekonomi yang membaik tersebut terutama didorong oleh tantangan bagi pemerintahan baru untuk menciptakan iklim usaha yang lebih sehat dan kondisi global yang masih kondusif.

Prospek ekonomi yang membaik tersebut, kata dia, juga ditunjang oleh penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati untuk memelihara kestabilan ekonomi makro.

''Peranan investasi baru akan menonjol pada tahun 2006 seiring dengan kebijakan sektor riil yang ditempuh pemerintahan baru mulai berdampak,'' ujarnya.

Ekspor Nonmigas

Miranda mengatakan perekonomian Indonesia belum secara penuh dapat memanfaatkan kesempatan atas perekonomian global yang membaik. Ekspor khususnya nonmigas diperkirakan hanya tumbuh rata-rata 4-5% per tahun pada 2004-2006.

Sebaliknya, impor meningkat tajam sejalan dengan penguatan permintaan domestik, terutama konsumsi. Akibatnya, surplus neraca perdagangan cenderung turun.

Menurut dia, beberapa kendala masih membayangi kinerja komoditas utama ekspor nonmigas. Di antaranya mesin-mesin yang usang, persaingan ketat di pasar internasional, dan ketergantungan pada pasar tradisional.

Ia memperkirakan 2005-2006 ekspor nonmigas mulai meningkat seiring dengan peningkatan investasi dalam bentuk penggantian mesin-mesin yang telah usang. Tetapi meskipun ekspor nonmigas meningkat, pertumbuhannya lebih rendah dari pertumbuhan impor.

Sementara itu, walaupun pembayaran freight yang terkait dengan kegiatan impor masih tinggi, secara keseluruhan defisit neraca jasa diperkirakan mulai turun akibat peningkatan perolehan devisa dari pariwisata dan TKI.

''Dengan perkembangan tersebut surplus transaksi berjalan terhadap PDB diperkirakan terus menurun, yaitu sekitar 2% pada 2004 menjadi di bawah 2% pada 2005 serta mendekati 1% pada 2006,'' ujarnya. (bt-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA