| Kamis, 30 September 2004 | BUDAYA |
Goyang Inul Dibahas dalam Dialog BudayaYOGYAKARTA - Sikap terlalu percaya diri atau pede bahwa tafsir sendiri yang paling benar, apalagi memaksakan kehendak agar orang lain mengikuti atau mempercayainya, adalah keputusan yang sangat berbahaya. Sebagai bagian dari bangsa yang multikultural seharusnya memiliki kesadaran penuh bahwa ada realitas tentang tafsir-tafsir orang lain. "Pede memang perlu, tetapi kita harus membangun kesadaran diri dan sedapat mungkin juga pada lingkungan kita bahwa di luar tafsir yang kita miliki ada tafsir-tafsir lain. Tuhan saja tidak begitu kok. Bisa saja Tuhan mengubah pintu masuk surga. Kan terserah Tuhan, mau diubah atau tidak. Bahaya kalau kita memaksakan agar orang lain mengikuti tafsir kita," tegas Prof Dr Abdul Munir Mulkan dalam Dialog Budaya Nusantara hari kedua di Hotel Inna Garuda, Yogya, Selasa lalu. Hal senada juga disampaikan Dr Daniel Sparingga di depan para anggota Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN). Kedua pembicara yang tampil di sesi kedua itu menyampaikan makalah "Budaya Daerah dalam Kehidupan Masyarakat Muslim" dan "Kesadaran Multikulturalisme dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara". Pada sesi pertama, tampil tiga pembicara sekaligus, yaitu Pendeta Drs R Einantya Sudjas MBA yang mengetengahkan kehidupan masyarakat Budha, Prof Dr Budyanto tentang masyarakat Kristen Protestan, dan I Wayan Sumerta tentang masyarakat Hindu. Mencermati posisi kehidupan beragama di masyarakat adat, atau budaya lokal, seorang wakil dari Kerapatan Adat Minang (Sumbar) menyatakan, hadirnya Inul Daratista dengan goyang ngebornya bagi masyarakat Minang dianggap melanggar pidana adat. Ada 12 sumbang atau pantangan bagi masyarakat adat di sana, utamanya bagi kaum wanita yang duduk tanpa merapatkan kedua lututnya saja dianggap melanggar. "Inul yang tampil di televisi malah menggoyang-goyangkan pantatnya atau goyang ngebor. Bagaimana masyarakat adat yang religius itu menyikapi tersebut. Bagi kami, Inul sudah melanggar (hukum) pidana adat," tegasnya. Pro dan Kontra Menanggapi hal itu, Dr Daniel hanya menyebutkan bahwa sampai kini gaya penampilan macam yang dicontohkan Inul masih menjadi pro dan kontra. Tetapi memang patut dipertanyakan, sisi mana yang menganggap goyang ngebor sebagai ekspresi seni pertunjukan?. Daniel mencontohkan, dalam kehidupan masyarakat budaya yang berdampingan dengan kehidupan religius, selalu terdapat sikap yang disebut borrowing, yaitu pinjam-meminjam budaya orang lain. Dia menunjuk tasbih yang ada di lingkungan masyarakat Muslim, perlu dirunut lagi asal-usulnya, karena di lingkungan masyarakat Katolik, Hindu, dan Budha juga menggunakan alat itu sebagai simbol dan atribut religius. (won,sgt-63) |