| Kamis, 30 September 2004 | BUDAYA |
Koreografi Indah untuk Tubuh-tubuh TambunKETIKA tubuh telah menjadi gemuk, apa yang bisa dilakukan oleh seorang penari? Mungkinkah tubuh yang tidak langsing itu masih bisa menjadi media untuk mengungkapkan keindahan (tari)? Pada mulanya perasaan seperti itu menggelisahkan Dwi Maryani, penari yang juga Dosen Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Dia memang mengalami apa yang dinamakan obesitas pada perkembangan tubuhnya. Tentu sebagai penari dan pengajar tari, kondisi yang demikian membuatnya gelisah. Namun, siapa nyana, justru kegelisahan itu membuat perempuan yang sekarang masih gemuk ini mendapatkan sebuah susunan karya koreografi yang cukup menarik. Ya, karya tari bertajuk "Subur" yang pada Senin (27/9) dan Selasa (28/9) malam lalu dipentaskan di Teater Besar STSI Surakarta, memang berawal dari kekalutan tentang obesitas yang dialami Dwi Maryani. Seribu jalan telah dia tempuh untuk berdiet agar tubuhnya langsing. Berbagai cara sudah dia lakukan, mulai dari senam, yoga, sampai mengurangi makanan pokok selama tiga bulan. Namun, tanpa menyebut bobot tubuhnya, dia tetap merasa sebagai orang gemuk. Kondisi itu akhirnya justru mengilhami dia untuk menggarap karya tari untuk penari gemuk. Karya berjudul "Subur" itu boleh jadi merupakan wadah bagi kegelisahannya tentang obesitas, ketidakpercayaan, kekalutan, atau mungkin juga tentang berbagai hal yang dipandang sebagai keterbatasan ketika seseorang mengalami obesitas. Lukisan Gemuk Pementasan tari "Subur" ini menarik ketika berkolaborasi dengan pameran karya lukis dengan tema serupa yang disajikan pelukis Wara Anindyah. Dia menghadirkan tema gemuk dalam 60 lukisan. Maka, tubuh-tubuh gemuk yang mewarnai seluruh lukisan itu pun semakin menandaskan apa yang hendak disampaikan oleh koreografer. Sekaligus menegaskan dari apa yang telah dilakukan para penari yang semuanya juga berbadan tambun. "Jadi, antara tarian dan lukisan memang saling mendukung. Dan itu dirasakan tidak hanya pada pementasannya saja, namun juga prosesnya. Terkadang saya mendapatkan ide gerak dari lukisan, sebaliknya mbak Wara pun terinspirasi membuat lukisan dari melihat tarian," papar Dwi Maryani. Pertunjukan tarinya terbagi dalam tiga sajian. Pertama, di taman depan gedung teater, kedua di lobi gedung teater, dan ketiga dilakukan di panggung utama di dalam gedung. Berbeda dengan yang disajikan di taman atau pun di panggung utama, untuk di area lobi, penonton sengaja diarahkan agar melihat lukisan-lukisan yang sudah dipersiapkan layaknya sebuah pameran. Lukisan-lukisan yang terpajang terasa menonjol dibanding sajian tari yang seperti disamarkan. Dalam garapan tarinya, "Subur" ternyata juga semakin memperjelas tentang kolaborasi tersebut. Dan itu terlihat ketika beberapa penari mencoba mengekplorasi gerak dengan berinteraksi pada bingkai-bingkai lukisan yang besar. Dan, melihat gerakan yang dilakukan para penari, karya itu menjadi sebuah pembuktian betapa gemuk itu tak selalu identik dengan keterbatasan gerak. Atau mungkin ini menjadi ajang pembuktian bagi orang-orang gemuk bahwa mereka bisa melakukan gerakan-gerakan seperti rolling dan gerakan sulit lainnya. Karena itu, mungkin saja benar, apa yang dikatakan koreografernya. Bahwa orang-orang subur dengan segala problematiknya, pada akhirnya akan membentuk sebuah komunitas. Meski subur itu sendiri bisa saja berarti ganda, bisa saja subur rejeki, pengalaman jiwa atau subur bentuk tubuh yang bisa dimaknai keduanya.(Wisnu Kisawa-63) |