| Kamis, 30 September 2004 | BUDAYA |
"Kosmos Makhfoed", Perjalanan Tiada AkhirJANGAN pernah menanyakan kepada Makhfoed tentang pemaknaan karya-karya lukisnya, niscaya dia akan mengembalikan jawaban itu kepada Anda. "Silakan mengintepretasikan sendiri, sebab saya tak ingin memenjara benak Saudara." Karya, bagi pelukis kelahiran Surabaya 10 Mei 1942 itu adalah wujud kejujuran hati kreatornya. Tak ada yang lebih jujur ketimbang apa yang terpapar di dalam karya. Maka, jangan pernah lagi menanyakan kepada Makhfoed mengenai pemaknaan karya-karyanya. Lebih baik datang, nikmati dan intepretasikan sendiri 38 karya yang dia pajang dalam pameran tunggal bertajuk "Kosmos Makhfoed" di Museum Ronggowarsito Semarang, 27 September-1 Oktober 2004. Karya-karya itu dibuat Makhfoed tahun 2001-2004. Sebagian pernah dipublikasikan di tempat lain, hanya 20 karya yang benar-benar baru. Pameran yang diselenggarakan Komunitas Tapak Kaki, Bilik Rupa dan Museum Jawa Tengah Ronggowarsito itu merupakan pameran tunggal kali kesepuluh bagi Makhfoed. Tidak gampang melakukan pembacaan tehadap karya-karya pelukis itu. Sebab, apa yang terpapar pada kanvas-kanvasnya tak lebih sebagai fragmen-fragmen yang tak saling berhubungan. Meski banyak objek-objek figuratif, satu sama lain seperti tak bersentuhan. Kepala bebek, kubus, bunga, burung, manusia terbang, mata, sendal, atau objek-objek lain yang lebih abstrak tak menyiratkan saling berhubungan. Ke Luar Rumah Makhfoed menganalogikan proses kreatifnya dengan pergi ke luar rumah. Selain niat, tak ada satupun tempat yang dia tuju. Di tengah perjalanan, dia hanya singgah sejenak dari satu tempat ke tempat lain. Kalau toh akhirnya kembali ke rumah itu pun dimaknai sebagai sebuah keberangkatan pula, begitu seterusnya. "Saya melukis berangkat tanpa ide, tak punya tendensi apa-apa dan betul-betul berangkat dari nol. Yang ada hanya niat". Tak heran jika dia menengarai hampir semua karyanya dengan judul "Perjalanan" secara serial. Menurut Makhfoed, karya-karya itu adalah persinggahan kreatif yang dia lakukan. Hingga kini, "Perjalanan"-nya telah mencapai seri 302. Satu-satunya tampilan beda dari keseluruhan karyanya yang terpajang dalam pameran itu adalah "Potret Amang Rahman". Lukisan itu berbeda, karena karya berukuran 120 x 140 Cm itu selintas lepas dari kecenderungan proses kreatifnya. Tak biasanya, pelukis jebolan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) itu melukiskan sosok wajah manusia secara realis. Dalam karya tersebut, wajah pelukis senior Amang Rahman dia gambarkan di pojok kanan bidang kanvas. Namun. menurut dia, karya itu masih berada dalam frame proses yang dia anut. Sosok itu tiba-tiba muncul begitu saja di antara goresan cat dari kuas yang dia buat sebagai dasar lukisan. "Saya sempat bimbang apakah harus melanjutkan lukisan tersebut. Setelah melakukan perenungan selama sebulan, karya itu saya lanjutkan". (Rukardi-63) |