| Minggu, 19 September 2004 | BINCANG BINCANG |
The Greatest Man on the Piano
''SAYA orang yang tak pernah berhenti mikir,'' kata Indra Lesmana, ketika pada suatu hari dia harus menggambarkan dirinya sendiri kepada orang-orang yang tak pernah dikenal, ''Sulit menggambarkan diri saya di luar kata-kata itu.'' Tentu Anda mengenal dia sebagai anak pemusik jazz ternama Jack Lesmana. Tentu Anda juga mengenal pria murah senyum itu sebagai adik kandung produser film Mira Lesmana. Atau jika masih belum paham juga, Anda juga kerap mendengarkan dia memainkan piano atau mendendangkan lagu dalam Reborn atau Sabda Prana bersama Java Jazz. Ya, dialah Indra Lesmana, Ketua Juri Indonesian Idol, pencipta musik ''Cerita Lalu'' yang mendayu-dayu, dan penggagas Reborn II yang ''godaan'' suara dan melodinya sangat ditunggu-tunggu para penggemar jazz dan musik yang mengharubiru. Namun, siapakah dia di mata sang istri? ''Well, he is the greatest man on the piano. Namun, di luar semua itu, dia adalah suami penyabar. Dia juga ayah yang baik bagi anak-anak. Dan, tentu sebagai seniman, dia artis yang kreatif, tak pernah putus asa, pekerja keras, dan idealis. Dia memiliki semacam aurora. Untuk itu, saya memang bersedia menemani kegilaannya,'' kata Hanny Trihandojo yang kini kian dilibatkan oleh Indra sebagai penulis lirik di luar Mira, Irianti Erningpraja, dan Sophia Latjuba. Kegilaan? ''Ya, saya kerap menemani dia membayangkan seandainya dunia tak tercipta seperii sekarang ini. Atau tak jarang asyik masyuk membayangkan untuk memainkan musik yang boleh pernah dimainkan oleh siapa pun. Kegilaan semacam itu harus diberi tempat dan saya berusaha menempatkan diri sebagai teman sharing yang baik,'' perempuan yang terlibat dalam pembuatan album Rumah Ketujuh itu. Karena itu, tak perlu kaget jika mendapatkan Indra berada dalam ''kegilaan kreatif'' yang akut. Sebab sejak usia 7 tahun pria kelahiran 28 Maret 1966 itu memang sudah mabuk dan gila musik. Saat itu dia sudah belajar dram dan organ. Bahkan menciptakan lagu untuk album Margie Sigers. Pada Mei 1976 Indra tampil dalam ''Jazz Masa Lalu dan Kini'', sebuah acara yang melibatkan Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Maryono, dan Broery Marantika. Pada saat itu pula, kecuali belajar pada sang ayah, dia ngangsu kawruh pada Irawati Soediarso dan guru asal Rusia, Valentina. Pada 1978, anak ajaib itu bertandang ke Sydney, Australia, dan tampil dalam acara ''Asean Trade Fair''. Karena para kritikus Australia terkagum-kagum, pada 1979, Indra mendapat beasiswa belajar musik di New South Wales Conservatory of Music, Sydney. Dan lebih ajaib lagi, pada usia 12 tahun Indra merekam album solo bertajuk Ayahku Sahabatku. Keajaiban terus berlanjut, karena tak lama kemudian pada 1982 dia memebentuk grup band bersama Jack semacam Nebula, Jack Lesmana Quartet, dan Children of Fantasy. Album semacam No Standing yang sangat diperbincangkan di Amerika oleh Majalah Jazz Down Beat tersebut lahir pada saat-saat yang digambarkan Indra sebagai ''musim buah'' itu. Setahun kemudian, didukung musikus asal Amerika, antara lain Charlie Hadden (bas), Airto Moreira (perkusi), dan Alberth Heath (dram), bocah yang terus beranjak dewasa itu melahirkan album For Earth and Heaven. Tentu Indra juga tertarik bermain bersama pemusik Indonesia semacam Gilang Ramadhan atau Fariz RM. Bersama Gilang, dia main dalam Exit Band, Krakatau, dan Java Jazz, sedangkan bersama Fariz, dia membangun kebesaran GIF. ''Para pemusik jazz memang bisa berganti-ganti pasangan. Itulah spirit jazz. Bebas bermain dengan siapa pun,'' kata Indra. Maka, tak perlu heran jika mendapatkan Indra bermain dalam band Jack & Indra Lesmana Quartet (1981), Children of Fantasy (1982), Nebula (1982), Women and Chlidren First (1983), Andromeda (1987-1988), Indra Lesmana Vision (1989), dan Indra Lesmana Reborn (2000). ''Dan kini dengan grup terakhir, saya sedang menyiapkan album Kilas Balik dan Reborn II,'' jelas ayah Eva dan Devo ini. Dia ingin melanjutkan sukses Reborn, sebab Reborn bagi dia adalah filosofi dan sebuah pencapaian penciptaan. ''Di babakan itu, saya menemukan arti kenapa saya main musik. Pada saat itu saya menyadari talenta Tuhan bermain musik bukan hanya agar saya bisa dapat uang, tapi bisa juga digunakan untuk membuat sesuatu yang berarti dan berharga bagi orang lain,'' jelas pria yang kini menjadi produser berbagai pertunjukan yang digelar di Studio PonPin, Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan ini. Begitulah, Indra memang tak berhenti memikir. Itu terlihat dari kegelisahan menghadirkan Kilas Balik yang bakal memuat nomor-nomor penting sepanjang mulai berkarya hingga sekarang. ''Berhenti memikir berarti tak akan berarti lagi, bukan,'' tandas Indra pelan. (Triyanto Triwikromo-72) | ||||