logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 16 September 2004 NASIONAL
Line

Polda Bentuk Jaringan Intelijen

  • Kapolda: Tim Sukses Harus Siap Kalah

DIALOG INTERAKTIF: Kapolda Jateng Irjen Chaerul Rasjid, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunarso, dan Gubernur Jateng Mardiyanto melakukan dialog interaktif kesiapan Jateng dalam pilpres dan cawapres putaran kedua menuju pemilu damai, di Kantor Kesbanglimas, semalam.(79)

SEMARANG- Menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden putaran II, pengamanan di wilayah Jateng semakin ditingkatkan. Selain itu, Polda Jateng telah membentuk tim jaringan intelijen.

Kapolda Jateng Irjen Pol Chaerul Rasjid menegaskan, pembentukan jaringan intelijen tersebut untuk percepatan pelaporan informasi kejadian. Juga dimaksudkan untuk ketepatan pengambilan langkah-langkah kebijakan pimpinan. ''Polda telah membentuk jaringan intelijen yang terdiri atas enam subsatgasus dan satu satgasus,'' ungkap Kapolda dalam dialog interaktif Kesiapan Jateng dalam Pilpres dan Wapres Putaran II Menuju Pemilu Damai di kantor Kesbang dan Linmas Jateng, semalam.

Acara dihadiri Gubernur Jateng H Mardiyanto, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Sunarso, Muspida, anggota DPRD, KPU Jateng, Panwas Jateng, serta tokoh masyarakat maupun pemuda dan mahasiswa.

Polda juga membentuk resimen mobil (resmob) untuk mengantisipasi kerusuhan tindak kejahatan atau kriminalitas khususnya menghadapi pilpres putaran II 20 September mendatang. Tim resmob terdiri atas 90 personel yang terbagi menjadi 15 unit. Masing-masing unit terdiri enam personel, satu peleton (30 personil), dan lima unit khusus dibentuk sebagai tim antiteror dan bom yang dilengkapi dengan senjata yang mendukung kinerja petugas kepolisian.

Selain itu, enam unit bersiaga di Polda Jateng, empat unit di Polwiltabes Semarang, dan masing-masing Polwil dan jajarannya memiliki satu unit.

Untuk melakukan antisipasi terhadap segala tindakan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan, Kapolda meminta kepada masyarakat, tokoh agama, tim sukses agar siap menerima kekalahan. ''Bila mana terjadi protes agar tidak mengganggu jalannya penghitungan suara. Pengerahan massa saat penghitungan suara harus dihindari, apalagi melakukan intimidasi terhadap calon pemilih,'' katanya.

TNI dan Polri Netral

Dia juga meminta semua masyarakat untuk ikut membantu dan mengawasi jalannya pemilu serta mengamankan dokumen atau surat suara pemilu. Ditekankan, keluarga besar Polri bersikap netral dalam pemilu mendatang. ''Tidak ada pengerahan dan penggalangan terhadap keluarga Polri untuk memihak capres-cawapres tertentu. Kalau ada kasus Polwil Banyumas itu karena bodohnya dan blunder bawahan menerjemahkan perintah atasan.''

Guna melihat kesiapan seluruh jajaran Polda Jateng, pada Jumat-Sabtu (17-18/9) akan dilakukan apel siaga. ''Apel siaga itu untuk menegaskan pula siapa akan berbuat apa,'' tandasnya.

Pangdam Mayjen Sunarso menyatakan tugas TNI adalah mem-back up Polri dalam pemilu. Dia berharap Polri tidak meminta bantuan. ''Artinya saya berharap Jateng tercipta kondisi yang aman.''

Dia menegaskan, bila ada anggota TNI yang tidak bersikap netral agar dicatat nama dan nomor NRP-nya. Tujuannya, supaya laporan yang disampaikan tidak asal tuduh.

Gubernur Mardiyanto yang mendapat jatah berbicara di sesi akhir mengungkapkan, segala persoalan yang kemungkinan muncul sebaiknya disikapi secara arif dan bijaksana. Dia mengajak kepada seluruh masyarakat supaya menyukseskan jalannya pemilu mendatang. Salah satu bentuk partisipasi masyarakat itu adalah tidak bersikap golput. (G1-83)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA