logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 September 2004 NASIONAL
Line

Mengenal Lebih Dekat Pondok Al Itqon

Baru Kali Ini Terima Tamu Kenegaraan

DIASPAL:Jalan menuju Pondok Pesantren Al Itqon, Jl Abd Rosyid, Bugen, Kelurahan Tlogosari Wetan, Pedurungan, Semarang Selasa (14/9) atau sehari menjelang kunjungan Wakil Presiden Hamzah Haz, mulai diaspal.(55t) - SM/Irawan Aryanto

KESIBUKAN tampak di halaman Pondok Pesantren Al Itqon, Tlogosari Wetan. Sejumlah pekerja memasang tenda, yang lain sibuk mengaspal jalan masuk menuju pondok. Petugas protokoler dan pasukan berseragam loreng mondar-mandir. Maklum, baru kali ini terima tamu Kenegaraan, yaitu Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz akan berkunjung ke pondok pimpinan KH Haris Shodaqoh SH itu, Rabu siang (15/9).

Saat bertamu di Pondok Al Itqon, Selasa (14/9), KH Ubaedulloh Shodaqoh SH, adik KH Haris Shodaqoh, mengungkapkan, baru kali ini Pondok Al Itqon menerima kunjungan tamu kenegaraan. Tak heran, para santri dan pimpinan pondok musti menyiapkan beragam keperluan untuk perhelatan tersebut.

''Maklum ini pondok kecil. Santrinya hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Jadi, jarang dikunjungi pejabat,'' tutur KH Ubaedulloh merendah.

Sepanjang perbincangan siang itu, baik dengan KH Ubaedulloh Shodaqoh SH maupun dengan KH Haris Shodaqoh SH, terasa kedua kiai itu sungguh terbuka dalam membagi wawasan. Perbincangan akrab pun mengalir bersama sejumlah santri yang kini mulai menapaki karier di kancah perpolitikan.

Di atas areal seluas 2,5 hektare itulah, putra-putra KH Shodaqoh membina 300-an santri yang bermukim dan ribuan santri tak mukim. Sejak 14 tahun silam, sepeninggal KH Shodaqoh yang wafat pada tanggal 3 Syawal tahun 1413 H, KH Haris memimpin Pondok Salafiyah Al Itqon. Sementara KH Ubaedulloh membina pendidikan formal, mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga madrasah aliyah keagamaan. Nama Al Itqon pun, tutur KH Haris, disitir dari nama kitab Al Itqon fi Ulumil Quran yang mengajarkan ilmu Quran dan hadis.

''Dulu saat dipimpin KH Shodaqoh, pondok ini bernama Al Irsyad. Namun kemudian saya ubah menjadi Al Itqon sebagai tengara agar pondok ini dapat mengajarkan ilmu Quran dan hadis kepada para santri,'' tutur KH Haris.

Moderat

Meski dikenal sebagai pengasuh pondok berhaluan Salafiyah, di mata para santri, KH Haris adalah seorang moderat. Seorang anggota DPRD Jateng yang pernah nyantri di Pondok Al Itqon bertutur, pada awal 1990-an pemikiran Islam modern mulai merambah para mahasiswa. Tak terkecuali Masruhan, alumnus IAIN Wali Songo, itu pun mengaku gandrung terhadap pemikiran Nurcholish Madjid.

''Saat berdiskusi dengan KH Haris, pemikiran Islam modern Cak Nur ternyata bukan barang baru bagi kiai. Semua pemikiran itu telah dipelajari Kiai dari berbagai kitab,'' ungkap Masruhan.

KH Haris memang dikenal terbuka terhadap beragam pemikiran. Tak jarang, mantan Ketua Rois Syuriah NU Kota Semarang dan mantan Ketua DPC PPP Kota Semarang itu terlibat perdebatan panjang dengan para santri atau sang adik, KH Ubaedulloh.

''Suatu ketika saya pernah berdebat tentang suatu pemikiran dari pagi sampai malam,'' seloroh KH Ubaedulloh.

Ketika disinggung soal diskusi dengan para santri, alumnus Pondok Lirboyo Kediri itu menjawab penuh semangat. Bagi KH Haris, berdebat wacana antara santri dan kiai sah hukumnya. Asal santri tetap takzim dan menempatkan diri sesuai dengan porsinya.

''Santri boleh salah, tetapi kiai jangan sampai keliru,'' ujar KH berkelakar.

Kemoderatan itu juga tercermin dalam kebebasan memilih perahu politik. Meski KH Haris dan KH Ubaedulloh mengaku sama-sama tak bisa menghindar dari kancah perpolitikan, keduanya memilih biduk yang berbeda. Jika KH Haris memilih aktif di PPP, sang adik justru memilih perahu PKB. Bagi keduanya, politik hanyalah jalan untuk kemaslahatan umat, bukan semata-mata untuk kepentingan golongan. Karena itu, tak masalah berbeda biduk, meski keduanya mengelola tempat pendidikan yang sama.

Meski aktif di partai, baik KH Haris maupun KH Ubaedulloh tak pernah memaksa santri untuk memilih partai tertentu. Lantaran tak pernah menyinggung soal politik dalam pengajian, ribuan jamaah dari berbagai golongan tak segan mendengarkan ceramah KH Haris setiap Ahad pagi selepas subuh. (Ninik D-58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA